
"Jadi benar, kalau sekarang ini Almeda baru- baru ini telah mengalami keguguran? Hem, bagus lah kalau begitu! Ini waktu nya untuk kembali mendekati Almeda. Mungkin saja aku bisa meminta bantuan dari Miranda. Bukankah Miranda selama ini juga mencintai Abryal atau suaminya Almeda? Hem, baiklah! Saatnya merebut kembali kekasihku. Aku yakin kalau Almeda sebenarnya masih menyukai ku. Ini persoalan perjodohan bukan?" gumam Mohammad Ridwan yang saat ini sedang berada di ruang kerja nya.
Mohammad Ridwan kini telah mencoba menghubungi Miranda. Dan kebetulan saja Miranda langsung menjawab panggilan keluar dari Mohammad Ridwan. Sehingga keduanya telah melakukan perbincangan melalui sambungan di handphone nya.
"Hah, kenapa kak Ridwan minta bantuan kepadaku?" sahut Miranda saat Ridwan mengatakan niatnya pada Miranda melalui sambungan di handphone nya.
"Karena kamu wanita yang pernah dekat dengan Abryal sebelum dia menikah dengan Almeda. Tolong, Miranda! Kita bisa saling membantu bukan? Aku sangat mencintai Almeda sejak dahulu. Dan mungkin saja Almeda demikan halnya. Karena perjodohan itulah, aku rasa mau tidak mau, Almeda menerima perjodohan dari orang tua mereka. Ini seperti pernikahan karena ada tujuan bisnis juga untuk membesarkan nama kedua pondok pesantren milik kedua orang tua mereka masing-masing," urai Ridwan.
"Tapi Ridwan? Aku takut jika harus kembali berharap. Sedangkan aku sudah beberapa kali mencobanya untuk mendekati Abryal. Dan Abryal tetap menolak aku, Ridwan," ucap Miranda.
"Kamu harus mendekati ummi atau abah Abryal supaya mendapatkan simpati mereka. Dalam ajaran agama kita, seorang laki-laki bisa menikahi wanita yang lebih dari satu. Jika Almeda sudah lama tidak juga mendapatkan keturunan, kamu akan memiliki kesempatan itu. Ummi dan abah tentu sangat mengharapkan cucu. Apalagi yang aku dengar, Almeda baru-baru ini telah mengalami keguguran. Dia butuh waktu untuk kembali hamil atau mengandung lagi. Di saat kekosongan ini, kamu masuk dan berusaha mengambil simpati pada orang tua Abryal. Kebetulan saat ini beliau ada di kota ini untuk mengunjungi mereka," ucap Ridwan panjang lebar.
__ADS_1
"Hem, kamu minta aku untuk membantu kamu supaya kamu memiliki kesempatan bisa dekat kembali dengan Almeda. Bagaimana dengan kamu, kak Ridwan? Apa yang akan kamu. lakukan untuk membantu ku?" sahut Miranda.
"Aku sangat paham, Almeda. Dia tidak akan menerima jika suaminya menikah kembali. Aku pastikan Almeda minta cerai jika orang tua mereka kembali menyuruh Abryal untuk menikah. Walaupun Almeda sangat paham betul ilmu agama, namun dalam prinsipnya ia akan menjadi istri dan wanita satu-satu nya bagi suaminya. Almeda tidak akan mampu dan sanggup jika menerima kalau harus berbagi suami dengan wanita lain atau madu nya. Sebelum Almeda menjadi istri Abryal, dahulu aku dan Almeda pernah berikrar janji. Jika kelak kami menikah, aku dan dia akan setia sampai maut memisahkan kami. Tapi saat kemarin aku bertemu dengan Almeda setelah kami terpisahkan, Almeda telah menjadi istri Abryal dan dia lah yang mengingkari janji itu," cerita Ridwan panjang lebar.
"Jadi antara kamu dengan Almeda dahulu memang saling mencintai?" sahut Miranda.
"Benar! Aku pikir karena perjodohan dari kedua orang tua mereka itu, Almeda sudah tidak bisa menolak lagi. Mau tidak mau, mereka berdua harus menikah. Di saat itulah, aku rasa mereka berdua baru sama-sama saling belajar mencintai dan menerima satu dengan yang lainnya," cerita Ridwan.
Cukup. lama Miranda terdiam memikirkan dan mempertimbangkan semua. Sungguh hati kecilnya masih berharap untuk bisa menikah dengan Abryal. Pria idola nya yang mampu memikat dirinya.
"Hem, baiklah! Bismillah, Ridwan! Aku akan berusaha mengambil hati kedua orang tua Abryal. Tapi aku tidak yakin jika Almeda mau bercerai dengan Abryal," ucap Miranda.
__ADS_1
"Jangan khawatir! Soal itu, sudah menjadi urusan ku," sahut Ridwan akhirnya.
🌼🌼🌼🌼🌼
"Oh nama kamu Miranda, teman dekat Abryal di tempat kerjanya? Tapi Abryal belum pulang, tuh. Mungkin langsung menjemput istrinya, Almeda di sekolah," ucap ummi Salamah yang saat ini masih berada di rumah utama Abryal dan belum kembali ke pondok pesantren yang berada di kampung.
"Saya bisa menunggu sampai Abryal pulang kok, tante!" sahut Miranda.
"Loh kok tante sih? Panggil saja ummi seperti Abryal dan Almeda memanggil itu pada ummi," ucap ummi Salamah dengan tersenyum lebar.
Ummi diam-diam sangat terpesona dengan keanggunan yang dimiliki oleh Miranda. Apalagi sekarang, Miranda penampilan nya jauh berubah daripada sebelumnya. Dahulu Miranda suka berpakaian minim tapi sekarang ini Miranda telah mengenakan pakaian longgar atau busana muslim setelah Miranda memutuskan untuk menjadi mualaf.
__ADS_1
"Em ummi, maaf! Apakah ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Miranda.
"Tidak, tidak, tidak ada kok! Kamu sangat cantik sekali! Dan juga kamu seperti nya sangat perhatian dengan putra ku, Abryal!" ucap ummi Salamah. Sukses membuat Miranda merasa satu langkah menuju kesempatan emas itu.