CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 40


__ADS_3

"Kamu tahu kan, kenapa ummi dan abah menyuruh kamu ke sini. Menyusul suami kamu di pondok? Karena Abryal akan kami jodohkan dengan Maisaroh. Abryal akan menikah dengan Maisaroh. Sebagai seorang istri dan wanita kamu harus mengikhlaskan suami kamu menikah kembali. Ini artinya kamu memberikan kesempatan pada wanita lain untuk merasakan kebahagiaan seperti yang kamu rasakan dengan Abryal," ucap abah Idris.


Seperti petir di siang bolong, Almeda mendengar ucapan dari abah Idris. Almeda menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah tua abah Idris yang keriput. Almeda takut jika ketahuan kalau bola matanya sudah berkaca-kaca lantaran merasakan sedih. Sekuat tenaga Almeda menahan supaya air matanya tidak jatuh di pipi nya.


"Almeda! Tenangkan diri kamu, nak! Semuanya demi kebaikan kamu juga. Dengan adanya Maisaroh, tugas-tugas kamu sebagai seorang istri lebih ringan. Maisaroh dia gadis yang baik. Dia pasti bisa membantu kamu dalam mengurus, mendidik anak-anak Abryal. Selain itu pekerjaan rumah pun semakin ringan," sambung ummi Salamah.


"Apa? Bukankah di rumah sudah ada bibi yang membantu memasak, membersihkan rumah dan juga menjaga anak-anak ku? Tanpa Maisaroh pun urusan rumah bisa diselesaikan. Ini apa maksudnya abah dan ummi?" batin Almeda. Rasanya dirinya hendak protes. Tapi bibirnya kelu dan tidak bisa berkata-kata.


"Seorang laki-laki bisa menikah beberapa kali. Menikah dengan dua, tiga atau empat istri. Kamu pasti paham tentang ini kan, nak?" ucap abah Idris. Almeda masih diam membisu. Namun hatinya sudah ingin menangis dan memberontak.


"Hah? Dua, tiga atau empat istri? Kenapa abah tidak nikah lagi? Kenapa hanya ummi Salamah saja yang dinikahi oleh abah? Lalu kenapa abah justru menyodorkan wanita lain lagi untuk dinikahi oleh suami ku? Apa ini tidak salah?" kembali Almeda bertikai dengan hatinya.


Gemuruh jiwa nya ingin memberontak dengan keputusan mertuanya itu. Namun dirinya pun juga menikah dengan Abryal lantaran perjodohan. Disaat dirinya dengan Abryal sudah hidup damai dan tenang dalam rumah tangga nya. Kenapa mereka membuat huru hara dengan menghadirkan wanita lain di istana rumah tangga nya.


"Almeda! Bagaimana nak? Kamu setuju dan memberikan ijin kalau suami kamu menikah lagi kan?" kembali abah Idris menegaskan. Almeda mendongak. Dia melihat di ruangan itu ada abah Idris, ummi Salamah, Abryal dan juga Maisaroh.


"Bagaimana dengan mas Abryal sendiri? Apakah mas Abryal menyetujui perjodohan ini? Menikah dengan Maisaroh?" sahut Almeda.


"Tentu saja Abryal menyetujuinya. Dia anak abah dan ummi yang tidak pernah membantah keinginan orang tuanya. Apalagi ini menguntungkan bagi Abryal sebagai seorang laki-laki," kata abah Idris. Almeda melihat ke arah suaminya. Abryal diam seribu bahasa. Suaminya itu tidak berkata-kata.


"Jika mas Abryal menikah dengan Maisaroh, lebih baik saya mundur saja. Saya lebih baik menyerah dari pernikahan kami yang sudah hampir tujuh tahun kami menjalani biduk rumah tangga. Saya akan meminta cerai mas Abryal. Maaf!" ucap Almeda dengan suara bergetar. Sukses ucapan Almeda itu membuat terkejut abah, ummi, Abryal dan juga Maisaroh. Abryal langsung menatap ke arah istrinya. Wanita yang sudah ia nikahi dan memberikannya tiga anak yang lucu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Almeda! Jangan minta cerai padaku, Almeda! Aku tidak mau!" sahut Abryal tidak kalah bergetarnya suaranya. Almeda sudah tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya luruh sudah dan jatuh di pipinya yang halus mulus. Tiba-tiba Maisaroh berujar yang membuat orang yang berada di ruangan tertutup itu semakin dibuat terkejut.


