
"Jadi siapa Mohammad Ridwan, itu?" tanya Abryal saat keduanya sudah berada di dalam mobil mereka.
Abryal telah kembali menjalankan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan nya ke kota lain. Almeda terlihat kebingungan harus menceritakan kebenarannya.
"Bukankah tadi dia sudah bilang kalau kami saling mengenal karena kami teman kuliah dengan fakultas dan jurusan yang sama, kan mas?" sahut Almeda.
"Itu bukan jawaban yang aku inginkan, Almeda! Mohammad Ridwan itu dahulunya pacar kamu atau kekasih kamu, atau bukan? Sepertinya dia sangat berambisi dan nekat mendatangi kamu saat kita lagi makan di rumah makan itu. Sangat mengganggu sekali, dia!" kata Abryal.
"Di saat kita lagi berdua dalam suasana romantis, dia tiba-tiba datang nekat bergabung dengan kita. Benar-benar seperti tidak punya rasa malu sedikit pun. Tapi aku rasa dia hanya berniat ingin mendekati kamu lagi. Bahkan tadi dia ingin minta nomer handphone kamu. Yah, aku tentu saja tidak mengijinkan kamu memberikan nomer pribadi handphone kamu. Pria seperti itu sudah sangat terlihat jelas-jelas modusnya," omel Abryal panjang lebar. Almeda terlihat mengerutkan dahinya. Tapi dalam hati Almeda tertawa geli. Suaminya juga bisa cemburu dengan Mohammad Ridwan.
"Jelas-jelas dia sudah tahu dengan betul kalau kita ini sudah menikah dan sudah menjadi pasangan suami istri. Namun si Mohammad Ridwan itu kok, tetap saja bersikeras mengganggu kita. Dia apa tidak memperdulikan aku yang menjadi suami kamu? Benar-benar pria nekat yang perlu diwaspadai. Kalau aku lengah, bisa-bisa istriku diculik oleh nya," omel Abryal masih ngomel-ngomel.
Karena sudah tidak bisa menahan tawanya, Almeda cekikikan melihat suaminya itu uring-uringan. Hal itu membuat Abryal semakin geram.
__ADS_1
"Kamu malah cekikikan gitu. Orang suaminya lagi marah karena cemburu, kamu malah terlihat sangat senang gitu," ujar Abryal lagi.
Almeda semakin tertawa hingga suara tawanya lepas. Abryal tiba-tiba menghentikan mobilnya secara mendadak. Hingga Almeda menjadi terkejut lalu menatap suaminya dengan mengerutkan dahinya.
"Kenapa berhenti, mas?" tanya Almeda tanpa merasa bersalah.
"Ayo, mau ngaku dan bicara jujur apa tidak? Kalau tidak mau mengaku, aku akan membuat kamu mengaku," ucap Abryal. Abryal dengan cepat melepaskan sabuk pengaman nya dan juga sabuk pengaman Almeda. Lalu segera merangkum kedua pipi Almeda lalu menyerobot bibir Almeda dengan rakus.
"Aku akan menceritakan semua nya," ucap Almeda sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. Demikian juga Abryal mengusap bibir nya sendiri setelah memainkan bibir merah delima milik Almeda. Abryal tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo cerita yang sejujurnya. Kalau tidak? Aku akan nekat melakukan gituan di dalam sini," ancam Abryal.
Almeda mengerutkan dahinya. Bagi Almeda ancaman Abryal hanya candaan saja dan tidak serius. Almeda tidak akan percaya kalau suaminya nekat memaksanya melakukan gituan di dalam mobil. Bahkan posisi nya saat ini dipinggir jalan raya.
__ADS_1
"Mohammad Ridwan itu adalah teman kuliahku, mas!" ucap Almeda mengawali ceritanya.
"Hem, itu aku sudah tahu, sayang!" sahut Abryal.
"Mohammad Ridwan itu sempat dekat dengan aku, mas! Bahkan pernah melamar ku," sambung Almeda.
"Sudah aku duga! Benar kan kalau sebenarnya kalian ini dahulu adalah pasangan kekasih?" sahut Abryal.
"Lalu? Lanjutkan ceritanya! Atau aku akan....menghukum kamu lagi!" kata Abryal yang kembali menempelkan bibir nya ke bibir Almeda. Almeda tiba-tiba memejamkan matanya dengan pasrah. Kedua insan lawan jenis itu akhirnya saling bercumbu di dalam mobil itu. Di pinggir jalan dan tanpa memperdulikan orang-orang lewat. Yang pasti kaca mobil Abryal sangat aman, karena tidak bisa tembus jika dilihat dari luar kaca.
"Mas Abryal! Jangan disini! Ayo kita lebih baik melanjutkan perjalanan kita!" kata Almeda seraya mengusap bibir Abryal yang basah karena ciuman panjang dengan dirinya.
"Hem, tapi janji yah! Sampai di penginapan, kita langsung meneruskan adegan tadi!" sahut Abryal. Almeda tersenyum malu-malu menatap suaminya yang lagi senang-senangnya ingin melakukan penyatuan atau ritual suami istri itu.
__ADS_1