
"Semoga di sini cepat tumbuh janin. Aku ingin memiliki keturunan yang lucu-lucu, sholeh dan sholehah. Bukankah banyak anak banyak rejeki bukan? Jadi, aku berdoa semoga kita memiliki banyak anak, lima, tujuh, atau sembilan," ucap Abryal sambil mengusap perut Almeda yang masih rata. Almeda mengerutkan dahinya saat mendengar harapan Abryal untuk memiliki anak yang banyak.
"Sembilan, mas? Kenapa tidak sekalian dua belas sih, mas?" sahut Almeda penuh sarkasme.
"Boleh! Setiap anak-anak kita, aku ingin menyiapkan satu pengasuh anak atau baby sitter. Jadi tugas kamu hanya melahirkan saja serta mengurus suami kamu yang ganteng ini," kata Abryal.
"Jadi kalau kita punya sembilan anak, kita juga punya baby sitter sembilan juga?" sahut Almeda.
"Iya dong! Supaya kamu tidak capek sayang! Dan tugas aku serta kewajiban ku hanyalah mencari uang. Selain itu kita sama-sama akan mendidik nya supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah," kata Abryal.
"Aamiin, mas!" ucap Almeda.
Abryal mengusap lembut puncak kepala Almeda. Membelainya dengan penuh kelembutan, hingga Almeda memejamkan matanya. Rasa kantuknya membuat Almeda semakin terbuai dalam tidurnya. Sedangkan Abryal masih membelai rambut Almeda.
"Almeda! Kamu sudah tidur?" panggil Abryal saat mendapati istrinya sudah tertidur dengan pulas.
"Astaghfirullah, ternyata sejak tadi istri ku yang cantik ini sudah terlelap. Jadi sejak tadi aku bicara sendiri seperti menidurkan Almeda," gumam Abryal sambil tersenyum menatap istrinya yang terlihat polos saat sedang tertidur.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pelan-pelan Almeda membuka matanya. Sejak tadi dirinya tertidur. Di sebelah nya ada suaminya juga ikut tertidur. Almeda memperhatikan wajah tampan suaminya itu ketika dalam keadaan tertidur pulas. Almeda tersenyum seraya tangannya mengusap lembut puncak kepala suaminya.
__ADS_1
"Ternyata tampan sekali, mas Abryal! Rambut nya yang hitam dan lurus semakin menambah rupawan suamiku ini," gumam Almeda. Tangan Almeda terus menerus membelai rambut lurus hitam milik suaminya. Almeda yang dibelai puncak kepalanya semakin terlihat pulas tidurnya. Apalagi, Almeda mulai mengusap dahinya yang halus.
"Semoga kita selalu berjodoh menjadi pasangan suami istri hingga maut memisahkan kita. Dan kelak di akhirat kita tetap berjodoh dan ditemukan dalam surga-Nya. Aamiin!" ucap Almeda pelan.
Cukup lama Almeda memandangi wajah suaminya saat tertidur pulas. Tangannya sembari terus mengusap kepalanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Semoga mas Abryal bisa menjadi imam ku yang bisa mengarahkan aku dalam kebenaran. Menasihati aku ketika aku salah. Membimbing ku dalam jalan menuju ridlo Tuhan," gumam Almeda.
Tiba-tiba saja tangan lembut milik Almeda itu di tangkap oleh Abryal. Diciuminya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, tangan istrinya sembari matanya masih enggan untuk membuka mata.
"Mas Abryal!" gumam Almeda.
"Oh, iya jam berapa sekarang sayang?" tanya Abryal.
"Jam delapan malam, mas! Oh iya mas kita belum sholat Isyak loh mas!" kata Almeda.
"Eh iya benar! Dan kita juga belum makan malam. Kamu lapar gak?" ucap Abryal.
"Hem, kalau begitu kita sholat Isyak dahulu lalu kita makan, mas!" kata Almeda.
"Siap, istriku sayang!" sahut Abryal.
__ADS_1
"Ayo, mas!" ajak Almeda.
Abryal dan Almeda mulai mengambil air wudhu untuk mensucikan diri. Mereka berdua akan menjalankan sholat Isyak secara berjamaah. Di dalam kamar hotel itu, Abryal menjadi imam sholat bagi Almeda. Almeda sebagai makmumnya mengikuti Abryal memimpin sholat empat reka'at itu. Setelah selesai Almeda bersalaman mencium punggung tangan suaminya itu. Setelah sebelumnya melakukan wirid dan doa bersama.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Abryal.
"Hem, mau bakso beranak mas!" jawab Almeda.
"Baiklah! Ayo, bersiaplah kita keluar mencari bakso beranak sesuai yang kamu minta,"sahut Abryal.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Kita pulangnya lusa saja yah, sayang! Aku ingin mengajak jalan kamu ke tempat wisata yang belum kita kunjungi. Kamu pasti menyukai nya," ucap Abryal saat keduanya sudah di dalam mobil untuk mencari makan sesuai yang diminta oleh Almeda yaitu bakso beranak.
"Hem, aku terserah mas Abryal saja. Tapi abah dan ummi apakah tidak keberatan menunggu kita sampai pulang? Abah dan ummi masih di rumah mas Abryal dan belum kembali ke pondok pesantren," kata Almeda.
"Tidak Apa-apa! Mereka seperti nya ingin memastikan kalau kepergian kita ini membuahkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh mereka yaitu cucu. Sepertinya abah dan ummi sudah tidak sabar menimang cucu dari anak-anak kita," ucap Abryal.
"Hem, aku rasa tidak hanya orang tua dari mas Abryal saja yang segera menginginkan kita memiliki anak. Tapi abah dan juga ummi aku juga, mas!" sahut Almeda.
"Makanya daripada itu, sayang! Kita jangan mengecewakan mereka. Setelah ini kita harus nglembur lagi!" ucap Abryal. Almeda menjulurkan lidahnya ke arah suaminya itu saat Abryal dengan tanpa rasa malu meminta lagi jatahnya sebagai seorang suami.
__ADS_1