CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 35


__ADS_3

Abryal merebahkan tubuh mungil Almeda dengan pelan-pelan seolah boneka kaca yang tidak ingin pecah. Setelah nya Abryal benar-benar tidak mau membuang waktu lagi. Sebelum keduanya mandi dan bersiap pergi bekerja, mereka ingin sarapan dengan menu spesial. Kegiatan disaat fajar itu mereka lakukan sebagai ganti kegiatan malam yang terlewatkan.


"Almeda, kamu sudah menjadi candu bagiku," bisik Abryal yang kini sudah mengukung Almeda istrinya.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Bagaimana Miranda? Kamu sudah ke rumah Abryal? tanya Ridwan melalui sambungan telepon.


"Aku tadi sudah di depan pagar rumah Abryal. Lalu tanya penjaga rumahnya, katanya ummi Salamah dan abah Idris sudah balik ke pondok yang ada di kampung," jawab Miranda.


"Duh, bagaimana kita bisa mewujudkan keinginan kita untuk merebut seseorang yang kita sukai," ucap Ridwan.


"Mungkin saja ini sudah bukan jodoh lagi kak. Mungkin kita harus mundur dan sadar. Bahwasanya mereka sudah berjodoh. Kita harus merelakan kebahagiaan mereka," sahut Miranda.


"Kenapa kamu terdengar seperti sudah putus asa sih?" kata Ridwan.


"Sudahlah, kak! Sepertinya memang kita harus merelakan mereka untuk hidup bersama. Kita jangan lagi mengganggu mereka lagi," ucap Miranda.


"Begitu yah? Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menggantikan posisi Almeda yang selama ini nongkrong di jantungku? Em maksud ku, kamu mau tidak kalau aku ajak kamu berpacaran?" sahut Ridwan.


Ucapan itu tentu saja membuat Miranda menjadi tersedak air ludahnya sendiri. Bahkan dia tidak bisa berkata-kata.


"Halo Miranda! Apakah kamu masih ada di sana?" tanya Ridwan.

__ADS_1


"I-iya kak! Kakak tadi bilang apa yah? Aku tadi tidak jelas mendengar nya," kata Miranda yang pura-pura bego.


"Hahaha, ya sudah lupakan saja! Anggap saja tadi aku sedang mengigau," ucap Ridwan.


"Kalau begitu, aku tutup telpon nya yah Miranda! Selamat istirahat dan bobok! Maaf, aku sudah mengganggu kamu," kata Ridwan lagi.


"Baik, kak. Terimakasih! Kakak juga selamat istirahat dan tidur yang nyenyak yah, kak!" sahut Miranda. Nun jauh di sana, Ridwan menjadi tersenyum lebar mendapatkan perhatian seperti itu.


"Oke, oke siap Miranda!" sahut Ridwan.


Ridwan menjatuhkan tubuh nya di atas kasur setelah menyudahi panggilan keluarnya pada Miranda. Dia menatap langit-langit kamar itu dan tiba-tiba jadi membayangkan wajah Miranda.


"Miranda! Dia cantik juga. Apalagi dengan mengenakan hijab, dia terlihat sangat anggun," gumam Ridwan. Tanpa dia sadari tersenyum lebar membayangkan wajah cantik Miranda.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Iya, Sama-sama!" sahut Miranda seraya tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang berderet rapi.


Miranda sengaja datang setelah Ridwan kembali menghubungi dirinya di pagi hari untuk mengajaknya ketemuan siang ini untuk makan berdua.


"Oh iya, kamu mau pesan apa? Kali ini biar aku yang traktir," kata Ridwan sambil menyodorkan buku menu pada Miranda. Miranda menerima buku menu itu lalu mulai mencatat makanan dan minuman apa yang hendak dia pilih.


"Baiklah, kakak mau apa? Biar sekalian aku catat," ucap Miranda.

__ADS_1


"Aku es cappucino saja," jawab Ridwan.


"Mau makan apa, kak?" tanya Miranda lagi.


"Apa yah?" gumam Ridwan. Miranda mengerutkan dahinya memperhatikan Ridwan.


"Sebenarnya lagi gak selera makan," curhat Ridwan. Kembali Miranda mengerutkan dahinya lagi.


"Kenapa mengajakku makan siang di sini kalau kak Ridwan gak mau makan? Aneh!" sahut Miranda.


Miranda akhirnya memesankan dua steak daging dan dua juz buah. Sengaja memesan dua supaya Ridwan mau makan dan minum. Jika melihat dirinya makan. Setelah menulis menu yang dipilih, catatan itu diserahkan pada pramusaji di kafe itu.


"Miranda!" ucap Ridwan setelah pelayan kafe itu sudah pergi dan tinggal mereka di bangku itu.


"Iya, kak! Ada apa?" sahut Miranda.


"Menikah lah dengan aku, Miranda!" ucap Ridwan. Sukses ucapan itu membuat Miranda membulat matanya dengan sempurna. Ridwan kembali mengulang pernyataan itu seraya meraih pergelangan tangan Miranda.


"Kita menikah yuk! Aku pikir aku cocok dengan kamu, Miranda. Selain kamu bisa diajak ngobrol, kamu juga menarik. Aku suka itu," ucap Ridwan. Tangan Miranda itu masih digenggamnya.


"Kak Ridwan! Maaf, kak! Ini terlalu cepat! Aku belum bisa menjawab nya sekarang," sahut Miranda seraya menarik tangannya yang tadi digengam oleh Ridwan. Ridwan menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu perlahan mulai menghembuskan nya dengan kasar. Setelah itu diambilnya bungkus rokok dan menarik batang rokok di dalam nya. Ridwan mulai menyalakan rokok itu dan mulai menikmati setiap tarikannya.


"Oke, baiklah! Aku akan menunggu jawaban dari kamu! Aku harap jawaban yang aku terima tidak mengecewakan aku," ucap Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2