
"Bagaimana, Miranda? Apakah kamu bersedia menerima pinangan dari aku? Kita menikah dan mulai menjalani kehidupan rumah tangga bersama. InsyaAllah aku bisa membuat kamu bahagia. Berusaha menjadi imam kamu, membimbing kamu sesuai pedoman ajaran agama kita," ucap Mohammad Ridwan serius. Kalau sudah seperti ini Mohammad Ridwan benar- benar terlihat seperti pemimpin yang memiliki kharismatik. Dengan malu-malu Miranda menganggukkan kepalanya. Itu artinya Miranda mau menikah dengan Ridwan. Terlihat senyuman di kedua sudut bibir Ridwan. Ada perasaan lega dan bahagia bahwasanya Miranda mau diajak menikah dengan Ridwan.
"Tapi kakak jelas-jelas sangat tahu bukan? Aku ini seorang mualaf. Bahkan aku sampai sekarang belum diterima di keluargaku lagi lantaran aku meninggalkan ajaran yang lama. Siapa yang akan menjadi wali nikah aku jika aku menikah, kak?" ucap Miranda mulai ragu.
"Jika semua tidak ada yang memenuhi syarat nya, kita masih bisa menikah dengan bantuan wali hakim. InsyaAllah akan terpenuhi syarat nya," kata Ridwan.
"Tapi, bagaimana pun juga kita harus memberikan kabar bahagia ini pada keluarga dan orang tua kamu, Miranda. Mereka yang sudah membesarkan kamu. Masa aku seenaknya mengambil kamu dan menikahi kamu tanpa melupakan jasa dan pengorbanan mereka. Walaupun berbeda, namun kita tetap harus menghormati mereka," urai Ridwan dengan serius.
Miranda tersenyum ketika Ridwan berkata demikian. Seolah ini titik terang untuk membukakan hati Miranda untuk berani menghadapi keluarga dan orang tua nya. Ini adalah jalan pilihan Miranda. Diterima atau tidak oleh keluarga nya, itu urusan belakangan. Yang terpenting Miranda harus berani datang dan meminta maaf kepada mereka. Karena ini semua sudah jalan pilihan yang sudah dipilih dan diyakini oleh Miranda.
"Jujur, aku takut menghadapi mereka kak," sahut Miranda.
"Jangan takut! Aku akan menemani kamu sekaligus minta ijin untuk menikah dengan kamu. Semoga mereka bijaksana dalam menyikapi masalah ini," kata Ridwan.
__ADS_1
"Aamiin," sahut Miranda.
"Yang penting kamu siap kan jika harus menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun? Kamu tetap mau menikah dengan aku dan tetap teguh dalam pendirian kamu menjadi seorang muslimah?" ucap Ridwan.
"InsyaAllah, siap kak!" kata Miranda.
"Bagus! Sekarang aku ingin memperkenalkan kamu pada keluargaku yah. Kamu harus mengenal mereka. Karena mereka akan menjadi orang tua kamu ketika kita sudah menikah. Demikian hal nya orang tua kamu, juga menjadi orang tuaku. Kita harus berkewajiban menghormati, menyayangi dan perhatian dengan mereka," kata Ridwan panjang lebar.
"Hehehe jangan takut dong! Kamu pelan-pelan akan paham sifat, watakku. Mana yang aku suka dan mana yang tidak aku sukai. Termasuk selera aku, hehe," kata Ridwan.
"Aku masih perlu bimbingan dari kamu, kak!" ucap Ridwan.
"Bimbingan belajar? Haha," sahut Ridwan.
__ADS_1
"Ih, kakak ini aku serius!" kata Miranda dengan cemberut.
"Iya, kita sama-sama belajar. Kita harus saling terbuka dan selalu nasihat menasihati dalam kebaikan," ucap Ridwan.
Miranda tidak pernah mengira jika sekarang ini jodohnya semakin dekat. Dirinya tentu tidak pernah menduga dengan Mohammad Ridwan lah akhirnya dirinya dipinang.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Almeda sayang? Kenapa kamu pucat sekali?" tanya Abryal panik.
"Enggak tahu mas! Rasanya mual dan pusing," jawab Almeda.
"Kita periksa ke dokter dulu yah, sayang!" ucap Abryal masih mode khawatir karena istrinya benar- benar terlihat pucat
__ADS_1