"Maaf, abah ummi! Saya tidak mau menikah dengan mas Abryal. Apalagi mas Abryal sudah memiliki istri dan tiga anak," ucap Maisaroh. Ucapan Maisaroh benar-benar menusuk abah Idris dan ummi Salamah.


"Lagipula bukan cita-cita saya untuk menjadi istri kedua. Saya seorang gadis muda yang masih menjaga kesucian Saya. Saya pikir, bukan hal sulit untuk mendapatkan calon suami yang masih single atau belum menikah," sambung Maisaroh. Ucapan Maisaroh seperti merendahkan perjodohan itu. Namun maksud Maisaroh supaya abah Idris dan ummi berhenti memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan dirinya dengan Abryal. Yang jelas-jelas Abryal sebenarnya tidak menghendaki perjodohan itu.


Abah Idris dan ummi Salamah menatap dengan tajam ke arah Maisaroh. Mereka sangat marah dengan ucapan Maisaroh yang tajam seperti silet.


"Maafkan aku, mbak Almeda! Maafkan aku mas Abryal. Kalian bisa melanjutkan dan mempertahankan rumah tangga kalian. Jangan ada perceraian. Perceraian sendiri sangat dibenci oleh Tuhan," kata Maisaroh.


"Abah ummi! Maaf, saya telah lancang berbicara. Mohon maaf lahir batin jika ucapan saya menyinggung abah dan ummi. Saya mohon diri. Dan ini keputusan Saya. Saya tidak ingin meneruskan perjodohan ini dengan mas Abryal," ucap Maisaroh akhirnya.


Dalam diam abah Idris dan ummi Salamah tidak mampu berbicara Maisaroh mendekati keduanya dan bersalaman bersimpuh di kaki orang tua yang dihormati banyak santri di pondok pesantren itu. Tidak ada pembicaraan lain kecuali hanya isak tangis Almeda. Sedangkan Abryal menenangkan istrinya itu yang sudah terlanjur menangis antara kecewa, sedih dan juga terkejut.


"Abah dan ummi tidak bersalah. Abah dan ummi hanya menginginkan saya hidup lebih layak dan dihormati. Tapi tidak harus dengan menikah dengan mas Abryal," ucap Maisaroh.


Almeda mendongak ke arah Maisaroh. Almeda jadi merasa bersalah. Apakah rasa ego nya yang tinggi itu menyebabkan dirinya tidak mengizinkan suaminya menikah lagi. Padahal Maisaroh jelas-jelas wanita yang baik. Namun seorang istri nyata-nyata tidak menginginkan suaminya pada wanita lain jika dirinya sangat mencintainya. Apalagi harus berbagi suami.


"Mungkin saja aku wanita yang egois. Untuk berbagi suami bagiku itu tidak mungkin," batin Almeda dalam kekerasan hatinya karena dia benar-benar sudah mencintai suaminya. Rasanya dirinya tidak akan rela dan ikhlas melihat suaminya dengan wanita lain. Walaupun istrinya yang lain.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


"Sudah dong, jangan nangis! Kan aku tidak jadi menikah dengan Maisaroh!" ucap Abryal sambil melebarkan kedua sudut bibir Almeda supaya tersenyum lebar.


Almeda mengusap air matanya. Dengan malu-malu melihat ke arah abah Idris dan ummi Salamah yang ikut tersenyum melihat menantu dan anak laki-laki itu. Abryal tanpa memperdulikan abah dan ummi melihat dirinya sedang merayu istrinya yang habis menangis itu.


"Ternyata Almeda benar-benar mencintaimu kamu, Abryal. Nyatanya dia tidak rela jika kamu dimiliki oleh Maisaroh," sahut abah Idris yang tidak merasa berdosa telah membuat menantunya menangis dengan prank nya.


"Hehe, benar! Istri kamu sungguh-sungguh menyayangi kamu, Abryal! Bersyukur lah karena istrimu sangat takut kehilangan kamu," sambung ummi Salamah.


"Bukan hanya Almeda saja, abah ummi. Aku juga sangat menyayangi Almeda. Dia istriku satu-satunya. Ibu dari anak-anakku. Istri sholehah bagiku. Bidadari syurga ku. InsyaAllah," sahut Abryal.


"Aamiin!" sahut abah dan ummi dengan tersenyum lebar melihat anak dan menantunya hidup rukun dalam rumah tangga nya.


TAMAT


T


A


M


A

__ADS_1


T


__ADS_2