CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 27


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


"Sakit mas!" keluh Almeda sambil menangis merasakan sakit.


"Bertahanlah, Almeda sayang! Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit," sahut Abryal sambil mengemudikan mobilnya.


Tentu saja Abryal merasakan kekhawatiran dan rasa panik itu saat melihat istrinya kesakitan bagian perut nya. Terlihat darah mengalir merembes ke pakaiannya. Darah itu diduga lantaran keluar dari daerah intinya akibat jatuh kepeleset tadi. Sedangkan usia kehamilan Almeda sudah memasuki bulan ke empat.


Darah segar keluar dari bagian rahimnya. Ini adalah kecelakaan. Saat Almeda bersemangat menyambut kedatangan suaminya dan menuruni tangga, Almeda tiba-tiba kepleset hingga menyebabkan terjadinya pendarahan. Dan saat ini Almeda dilarikan ke rumah sakit.


Di dalam mobil itu, ada mbak Ratna salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Abryal telah memegangi tangan Almeda. Seolah-olah memberikan kekuatan supaya rasa sakit yang diderita oleh Almeda bisa berkurang.


"Mas Abryal! Sakit!" keluh Almeda yang merasakan sakit di perutnya. Sedangkan Abryal semakin mempercepat menjalankan kemudinya.


"Sabar sayang! Ini sebentar lagi sampai. Mbak Ratna, tolong istriku!" sahut Abryal ikut panik dan mengkhawatirkan Almeda. Abryal tetap mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Hingga beberapa menit kemudian, Abryal segera menghubungi suster perawat di rumah sakit itu untuk membawa istrinya dengan menggunakan brankar. Almeda segera di bawa masuk ke ruangan IGD untuk mendapatkan tindakan secepatnya.


"Maaf, pak! Anda tidak diijinkan masuk!" cegah salah satu perawat saat melihat Abryal hendak ikut ke ruangan IGD setelah mengurus administrasi nya.


Abryal duduk menunggu di kursi tunggu bersama mbak Ratna. Dalam hati, Abryal berdoa semoga diberikan keselamatan untuk Almeda dan juga janin di rahim nya. Namun salah satu dokter memberikan kabar buruk bagi Abryal bahwasanya, janin yang ada di dalam rahim Almeda tidak bisa diselamatkan. Kini Almeda harus segera dibersihkan rahimnya.


"Astaghfirullah! Innalillahi wa Innaillaihi rojiun, astaghfirullah!" gumam Abryal dengan lemas menghadapi musibah itu.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Apa? Almeda keguguran? Astaghfirullah!" ucap ummi Salamah.


Abryal yang memberikan kabar duka pada ummi dan abah nya itu kembali sedih saat menyampaikan berita itu. Abryal tentu saja sangat sedih dengan kehilangan janin yang masih di dalam rahim istrinya itu.

__ADS_1


"Abryal! Di mana Almeda, nak!" tanya ummi Salamah.


"Dia masih di dalam kamarnya, ummi! Dia sangat sedih dengan musibah ini," jawab Abryal.


"Kalian harus bersabar yah, nak! Mungkin saja ini ujian bagi kalian berdua. Kamu berilah semangat pada Almeda istri kamu, Abryal. Supaya jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Lagipula semua ini terjadi karena musibah," ucap ummi Salamah.


"Baik, ummi! Ummi tidak kemari?" tanya Abryal.


"InsyaAllah, lusa ummi dan abah ke sana yah, nak! Hari ini ada doa bersama. Jadi di. pondok pesantren lagi ada acara," ucap ummi Salamah.


"Baik, ummi! Salam buat abah!" kata Abryal.


"Iya, nanti ummi sampaikan ke abah. Sekarang abah lagi ada banyak tamu," sahut ummi Salamah.


Abryal menyudahi panggilan keluarnya. Abryal kini kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani Almeda yang masih mengurung diri di dalam kamar. Tentu saja kehilangan bayi yang masih di dalam rahim sangat membuat sedih dan duka begitu dalam bagi Almeda. Apalagi mertua dan orang tua nya sangat mengharapkan kelahiran dari anaknya.


