CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 13


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar Abryal. Kedua pasangan suami istri itu sama-sama merasakan sesuatu yang aneh dalam diri mereka. Namun keduanya masih sama-sama menahan segala hasrat yang sudah memberontak.


Saat Abryal berjalan mendekat ke arah Almeda yang masih berdiri mematung. Almeda mundur satu langkah ke belakang. Abryal maju satu langkah lagi, Almeda pun mundur lagi ke belakang. Itu dilakukan sampai Almeda tidak bisa mundur lagi lantaran mentok di meja di sebelah ranjang big size.


Kini kedua netra mereka beradu, dan kedua mata Almeda terlihat memejamkan bola matanya. Sepertinya Almeda telah siap jika harus menunaikan kewajiban nya. Almeda harus pasrah jika Abryal menuntut haknya sebagai suami. Namun Saat mata itu terpejam dan Almeda telah siap menerima sesuatu yang dipikirkan Almeda. Abryal berujar.


"Aku harus pergi! Sebelum sesuatu terjadi diantara kita. Bukankah kamu belum siap jika melakukan itu dengan ku? Demikian hal nya aku," ucap Abryal seraya mengambil kunci mobilnya yang sejak tadi dia letakan di atas meja. Benar! Meja di mana letaknya ada di belakang Almeda.


Padahal irama jantung Almeda sudah tidak menentu. Bahkan gejolak nya semakin membuncah. Mungkin apa yang dirasakan oleh Almeda dengan Abryal sama halnya. Gejolak hasrat yang memberontak. Siap meletus kapanpun. Apalagi abah Idris dengan sengaja memberikan obat yang membangkitkan stamina dan data seksualitas pada Abryal dan Almeda.


Belum juga irama jantung keduanya mulai teratur, Almeda menarik lengan Abryal hingga keduanya saling dekat. Mereka begitu dekat dan mengikis jarak. Kembali kedua netra mereka saling berpandangan. Tangan Almeda memeluk pinggang Abryal hingga Abryal sangat sulit melawan gejolak nya yang sejak tadi semakin meledak tidak karuan.

__ADS_1


"Jangan pergi! Temani aku malam ini, mas! Aku, aku, aku takut!" ucap pelan Almeda.


"Eh?" Abryal semakin berdetak kencang jantungnya. Entah siapa yang menuntun kedua nya semakin erat dan dekat. Hingga kedua bibir mereka saling menempel. Kedua tubuh mereka menempel lebih erat. Tangan Almeda masih melingkar di pinggang Abryal. Hingga bibir ketemu bibir itu semakin lama semakin menuntut lebih dari sekedar menempel dan mengecup. Keduanya sama-sama terbakar api gejolak yang membuncah. Sama-sama menginginkan ter luapkan segala rasa yang aneh menggerogoti jiwa.


"Almeda!" gumam Abryal. Kini Abryal mulai nekat menuntun Almeda ke atas peraduan. Direbahkan dengan perlahan tubuh indah bak biola itu ke atas peraduan. Hijab yang sejak tadi menutupi rambut dan juga kepala Almeda kini sudah tidak lagi melekat di sana. Demikian juga halnya baju gamis yang longgar itu telah terlempar jauh dari tubuh ramping Almeda. Abryal telah membuka seluruh penutup tubuh Almeda hingga tak bersisa. Seperti halnya Almeda yang kini telah polos tak berbusana, Abryal telah melucuti habis semua yang tadi dia kenakan.


Di atas kasur lebar dan empuk di dalam kamar itu, Abryal mulai melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang suami yang harus memberikan nafkah batin. Sudah sekian lama sejak mereka sah menjadi pasangan halal suami istri, baru sekarang ini terjadi sudah. Abryal telah menjadikan Almeda sah menjadi seorang wanita dan istri seutuhnya. Demikian juga halnya Abryal, di malam itu untuk pertama kalinya dirinya melakukan hubungan lawan jenis. Dan sekarang ia lakukan pada wanita yang telah menjadi istrinya walaupun mereka menikah lantaran perjodohan kedua orang tua mereka masing-masing yang menikahkan keduanya.


Kegiatan dewasa yang selayaknya dilakukan bagi pasangan suami istri itu kini telah dilakukan oleh Abryal. Tanpa belajar pun, Abryal sudah sangat ahli untuk melakukan kegiatan di atas ranjang itu. Tidak perlu kursus untuk pintar dalam mempraktikkan olahraga panas di atas peraduan itu. Semua lantaran insting dan sifat alamiah bisa menggerakkan penyatuan lawan jenis itu. Saling memberi dan menerima. Tidak egois hanya untuk mencapai kepuasan diri sendiri. Harus memperhatikan pasangan supaya keduanya bisa mencapai titik puncak kenikmatan yang hendak dicari dalam kegiatan ritual suami istri itu.


Abryal berbaring di sebelah Almeda setelah menuntaskan kegiatan itu. Dikecup nya dengan lembut dahi Almeda. Hingga keduanya sama-sama tersenyum malu-malu dengan kegiatan yang sudah mereka lakukan.

__ADS_1


"Apakah kamu menyesal, Almeda?" tanya Abryal.Almeda tersenyum malu-malu pada akhirnya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Abryal.


"Kalau saja sebelum ini kita mengetahui bahwasanya kegiatan di atas peraduan ini rasanya luar biasa nikmat, mungkin kita tidak akan menunda-nunda nya lagi sampai sekarang," ucap Abryal. Sukses perkataan Abryal langsung mendapatkan cubitan dari Almeda di pinggang nya.


"Maaf, selama ini aku belum yakin jika kamu adalah jodohku! Aku masih belum menerima atas perjodohan ini. Maafkan aku, Almeda!" kata Abryal.


"Tidak apa-apa, mas! Aku ridho, mas! Pada akhirnya, kamu menerima aku sebagai istri kamu dengan segala kekurangan ini," sahut Almeda. Abryal mengusap puncak rambut Almeda setelah mengecup puncak kepala nya karena sejak tadi Almeda tenggelam di bawah ketiak Abryal.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Semoga Abryal bisa menjadi suami yang baik bagi Almeda, yah Abah!" ucap ummi Salamah.

__ADS_1


"Aamiin! Abah yakin, saat ini mereka telah melakukan kegiatan selayaknya pasangan suami istri pada umumnya, ummi!" sahut abah Idris.


"Semoga saja, abah! Ummi rasanya sudah tidak sabar ingin memiliki cucu yang lucu anak-anak keturunan mereka," ucap ummi Salamah.


__ADS_2