CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 21


__ADS_3

"Jadi suami Almeda adalah anak kyai besar pemilik pondok pesantren Darul Makmur?" ucap," Mohammad Ridwan.


"Ternyata Almeda dan Abryal itu orang tua nya sama-sama seorang kyai dan memiliki pondok pesantren. Benar-benar aku sudah kalah dalam hal ini," gumam Mohammad Ridwan sambil mendengus kesal.


"Bagaimana caranya aku bisa memisahkan mereka yah? Aku pikir ke-dua nya menikah bulan lantaran saling menyukai. Melainkan karena perjodohan dari kedua kyai besar itu," pikir Mohammad Ridwan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Almeda memperhatikan Abryal yang pagi ini sudah berdandan rapi. Sedangkan Almeda masih di berbaring di atas tempat tidur lebar dan luas kamar penginapan itu. Semalam mereka benar-benar menghabiskan malam panjang hingga sampai fajar mulai menyingsing. Setiba nya di hotel,di mana di tempat itulah lokasi seminar nasional juga diadakan, Abryal langsung mengajak Almeda mengarungi samudra luas yang penuh kenikmatan. Tentu saja Abryal mengatakan pada panitia bahwa dirinya saat ini sedang membawa istrinya. Jadi panitia tidak perlu memberikan atau menyiapkan dua kamar untuk beristirahat di sana. Bekerja sambil berbulan madu, itulah yang sekarang Abryal lakukan bersama dengan istrinya, Almeda.


Almeda merasa dihargai saat Abryal memperkenalkan dirinya pada semua orang bahwa dirinya adalah istrinya.Tentu seorang wanita akan merasa dihargai ketika mendapatkan pengakuan dari seorang laki-laki, baik sebagai kekasih maupun istrinya.


"Kamu mau tetap di dalam kamar ini sampai aku selesai memberikan materi seminar pagi ini atau ikut di acara seminar?" tanya Abryal, mencoba menawarkan pada Almeda.


"Di sini saja, mas! Sepertinya semalam saya kurang nyenyak tidur saya. Lebih baik saya bobok manis daripada mengikuti seminar," sahut Almeda.


"Beneran?? Rugi loh kalau tidak ikut seminar? Bahkan aku ikut menjadi pembicara atau pemateri nya loh. Kamu tidak ingin melihat penampilan suami kamu yang tampan ini, saat menjadi pembicara?" kata Abryal. Almeda tersenyum seraya


"Enggak mau! Saya di sini saja nunggu mas Abryal," sahut Almeda sambil memeluk guling di hotel itu. Abryal mendekati istrinya itu lalu mengecup keningnya.


"Ya sudah! Kalau begitu aku langsung ke tempat seminar dulu yah. Oh iya, jika kamu mau menginginkan sesuatu, bisa memesannya yah. Mau makan apa saja, terserah! Tapi jangan makan pedes dulu yah!" ucap Abryal setelah mengecup kening Almeda. Almeda mengangguk saja.

__ADS_1


Abryal keluar dari kamar penginapan itu meninggalkan Almeda di dalam nya. Kini Almeda yang sudah merasa bebas segera melanjutkan tidurnya ke atas tempat tidur itu lalu mulai menikmati kasur yang empuk fasilitas hotel itu. Namun Almeda yang ingin tidur nyatanya malah tidak bisa tidur. Dirinya menjadi kepikiran ingin mengikuti seminar nasional yang berlokasi di hotel itu.


"Penasaran juga, ingin datang ke seminar itu. Em, niat sekali mas Abryal meninggalkan undangan seminar untuk ku supaya jika aku mau mengikuti seminar, aku bisa datang langsung dengan membawa undangan masuknya," gumam Almeda sambil menimang-nimang undangan seminar eksklusif ditangannya.


"Hem, lumayan juga biaya untuk mengikuti seminar ini. Enam juta untuk tiga hari? Fasilitas menginap di hotel mewah seperti ini, cukup keren dan eksklusif sekali. Berapa duit yang didapatkan mas Abryal saat menjadi pemateri dalam mengisi seminar seperti ini yah?? Hehe jadi kepo kan aku?" pikir Almeda.


"Lebih baik aku mandi saja dan ke lokasi dimana seminar itu diselenggarakan. Katanya mas Abryal seminar itu diadakan di ruangan rapat dan seminar hotel ini," gumam Almeda yang segera turun dari tempat tidur di kamar itu lalu bergegas mandi.


*****


Betapa Almeda dibuat terpukau dengan penampilan mas Abryal saat memberikan materi di seminar itu. Duduk di depan sana ada empat pemateri di sana. Namun Almeda benar-benar menjadi merasa kagum dengan kecerdasan suaminya dalam menyampaikan materi seminar nya.


