
"Miranda! Apakah ada perkembangan hubungan kamu dengan Abryal?" tanya Mohammad Ridwan. Miranda terlihat menarik nafasnya dan melepaskan nya dengan kasar. Saat ini Miranda berada di ruangan kerja Ridwan. Di tempat kerja Ridwan itu, Miranda bertemu di jam istirahat makan siang.
"Aku sudah pernah mengatakan kalau Abryal sulit untuk didekati. Bahkan sebelumnya aku beberapa kali ditolak oleh Abryal. Dia laki-laki setia dan suami yang tidak mudah berpaling pada istrinya. Aku pikir, kita tidak akan bisa memisahkan Abryal dengan Almeda, kak Ridwan!" ucap Miranda panjang lebar.
"Apakah kamu menyerah, Miranda? Bahkan kita baru memulai permainan ini. Kamu jangan mudah putus asa dong! Yang seharusnya kamu dekati adalah ummi Salamah, bukan Abryal nya. Dia lah penentu nya. Jika ummi Salamah menyukai kamu, beliau bisa menyuruh Abryal menikah dengan kamu. Apalagi Almeda belum juga mengandung bukan? Sedangkan mereka menanti penerus dari keturunan Abryal," ucap Ridwan.
"Aku akan mencoba mendekati ummi Salamah. Dan mungkin juga abah Idris," kata Miranda.
"Hai, jangan mendekati abah Idris! Kamu tidak takut jika dijadikan mama tiri nya Abryal?" sahut Ridwan bermaksud bercanda.
Miranda mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ridwan. Spontan saja tangan Miranda memukul lengan Ridwan. Namun Ridwan mencoba menangkisnya.
"Hahaha, aku becanda Miranda!" ucap Ridwan sambil terkekeh-kekeh. Miranda terlihat cemberut karena gangguin Ridwan.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
"Abah, menurut abah Miranda itu orangnya bagaimana?" tanya ummi Salamah yang kini keduanya masih duduk di ruang makan.
Mereka sedang menikmati sarapan pagi. Masih di rumah Abryal dan Almeda. Sedangkan Almeda dan Abryal belum juga keluar dari dalam kamarnya. Padahal sudah jam enam pagi itu.
"Miranda? Miranda siapa lagi ummi?" sahut abah Idris. Ummi mengerutkan dahinya dengan tanggapan suaminya itu.
"Miranda, yang kemarin datang kemari dan mencari Abryal. Gadis cantik teman dekat Abryal, katanya. Ummi lihat keduanya sangat dekat. Jangan-jangan sebelum Abryal dijodohkan dengan Almeda dan akhirnya menikah dengan Almeda, antara Abryal dan Miranda ada hubungan spesial," ucap ummi panjang lebar. Abah Idris mengerutkan dahinya.
"Maksud ummi apa?" sahut abah Idris.
"Maksudnya diantara keduanya, ummi pikir mereka berdua sama-sama suka. Duh masak abah tidak paham sih," ucap ummi.
"Bukankah boleh menikah beberapa kali dan memiliki istri lebih dari satu, abah?" sahut Ummi. Abah mengerutkan dahinya lalu menatap lekat wajah istrinya. Lalu setelah nya abah tersenyum lebar.
"Oh jadi ummi mau mencarikan istri kedua untuk abah? Dan Miranda itu mau ummi dekatkan pada abah? Begitu?" ujar abah Idris. Sukses abah mendapatkan cubitan dibagian pinggangnya oleh ummi.
__ADS_1
"Bukan! Bukan untuk abah! Tapi untuk Abryal, abah! Memangnya abah tidak takut jika kumat encoknya?" kata ummi Salamah.
"Ummi saja tidak bisa ikhlas dan merelakan abah memiliki istri lebih dari satu selama ini, kenapa ummi justru membuat Almeda menangis dalam hati dengan mencarikan madu untuk nya. Ummi harus mengembalikan semua pada diri ummi sendiri dong. Apa. ummi mau jika punya madu? Jangan suka usil, ummi. Putra kita lebih baik punya satu istri yang bisa dibimbing dan dibina nya. Supaya bisa ke surga Bersama-sama," ucap abah Idris.
"Maaf, abah! Ummi salah. Tapi Miranda terlihat sangat baik dan cantik," sahut ummi Salamah.
"Cantik dan baik karena Miranda adalah seorang wanita. Dan dia kelak akan menemukan jodoh nya sendiri. Kita jangan ikut campur urusan mereka, ummi. Kita menjodohkan Abryal dengan Almeda saja sudah salah. Alhamdulillah pada akhir nya mereka bisa menerima dan saling mencintai sekarang," ucap abah Idris.
"Benar, abah! Alhamdulillah! Ngomong-omong kenapa mereka belum keluar dari dalam kamarnya yah? Sudah siang loh, abah!" kata ummi Salamah.
"Mungkin Almeda sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah. Hehe," sahut abah Idris.
"Hehehe alhamdulillah mereka semakin hari semakin terlihat lebih mesra dan hangat yah, abah! Ummi jadi ingat saat kita baru saja menikah dan menjadi pengantin baru. Kita jadi boros sampo. Hampir setiap hari abah ngajak gituan sama ummi," kata Ummi Salamah.
"Hahaha, dan alhamdulillah nya sampai sekarang kita bisa tetap bersama yah ummi," ucap abah Idris.
__ADS_1
"Iya, abah! Alhamdulillah! Nanti siang kita pulang ke kampung kan, abah," kata ummi Salamah.
"Benar! Kita harus kembali ke pondok pesantren. Rumah tinggal kita di sana. Jangan sampai terlalu lama meninggalkan anak-anak kita di tempat penggemblengan itu. Kita lah yang ditua kan. Mereka akan semakin bersemangat saat kita mendampingi mereka dalam belajar ilmu agama dan belajar lebih baik lagi," kata abah Idris.