
"Kok lama sekali ke toilet nya? Kamu mual dan pusing lagi?" tanya Abryal pada Almeda.
"Eh, em? Tidak kok, mas! Aku, aku sudah tidak apa-apa!" sahut Abryal.
"Oh, ya sudah kalau begitu! Ayo, kita makan dan minum dulu! Aku tadi sudah memesankan banyak makanan dan minuman kesukaan kamu. Makan yang banyak dulu, baru kita lanjutkan perjalanan yah," kata Abryal.
"Iya, mas! Maaf kalau gara-gara aku, mas Abryal jadi terhambat perjalanan nya. Apalagi acara seminar nya besok pagi yah, mas?" kata Almeda.
"Tidak apa-apa! Dua jam lagi kita sampai kok. Pelan-pelan saja. Yang terpenting keselamatan dan kesehatan kamulah yang paling utama," ucap Abryal.
Abryal mengambilkan nasi beserta lauknya. Dengan telaten dan penuh perhatian, Abryal menyuapi Almeda. Almeda membuka mulutnya saat Abryal mendekatkan sendok yang ada nasi dengan lauknya.
"Enakkan?" ucap Abryal.
"Aku bisa sendiri, mas! Mas Abryal juga makan dong! Siapa yang mau menghabiskan makanan ini, kalau mas Abryal gak mau makan juga," kata Almeda.
"Oke, oke aku juga makan!" sahut Abryal.
Saat keduanya menikmati makanan dan minuman yang sudah terhidang di atas meja, tiba- tiba saja ada seorang pria dewasa mendekati pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum! Boleh saya bergabung?" ucap pria dewasa itu yang datang seorang diri. Kedatangan pria dewasa itu, sukses membuat Almeda mengerutkan dahinya. Tentu saja Almeda sangat terkejut dengan kedatangan pria itu. Tentu sangat nekat jika ingin bergabung di meja yang sama di meja Almeda dan Abryal itu.
"Eh, siapa saudara? Apakah aku mengenal saudara? Atau saudara mengenal istriku?" tanya Abryal.
"Tentu saja, aku mengenal baik Almeda! Apakah saudara suaminya? Aku Mohammad Ridwan! Senang berkenalan dengan suami dari Almeda teman saya dahulu saat masih berkuliah di Universitas Negeri di kota Semarang," ucap Mohammad Ridwan sambil mengulurkan tangannya pada Abryal. Kini Abryal menatap Almeda dan Mohammad Ridwan secara bergantian.
"Oh, benarkah? Mari silahkan duduk. Kebetulan kami memesan banyak makanan di sini. Ayo!" sahut Abryal. Almeda menghela nafasnya dalam-dalam. Tentu saja Almeda merasa tidak nyaman dengan bergabungnya Mohammad Ridwan di meja itu.
"Oh, iya, berarti kamu satu fakultas dan jurusan yang sama dengan istriku, Almeda?" tanya Abryal.
"Benar! Bahkan kami satu angkatan mas! Oh iya, kalau boleh tahu, mas sendiri namanya siapa?" ucap Mohammad Ridwan.
"Mas Abryal dengan Almeda sejak kapan menikah? Soalnya aku sendiri sudah lama tidak bertemu dengan Almeda. Dan baru kali ini ketemu. Tadi dari jauh aku melihat seperti Almeda teman ku saat kuliah. Eh, ternyata setelah aku dekati benar. Alhamdulillah, akhirnya ketemu teman lama," cerita Mohammad Ridwan. Abryal menyipitkan bola matanya lalu melihat ke arah Almeda dan Mohammad Ridwan secara bergantian.
"Kalian dahulu benar-benar hanya teman saja? Atau mantan pacar?" sahut Abryal. Sukses pertanyaan Abryal itu membuat Almeda terkejut hingga tersedak.
"Uhuk uhuk!" Almeda tersedak. Dengan cepat Abryal mengambilkan gelas minuman yang berisi teh manis hangat milik Almeda.
"Pelan-pelan dong sayang! Ini diminum dulu!" kata Abryal seraya mendekatkan gelas minuman hangat itu ke mulut Almeda.
__ADS_1
"Eh, iya mas!" sahut Almeda sambil melirik ke arah Mohammad Ridwan.
"Duh, menyebalkan sekali Ridwan ini! Kenapa pakai acara ikut bergabung di meja sini sih? Sepertinya urat malunya sudah putus kali yah?" batin Almeda.
Abryal dengan cuek dan tanpa memperdulikan ada Mohammad Ridwan di sana kembali memperhatikan Almeda. Abryal kembali menyuapi Almeda dengan makanan yang ada dipiringnya. Sukses Ridwan dibikin keki dan cemburu melihat adegan kemesraan antara pasangan suami istri itu.
"Astaghfirullah! Niatnya mau gangguin Almeda, ini malah aku kena serangan balik dari suaminya. Mas Abryal sengaja memperlihatkan kemesraan nya di depan mataku," batin Mohammad Ridwan dengan menahan rasa cemburu nya.
"Ayo Ridwan! Kamu sejak tadi kenapa melihat kami saja? Ayo, kamu harus makan! Sebentar lagi kami harus segera melanjutkan perjalanan. Karena besok pagi, aku harus menjadi pemateri di seminar nasional," kata Abryal.
"Eh? Terimakasih mas! Lain kali saja! Aku juga mau pamit. Aku juga harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Tapi sebelum aku pergi, boleh kah saya minta nomer handphone Almeda?" ucap Mohammad Ridwan.
"Eh? Kenapa Almeda? Kenapa tidak nomer handphone ku?" sahut Abryal dengan melebar bola matanya dengan sempurna.
"Em, oh boleh yah mas? Kalau begitu nomer mas Abryal saja," ucap Mohammad Ridwan.
"Kalau nomer handphone ku akan aku kasih. Tapi kalau nomer handphone istriku, Almeda tidak akan aku berikan pada laki-laki manapun. Apalagi laki-laki itu dulunya adalah teman dekat istriku," sahut Abryal. Sukses ucapan Abryal membuat Mohammad Ridwan dan Almeda melebar bola matanya dengan sempurna.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
"Jadi siapa Mohammad Ridwan, itu?" tanya Abryal saat keduanya sudah berada di dalam mobil mereka. Abryal telah kembali menjalankan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan nya ke kota lain.