CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 32


__ADS_3

"Abryal, ini ada Miranda teman kamu. Sudah lama menunggu kamu. Oh iya Almeda! Kamu bisa langsung istirahat yah, biar Abryal yang menemui tamunya. Ummi sudah menyiapkan jamu untuk kamu. Jangan lupa nanti diminum yah, Almeda," ucap ummi Salamah.


"Eh, em baik ummi! Mas, aku langsung ke kamar dulu yah! Sudah lengket badanku, mau mandi dulu," ucap Almeda.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Miranda.


"Aku akan mengatakan semuanya pada Almeda, Suka atau tidak suka dia harus menerima kenyataannya." kata Abryal sambil menghembuskan napas berat, ini tidak akan semudah saat diucapkan.


"Kalau Almeda gak mau pisah gimana?" sahut Miranda.


"Dia harus siap menerimamu sebagai madu." kata Abryal menjawab dengan tegas.


Miranda terdiam, apa yang dikatakan Abryal benar-benar tidak masuk akal. Menjadi istri kedua bukanlah keinginannya. Miranda ingin menjadi wanita dan istri satu-satu nya bagi Abryal.


"Kenapa?" tanya Abryal melihat perubahan raut wajah Miranda.


"Aku tidak mau jika harus hidup satu atap dengan wanita lain. Bahkan berbagi suami. Ini tidak akan mungkin aku mau jika kamu membagi-bagi kasih sayang dan perhatian kamu pada aku dan Almeda. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus bisa menceraikan Almeda. Kamu harus memaksa Almeda supaya rela diceraikan oleh kamu. Setelah itu baru aku akan menikah dengan kamu, Abryal," kata Miranda sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Abryal.

__ADS_1


Bahkan bibir itu dengan enak dan leluasa mencium bibir Abryal tanpa merasa bersalah dan memikirkan dosa. Wanita yang baru saja berpindah keyakinan itu, bahkan rela merubah penampilan nya dengan mengenakan hijab. Tapi tingkahnya tidak menunjukkan bahwasanya dirinya harus menjaga sikapnya sebagai seorang muslimah.


"Miranda! Jangan lakukan ini! Bahkan kita belum menikah dan halal. Ini dosa Miranda!" ucap Abryal.


Sekuat tenaga Abryal berusaha menahan gejolak dan hasratnya dengan godaan Miranda. Bahkan bagian dada Miranda yang membusung itu sangat lekat melekat ke bagian dada bidang Abryal. Itu sangat empuk dan nyaman. Rasanya Abryal tidak akan mudah menolak saat digoda seperti itu. Bahkan bibirnya semakin dimainkan oleh Miranda. Tangan nya pun bergerilya ke bagian pangkal paha nya. Abryal sesaat terlena meresapi setiap sentuhan indah itu. Bahkan beberapa hari ini, pasca keguguran istrinya Almeda, Abryal dan Almeda belum memulainya lagi kegiatan instens itu.


Miranda tersenyum seringai. Dia tentu saja sangat paham apa yang diinginkan seorang pria yang sudah lama tidak gituan bersama dengan seorang wanita atau istrinya. Miranda semakin tidak perduli dengan dosa. Hingga menuntun Abryal ke atas peraduan. Miranda mendorong Abryal hingga jatuh telentang di kasur empuk kamar itu.


"Aku tidak takut dosa, Abryal! Yang aku takutkan adalah jika kembali tidak bisa memiliki kamu. Di saat aku telah memilih mengikuti ajaran kamu, dan meninggalkan keyakinan ku, ternyata kamu telah menikah dengan Almeda. Itu sangat membuatku kecewa. Padahal saat itu aku sangat yakin dengan perasaan kamu. Demikian juga dengan perasaan ku sendiri yang nyata-nyata sudah jatuh hati dengan kamu. Dan sekarang aku tidak perduli dosa dan ini sebuah kesalahan jika aku menggoda mu dengan ini," ucap Miranda dengan melepaskan satu persatu kain yang menutupi auratnya.


