
"Minggu depan kita liburan ke luar kota, yuk! Yah, kata abah dan ummi menyebutnya sebagai bulan madu. Bagaimana menurut kamu?" ucap Abryal.
"Aku terserah kamu saja, mas! Apa kata suami, istri harus mengikuti," sahut Almeda.
"Jiah! Cie cie!" ujar Abryal yang selalu bercanda setiap waktu.
🌼🌼🌼🌼🌼
"Kamu kenapa?" tanya Abryal pada Almeda saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Rasanya pening, mas! Perut rasanya mual dan mau muntah," jawab Almeda. Abryal mengerutkan dahinya lalu mulai sedikit menepikan mobilnya saat dilihatnya sebelah kiri ada rumah makan dengan masakan nusantara.
Mereka saat ini telah melakukan perjalanan ke luar kota. Abryal menjadi pemateri dalam seminar nasional. Dan saat ini Abryal mengajak Almeda sekalian berbulan madu di luar kota. Sengaja Abryal melakukan perjalanan dengan mengendarai mobilnya sendiri serta dirinya sendiri yang menyetir.
"Kita istirahat dulu ya? Kamu harus makan. Siapa tahu kamu sudah lapar," ucap Abryal. Mobil itu sudah diparkirkan di area rumah makan itu. Abryal melihat Almeda yang memijit pelipis nya sendiri. Benar! Wajah cantik Almeda terlihat sudah pucat. Abryal membantu memijat bagian tengkuk Almeda. Mengoleskan minyak kayu putih pada bagian lehernya.
__ADS_1
"Masih pusing?" tanya Abryal.
"Masih mas!" jawab Almeda sedikit merengek manja.
"Ya sudah! Ayo turun dulu! Kita masuk ke rumah makan itu. Kamu harus minum minuman yang hangat supaya perut kamu lebih enak," kata Abryal.
Abryal memutar ke pintu samping dimana Almeda duduk di sebelah kemudi. Dibuka pintu mobil itu, lalu diraihnya pergelangan tangan Almeda. Almeda dengan patuh turun dari dalam mobil itu. Dengan lembut, Abryal menuntun Almeda masuk ke dalam restoran.
"Kamu duduklah dulu, yah! Aku pesankan minuman hangat dulu," ucap Abryal.
"Aku ke toilet dulu yah, mas!" ucap Almeda.
"Aku antar yah!" kata Abryal.
"Tidak usah, mas! Aku bisa sendiri kok! Lagipula, aku sudah tidak pening lagi kok mas," sahut Almeda.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu," ucap Abryal.
🌼🌼🌼🌼🌼
"Kamu, Almeda?" tanya seseorang pria dewasa. Pria itu seperti mengenal dekat dengan Almeda. Almeda mengerutkan dahinya lalu mulai menyebut nama pria itu.
"Astaghfirullah, Mohammad Ridwan! Kamu disini?" sahut Almeda. Pria yang disebut dengan Mohammad Ridwan itu dengan nekat memeluk Almeda. Namun sebelum Ridwan benar-benar bisa memeluk Almeda, Almeda sudah lebih cepat menghindar dan mundur satu langkah.
"Ridwan! Maaf, aku sudah menikah!" ucap Almeda akhirnya. Sukses ucapan Almeda membuat Mohammad Ridwan hanya tersenyum sinis.
"Aku tidak akan percaya! Kamu berusaha menghindari aku lagi kah, Almeda? Apakah kamu masih marah dengan aku? Setelah aku menggagalkan pertunangan kita? Maaf, Almeda. Saat itu aku harus melanjutkan pendidikan ku ke luar negeri. Namun bukan berati aku tidak ingin bertunangan dengan kamu," ucap Mohammad Ridwan dengan alasannya.
"Tidak apa-apa Ridwan! Semuanya sudah lewat. Tapi maaf, aku saat ini telah berstatus istri orang. Oh iya, Ridwan! Aku harus kembali ke tempat dudukku. Aku takut suamiku telah menunggu aku dan mengkhawatirkan aku, kenapa aku tidak kembali-kembali dari toilet," sahut Almeda.
"Tapi Almeda! Apakah aku boleh minta nomer handphone kamu?" ujar Mohammad Ridwan.
__ADS_1
"Tapi untuk apa lagi?" sahut Almeda sambil mengerutkan dahinya. Mohammad Ridwan masih diam mematung menatap Almeda yang berjalan dengan cepat meninggalkan dirinya.