
Abryal dan Almeda sudah rapi. Mereka berdua hendak menjalankan aktivitasnya hari ini. Dimana Almeda akan mengajar di sekolah. Sedangkan Abryal pagi ini ada jadwal mengajar di kampus. Setelah mengajar di universitas atau Perguruan tinggi, Abryal akan kembali melanjutkan aktivitas nya untuk pergi ke kantor di perusahaan yang telah ia dirikan.
Pagi ini terlihat pasangan suami istri itu sangat fresh dan lebih segar. Apalagi Abryal dengan model rambutnya yang lurus dan sedikit panjang dibiarkan basah karena keramas. Berbeda dengan Almeda yang pagi ini juga keramas dan mandi basah sudah ditutup dengan hijab nya. Tadi Abryal dengan penuh perhatian mengeringkan rambut Almeda dengan hairdryer. Perhatian kecil itu begitu membuat Almeda seperti seorang putri yang sangat dimanjakan oleh seorang pangeran.
Kini pasangan suami istri yang belum lama ini telah menikah itu keluar dari kamarnya bersama-sama dan berjalan mendekati abah Idris beserta ummi Salamah yang telah lebih dahulu berada di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi.
Abah Idris dan ummi Salamah saling pandang saat melihat Abryal mendekati mereka dengan rambut basahnya. Wajahnya terlihat sangat segar.
"Assalamu'alaikum, abah, ummi!" sapa Abryal yang masih menggandeng istrinya dengan mesra menuju kursi di ruangan makan itu.
"Wa'alaikum salam! Ayo kalian sarapan dulu! Ini tadi ummi sengaja bikin nasi uduk. Setelah bangun dan sholat subuh, ummi tidak bisa tidur lagi. Seperti biasa, ummi langsung mengambil pekerjaan rumah," ucap ummi Salamah.
__ADS_1
"Ummi, jangan terlalu capek-capek di rumah kami dong! Di rumah ini sudah ada bibi pembantu rumah tangga. Jadi ummi tinggal duduk manis saja dan tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah," kata Abryal.
"Ah, tidak capek kok! Hanya memasak saja. Bukannya memasak pekerjaan yang mudah. Lagipula ummi sangat suka memasak. Ayo dicoba nasi uduk buatan ummi. Ayo, Almeda kamu harus makan yang banyak supaya hari ini kamu lebih bersemangat beraktivitas," ucap ummi.
"Baik, ummi! Ini saya sudah coba masakan ummi! Maaf, kalau tadi habis subuh saya tidak membantu ummi di dapur. Tadi saya masih kecapekan dan tertidur lagi," kata Almeda. Hal itu membuat abah dan ummi saling berpandangan lalu melemparkan senyuman nya.
"Tidak apa-apa, nak! Kami tahu dan paham kok! Pasangan muda dan pengantin baru seperti kalian itu lagi senang-senangnya gituan. Apalagi abah sangat paham, Abryal itu modelnya seperti apa. Dia pasti akan membuat kamu kelelahan setiap malam," sahut abah vulgar.
"Benar begitu kan?" bisik abah pada Abryal sambil mendekati anak laki-laki nya yang sudah dewasa dan matang itu.
"Eh?" Abryal meringis saja saat abah nya menggoda dirinya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian habiskan sarapan nya dulu. Abah jangan mengganggu anak dan menantu kita dong! Abah ini seperti tidak pernah menjadi pengantin baru saja," sahut ummi sambil mencolek pinggang abah Idris.
"Kalau tadi malam kita tidak mencampurkan obat di dalam minuman Abryal dan Almeda, mungkin tadi malam mereka tidak akan gituan. Dan mungkin saja sampai sekarang mereka berdua belum membelah duren di malam hari bersama-sama," bisik abah Idris pada ummi Salamah.
Abryal dan Almeda saling berpandangan. Mereka merasa kalau abah dan ummi telah merencanakan sesuatu hingga mereka berdua semalam tidak bisa menolak gejolak dan hasrat yang membuncah.
"Setelah ini, kalian harus merencanakan bulan madu yah!" kata abah Idris.
"Baik abah! Tapi dua bulan ini aku masih sibuk dan mungkin saja Almeda sama halnya. Nanti kalau sudah liburan anak sekolah, kami baru melakukan perjalanan bulan madu. Benar begitu kan, Almeda?" sahut Abryal.
"Iya, mas! Aku ikut saja apa kata mas Abryal!" ucap Almeda seraya tersenyum malu-malu.
__ADS_1