Jangan lupakan Abryal yang matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan indah milik Miranda. Bahkan lekukan tubuh Miranda begitu sangat menggoda. Hingga mata itu terpejam menikmati segala keindahan dan kenikmatan yang sesaat. Abryal tenggelam dalam perbuatan zina yang seharusnya jangan ia lakukan. Seharusnya ini ia lakukan setelah menikahi Miranda. Tapi bagi Miranda, sekarang atau nanti adalah sama saja. Sekarang ini dia tidak ingin melepaskan Abryal. Dia akan mengikat Abryal hingga tidak akan lagi berubah pikirannya atas keputusan untuk memperistrinya. Tentu saja setelah menceraikan Almeda.


Di saat itulah Almeda membuka pintu kamar itu dan mendapati suaminya telah melakukan pengkhianatan itu bersama dengan Miranda. Teriakan Almeda membuat Abryal mendorong kuat Miranda yang sudah mengukung dirinya.


"Almeda! Tunggu Almeda! Aku akan menjelaskan semuanya padamu!" sahut Abryal yang hendak turun dari tempat tidur itu. Namun Miranda kembali menahannya lengan Abryal hingga Abryal tersungkur di atas peraduan. Di saat itulah Miranda kembali mengukungnya.


"Sudahlah, Abryal! Biarkan saja jangan dikejar Almeda. Bukankah kamu mau menceraikan Almeda? Ini akan menjadi alasan yang kuat supaya kamu bisa menceriakan Almeda. Dan aku yakin setelah Almeda melihat kita seperti ini, Almeda dengan rela hati menerima perceraian ini," ucap Miranda.


Sedangkan sekarang ini Almeda menangis tersedu-sedu. Keringat di dahinya kembali bercucuran. Dia akhirnya terbangun saat itu juga setelah kembali mendapati mimpi buruk tentang suaminya yang ingin menceraikan dirinya. Bahkan suaminya telah melakukan pengkhianatan dan berselingkuh dengan Miranda.

__ADS_1


"Mas Abryal! Di mana mas Abryal? Apakah masih menemani mbak Miranda ngobrol? Apakah mbak Miranda belum pulang sejak tadi?" gumam Almeda yang kini mulai turun dari tempat tidur nya untuk mengambil air minum yang ada di dalam kamar nya.


"Kenapa sudah beberapa kali aku bermimpi buruk tentang mas Abryal? Apakah semua karena aku yang stres setelah keguguran kemarin? Sehingga aku menjadi takut akan kehilangan mas Abryal jika meninggalkan aku karena belum bisa memberi nya keturunan?" pikir Almeda.


"Sayang! Loh, kamu bangun? Tadi aku sudah mendapati kamu tertidur. Jadi aku tidak berani membangunkan kamu," kata Abryal yang tiba-tiba masuk dari kamar utama itu.


"Iya mas! Tadi rasanya ngantuk banget setelah minum jamu buatan ummi. Apakah mbak Miranda sudah pulang mas?" ucap Almeda.


Miranda sudah pulang sejak tadi. Aku habis ngobrol panjang lebar dengan abah kok. Membahas soal pembangunan dan renovasi pondok pesantren. Mungkin akan ada penambahan kamar untuk santri dan ruang aula," cerita Abryal.


"Oh, aku kira mbak Miranda masih di sini dan belum pulang," ucap Almeda. Abryal tersenyum seraya mendekati istrinya itu. Dengan lembut membelai rambut istrinya.


"Kenapa bangun? Apakah mimpi buruk lagi?" tebak Abryal. Kembali Almeda mengangguk pelan lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Aku takut kehilangan kamu, mas!" ucap Almeda manja.


"Asyik! Rasanya bahagia banget jika kamu selalu mengkhawatirkan aku. Apalagi dicemburuin oleh kamu. Itu artinya kamu sangat mencintai aku, sayang!" kata Abryal seraya meraih dagu Almeda lalu dengan lembut mengecup bibir mungil itu. Almeda memejamkan matanya menikmati kecupan lembut itu.


"Sudah siap, memulai pertempuran itu?" bisik Abryal.

__ADS_1


Almeda tanpa banyak bicara mendorong Abryal hingga telentang di atas peraduan. Kali ini Almeda ingin mendominasi dan mengukung Abryal. Tentu saja mimpi buruk yang dilakukan oleh Miranda akan Almeda praktek kan pada suaminya. Jangan sampai suaminya direbut oleh wanita lain dan penggoda seperti Miranda. Wlaupun masih dalam mimpi. Ini tidak boleh terjadi.


"Almeda?" gumam Abryal dengan tersenyum saat mendapati istrinya nakal berada di atas nya.


__ADS_2