"Almeda, sayang! Sudah yah! Jangan bersedih dong sayang! Kata ummi, kita harus sabar dan mengikhlaskan semuanya. Semoga setelah ini kita akan memperoleh rezki lagi dan dipercaya menjadi orang tua yang memiliki anak. Kamu yang sabar yah, sayang!" ucap Abryal sambil mengusap kepala Almeda.


"Tidak, sayang! Semua ini terjadi karena musibah. Bukan kamu yang dengan sengaja. Semua ini adalah ujian bagi kita semua sayang," kata Abryal.


"Tapi mas!" sahut Almeda. Abryal kembali merengkuh Almeda dan memeluknya dengan penuh kelembutan.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Jadi ini rumah kamu, yah?" tanya Ridwan.


"Alhamdulillah! Oh iya, mas mau minum apa?" sahut Miranda.

__ADS_1


"Rumahnya sangat nyaman. Walaupun tidak cukup besar," kata Ridwan.


"Aku tinggal di rumah ini kurang lebih baru lima bulan ini. Setelah memutuskan untuk menjadi mualaf. Aku keluar dari rumah orang tua ku dan memutuskan tinggal di rumah ini. Rumah yang aku beli dari uangku sendiri dengan bekerja di perusahaan AA Grup," cerita Miranda.


"Kalau kamu tidak bercerita soal kamu yang seorang mualaf, mungkin aku mengira kalau kamu menjadi seorang muslim sudah sejak dahulu," ucap Ridwan.


"Hem, sekarang sudah mantap menjadi muslim, mas!" kata Miranda.


"Apakah karena laki-laki itu yang semakin membulat kan tekad kamu berpindah keyakinan? Menjadi mualaf walaupun orang tua maupun keluarga kamu menentangnya?" ucap Ridwan. Sukses pernyataan Ridwan membuat Miranda terkejut bukan main. Lalu Miranda tersenyum sinis.


"Mungkin awalnya lantaran CEO tampan dan sholeh itu. Aku pikir, dia pasti mau menikahi aku walaupun aku dijadikan istrinya yang kedua. Tapi nyatanya, tetap saja dia tidak mau menikahi aku. Walaupun aku telah berpindah keyakinan. Tapi sekarang, aku benar-benar meluruskan niat dan hati untuk berhijrah. Aku serius mengimani kepercayaan yang aku pilih sekarang,"cerita Miranda.


"Aku ikut senang mendengarnya. Semoga tetap istiqomah yah!" sahut Ridwan.


"Aamiin! Semoga sampai ajal memisahkan dari badan. Aku tetap mengimani kepercayaan dan keyakinan ini," ucap Miranda.


Saat ini Ridwan berada di rumah Miranda. Tentu saja kedatangan Ridwan mengejutkan Miranda. Padahal Miranda tidak memberikan alamat rumah nya. Namun diam-diam Ridwan telah mengikuti Miranda saat pulang dari tempat nya bekerja.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Almeda! Sabar yah, nak! Semua ini adalah ujian. Semoga kita semua lulus dalam menghadapi ujian dari musibah ini," ucap ummi Salamah.


"InsyaAllah, ummi!" sahut Almeda.


Saat ini abah dan Ummi sudah berada di rumah Abryal dan Almeda. Setelah acara besar di pondok pesantren selesai, keduanya segera terbang ke kota di mana Abryal dan Almeda tinggal.


Musibah gugurnya janin di rahim Almeda membuat ummi dan abah ingin datang kembali mengunjungi anak dan menantunya itu. Mereka harus memberikan semangat dan kekuatan lagi bagi Almeda supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena sesuatu yang luput dari dirinya.

__ADS_1


Harapan segera menggendong bayinya sekarang ini tertunda karena harus menghadapi keguguran. Walaupun sempat menyalahkan dirinya sendiri, Almeda akhirnya bisa ikhlas kehilangan calon bayinya.


"Semoga Alloh SWT akan memberikan gantinya. Semoga setelah ini, aku bisa hamil lagi. Aku ingin melihat mertuaku, orang tua ku dan juga suamiku penuh kebahagiaan dengan kehamilan ku yang berikutnya. InsyaAllah!" batin Almeda kini penuh semangat serta doa dan harapan.


__ADS_2