"Astaga, mas Abryal! Tidak heran, kenapa mbak Miranda sangat tergila-gila dengan nya. Selain tampan, mas Abryal terlihat sangat berwibawa dan berkharisma saat berbicara di depan. Uh, jika saja mbak Miranda melihat penampilan mas Abryal saat ini, dia pasti akan menggigit bibir nya sendiri karena sangat takjub," batin Almeda yang kini sudah duduk di ruangan seminar itu.


" Aku adalah istri dan wanita mana sangat beruntung bisa menjadi istri mas Abryal? Eh, astaga??" gumam Almeda. Almeda menjadi teringat bahwasanya dirinya diajak ke acara seminar itu juga dikenalkan pada kolega nya sebagai istrinya. Ini membuktikan bahwa Abryal telah seutuhnya menerima dirinya sebagai seorang istri.


"Aku pikir, perjodohan ku dengan mas Abryal dan berakhir di pelaminan tidak akan pernah bisa diterima oleh mas Abryal. Ternyata mas Abryal sudah menerima aku dengan ikhlas sebagai istrinya," gumam Almeda dengan tersenyum bangga menyimak suaminya sedang memberikan materi makalah.


*****


Seminar hari itu selesai. Beberapa pemateri seminar seketika menjadi primadona atau artis yang dikerumuni peserta seminar. Dari meminta tanda tangan, meminta foto bersama serta yang paling parah meminta nomer handphone pemateri.

__ADS_1


Abryal terlihat mendekati Almeda yang duduk di depan memperhatikan peserta berkerumun minta berfoto bersama dengan pemberi materi. Abryal menarik tangan Almeda untuk mengajaknya berfoto bersama.


"Ini istri saya! Bolehkan jika saya mengajak istri saya berfoto bersama dengan saudara-saudara semua nya?" ucap Abryal seraya memegang pergelangan tangan Almeda.


"Eh??" Almeda yang terkejut hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak diajak berfoto bersama dengan pemateri maupun peserta seminar.


Peserta seminar dengan jenis kelamin perempuan terpaksa harus kecewa saat menyadari kebenarannya bahwa Abryal telah memiliki istri. Bahkan Abryal tanpa sungkan menggandeng Almeda. Dalam diam Almeda merasakan damai ketika Abryal meraih tangannya dan menggandeng tangannya. Tangan itu begitu lembut dan hangat. Tentu saja seorang pria muda yang jarang sekali melakukan pekerjaan kasar. Bahkan mungkin tidak pernah bekerja kasar seperti mencangkul atau sejenisnya. Tentu saja, pekerjaan Abryal mengandalkan otak maupun kecerdasan nya menjadi seorang pengajar maupun sebagai motivator serta pemateri dalam seminar-seminar.


"Jangan gugup dong! Ayo senyum!" bisik Abryal pada Almeda. Almeda kini mulai tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang berderet dengan rapi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah acara seminar nasional itu selesai, Abryal mengajak jalan-jalan Almeda ke tempat-tempat wisata di kota itu. Selain itu, pasangan suami istri yang terbilang masih pengantin baru itu menikmati kebersamaan nya berdua. Abryal tidak mensia-siakan lagi untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk segera mendapatkan momongan. Abryal menginginkan bulan madu nya bersama dengan Almeda ini bisa membuahkan hasil.


"Semoga di sini cepat tumbuh janin. Aku ingin memiliki keturunan yang lucu-lucu, sholeh dan sholehah. Bukankah banyak anak banyak rejeki bukan? Jadi, aku berdoa semoga kita memiliki banyak anak, lima, tujuh, atau sembilan," ucap Abryal sambil mengusap perut Almeda yang masih rata. Almeda mengerutkan dahinya saat mendengar harapan Abryal untuk memiliki anak yang banyak.


"Sembilan, mas? Kenapa tidak sekalian dua belas sih, mas?" sahut Almeda penuh sarkasme.


"Boleh! Setiap anak-anak kita, aku ingin menyiapkan satu pengasuh anak atau baby sitter. Jadi tugas kamu hanya melahirkan saja serta mengurus suami kamu yang ganteng ini," kata Abryal.


"Jadi kalau kita punya sembilan anak, kita juga punya baby sitter sembilan juga?" sahut Almeda.

__ADS_1


"Iya dong! Supaya kamu tidak capek sayang! Dan tugas aku serta kewajiban ku hanyalah mencari uang. Selain itu kita sama-sama akan mendidik nya supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah," kata Abryal.


"Aamiin, mas!" ucap Almeda.


__ADS_2