CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 11


__ADS_3

"Ya sudahlah! Aku pikir selama ini mereka sudah sama-sama ikhlas untuk saling menerima menjadi suami istri. Tapi ternyata mereka masih pisah ranjang. Kalau begini terus, mana bisa kita memiliki banyak cucu dari keturunan anak kita itu," kata ummi Salamah.


"Sebentar lagi, ummi!? Mereka butuh waktu untuk saling dekat. Karena mereka menikah lantaran paksaan dan perjodohan dari kita," ucap abah Idris.


"Hem, benar Abah! Selama kita di sini, kita harus buat mereka semakin dekat dan tidur dalam satu kamar dan tidak pisah-pisah gitu," kata ummi Salamah.


Tiba-tiba saja suara salam disertai bunyi bel masuk rumah terdengar. Bibi Ruroh segera berdiri bangkit dari tempat duduknya untuk bergegas menghampiri suara yang mengucap salam. Tentu saja Bibi Ruroh sangat hapal betul suara siapa itu. Dia adalah Abryal. Bibi Ruroh sempat terkejut karena baru kali ini Abryal datang lebih awal dari biasanya. Bahkan kepulangan nya berbarengan dengan Almeda. Bibi Ruroh semakin menyipit bola matanya saat melihat pasangan pengantin baru itu terlihat romantis dan dekat. Bahkan Abryal terlihat memeluk pinggang Almeda dengan mesra.


Bibi Ruroh sesaat menjadi membuka mulut nya karena melongo melihat pasangan suami istri yang baru saja menikah itu. Bibi Ruroh pikir, pernikahan mereka lantaran perjodohan itu tidak akan bisa diterima oleh mereka.


"Hem, apa mungkin mereka sedang bersandiwara?" pikir Bibi Ruroh.


"Ada apa bibi?" tanya Abryal saat melihat asisten rumah tangga nya menatap dirinya bersama dengan Almeda dengan tatapan heran.


"Eh, em? Itu itu nyonya besar dan tuan besar telah datang dari Jawa. Beliau sudah menunggu mas Abryal di ruang makan," ucap bibi Ruroh yang langsung saja memberitahukan kedatangan tuan besar nya.


"Oh, iya? Baiklah, kami berdua langsung menjumpai abah dan ummi. Oh, iya Bibi! Boleh minta dibuatkan satu cangkir kopi hitam untuk saya? Dan satu lagi jus buah naga untuk Almeda, istri kesayangan ku ini. Kami haus banget. Apalagi istriku ini, seharian ngajar di sekolah. Pasti tenggorokan nya sudah kering lantaran mengajar," ucap Abryal.


"Eh??" gumam Almeda sambil menatap heran pada suaminya yang terlalu berlebih-lebihan.

__ADS_1


"Baik, mas Abryal! Akan saya buatkan minuman untuk mas Abryal juga non Almeda," sahut bibi Ruroh. Setelah Bibi Ruroh meninggalkan mereka berdua, kini keduanya mulai menjaga jarak.


"Tenggorokanku baik-baik saja kok, mas!?" protes Almeda.


"Hem, aku tahu itu! Ya sudah, ayo kita jumpai abah dan ummi di ruang makan, sebelum kita masuk ke kamar bersama-sama," ucap Abryal sambil menggandeng tangan Almeda dengan paksa dan melenggang ke dalam rumah.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Assalamu'alaikum, abah ummi!?" ucap Abryal dan Almeda.


"Wa'alaikum salam!?" sahut abah dan ummi secara bersamaan. Keduanya sama-sama melemparkan senyuman nya.


"Ayo kalian makan dulu bersama dengan abah dan ummi. Ummi bawakan oleh-oleh untuk kalian berdua," ajak ummi pada Abryal serta Almeda.


"Sepertinya kami harus mandi dulu, ummi! Lihat wajah istriku terlihat layu karena seharian ini ngajar di sekolah. Demikian juga aku, capek dengan urusan bisnis di perusahaan," kata Abryal. Abah dan ummi saling berpandangan lalu keduanya melemparkan senyuman nya pada Abryal dan istrinya.


"Ya sudah, kalau begitu! Kalian mandi dan setelah itu kita makan bersama di sini," sahut ummi Salamah.


"Ummi abah, kami masuk dulu ke kamar!?" ucap Almeda yang bergegas hendak menuju ke kamarnya. Namun dengan cepat, Abryal menarik tubuh Almeda supaya mengikuti dirinya ke kamar Abryal.

__ADS_1


"Eh?" Almeda mengikuti Abryal ketika menariknya menuju ke kamarnya.


Abah dan ummi kini saling berpandangan lalu tersenyum lebar setelah nya.


"Setelah kedatangan kita di rumah ini, kita tidak akan membiarkan mereka tidur terpisah. Demikian juga ketika hendak beraktivitas. Dengan selalu bersama di satu kamar yang sama, semoga keduanya semakin dekat dan akan membuat keduanya khilaf. Akhirnya, Almeda hamil dan kita akan segera mendapatkan cucu dari keturunan mereka," ucap ummi Salamah sambil tersenyum cekikikan. Demikian juga dengan Abah Idris.


Tiba-tiba Bibi Ruroh datang membawa dua gelas.


"Itu minuman untuk siapa, bibi?" tanya abah Idris.


"Secangkir kopi untuk mas Abryal sedangkan jus buahnya untuk mbak Almeda," jawab bibi Ruroh.


"Oh, letakkan saja di atas meja ini. Mereka berdua sedang mandi. Sebentar lagi mereka juga akan keluar dari kamar," ucap abah Idris.


Bibi Ruroh meletakkan nampan yang berisi secangkir kopi dan juga segelas jus naga di atas meja. Setelahnya Bibi Ruroh meninggalkan tempat itu dan kembali bekerja di belakang. Sementara itu abah Idris dan ummi Salamah kini saling berpandangan.


"Apa yang akan abah lakukan dengan minuman mereka?" tanya ummi Salamah.


"Sepertinya kita harus licik supaya mereka bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan kita. Yaitu cucu-cucu dari keturunan mereka yang sholeh dan sholeha," sahut abah Idris. Ummi tersenyum lebar saat mengetahui rencana apa yang akan dijalankan oleh suaminya itu supaya Abryal dan Almeda benar-benar menjadi pasangan suami istri yang normal dan melakukan hubungan badan sewajarnya.

__ADS_1


"Abah sudah menyiapkan obatnya?" tanya ummi. Abah tersenyum lebar seraya berdiri lalu mendekati dua minuman itu yang diperuntukkan untuk Abryal dan juga Almeda.


__ADS_2