CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 21 : Pria berjubah hitam.


__ADS_3

Hanada bersiap untuk acara penyambutannya, seorang tabib membalut luka nya dan menaruh racikan herbal dibekas sayatan pedangnya.


Hanada menatap bekas lukanya, jika Hanada sudah menguasai elemen air pasti dia akan mengobati lukanya sendiri. Dengan itu, lukanya akan dengan cepat sembuh.


Hanada berjalan ke singgasana raja, ayahnya sudah menunggu disana. Para penjaga membukakan pintu yang menjulang tinggi hampir ke langit-langit untuk Hanada.


Wanita itu menelan ludah, melihat ayahnya memakai baju kebangsaan mereka. Pakaian yang raja pakai seharusnya hanya digunakan untuk acara penting kerajaan.


Diruangan luas itu beberapa petinggi inti kerajaan berkumpul, mereka memberi salam pada Hanada dengan menundukan kepala mereka.


"Hanada..." Ayahnya membuka suara terlebih dahulu.


Hanada memberi hormat dengan menekukan lututnya,


"Ya Yang Mulia."


"Usiaku sudah tidak muda lagi dan kau adalah pewarisku satu-satunya." Kata Raja Nahda.


"Tapi sayangnya, seorang perempuan tidak bisa menjadi seorang kesatria, Hanada. " Raja bangkit dari duduknya dia mulai berjalan mendekat ke arah ayahnya.


"Apa maksud Yang Mulia?" Hanada mengernyitkan dahi.


"Hari ini calon suami mu dari Kerajaan Brahma akan datang." Raja memegang kedua bahu putrinya dan membantunya berdiri.


Hanada melepaskan diri dari ayahnya, dia menggeleng lalu mundur beberapa langkah.


"Kenapa ayah? Dengan segala hormat aku menolak permintaanmu." Perkataannya membuat semua orang ricuh.


"Aku mohon, izinkan aku membuktikan bahwa aku layak memimpin Kerajaan ini." Hanada menatap Raja dengan penuh keyakinan..


Dia hanya ingin menjadi kesatria, dia merasa mampu memimpin Nahdara tanpa bantuan seorang Raja dan suami sekalipun.


"Hanada, Dengarkan aku!! Usiamu sudah 20 tahun. Ini sudah saatnya kau menikah. Kau tahu, aku tidak bisa menyerahkan takhta ku pada seorang wanita, Hanada!!"


"Tidak ada sejarah bagi Kerajaan kita, untuk dipimpin oleh seorang wanita!!" Raja Nahda menatap Hanada tajam, Hanada menggeleng tidak mengerti dengan peraturan kuno seperti itu.


"Aku putrimu, Kau bisa merubah aturan itu Yang Mulia." Hanada tetap teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Awalnya, kupikir begitu. Tapi, aku tidak bisa merubah aturan yang sudah ada semauku. Hanada, kau masih bisa memimpin Nahdara dengan gelar mu sebagai Permaisuri." Raja Nahda mendekat lagi ke putrinya.


Hanada mundur beberapa langkah menjauhinya, semua petinggi menyayangkan sikap Hanada. Mereka semua meributkan hal itu. Hanada berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan ayahnya dan para petinggi. Semua orang mencibir sikap Hanada.


"Inilah akibatnya jika kau membiarkan Seorang Putri berilmu Pedang dan Sihir di Akademi itu. Dia pikir dia bisa menjadi kesatria. Cih" salah seorang petinggi berbisik ke petinggi lain.


Raja Nahda yang masih terpaku melihat Hanada pun mendengar bisikan itu, dia mendengus lalu menunduk. Bagaimanapun, rencana sudah diatur sebelum kepulangan Hanada.


Aturan dari Kerajaan Nahdara adalah tidak membiarkan seorang wanita untuk memimpin kerajaan, seorang wanita hanya bisa mendampingi suaminya sebagai seorang Permaisuri dan hanya bisa memimpin sebagian wilayah atas izin Raja.


Kerajaan Brahma adalah kerjaan yang dipimpin oleh Adik ipar Raja Nahda. Adiknya yang bernama Putri Nauri, menikahi seorang Putra Mahkota Kerajaan itu. Sehingga, mereka memutuskan untuk menikahkan kedua anaknya agar takhta kerajaan tidak jatuh pada yang lain.


Pria yang akan di nikahkan dengan Hanada adalah Putra Mahkota Kerajaan Brahma, yang bernama Isa. Yang tak lain adalah sepupu Hanada sendiri.


Raja Nahda berjalan kembali ke singgasananya, penasihat nya bertanya tentang kelangsungan acara nanti.


"Bagaimana kelanjutannya Yang Mulia?" Tanyanya sambil menunduk.


"Tetap lakukan sesuai perintahku sebelumnya, jaga ketat Hanada agar dia tidak pergi dari Kerajaan!" Titah sang Raja.


"Baik, Yang Mulia." Ucap penasihatnya.


*


*


Air menyeringai, dia memberikan sahabatnya itu segelas air saat Candrasa sudah dalam posisi duduk.


"Segar sekali, tenggorokanku terasa sangat kering." Candrasa tersenyum pelan.


"Tentu saja, kau tertidur selama 3 hari," Air tertawa kecil mengejek sahabatnya itu.


Candrasa menoleh ke arah pintu kamarnya, dia seperti sedang mengharapkan seseorang untuk datang.


"Mencari siapa?" Air yang peka akan hak itu langsung bertanya padanya.


"Apa Hanada tahu aku sudah sadar?" Candrasa menatap Air yang duduk di kursi diaampingnya.

__ADS_1


"Kurasa belum." Air menunduk, dia tidak mungkin mengatakan hal itu sekarang.


"Bukankah Guru Wija sudah tahu?" Tanya Candrasa lagi.


"Ya, Guru sudah tahu. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Dia pasti akan tahu hal ini cepat atau lambat." Jawab Air sambil menutupi kebohongannya.


Candrasa hanya mengangguk lalu melamun, ada banyak hal yang sedang dia pikirkan. Segala teka-teki yang belum terpecahkan harus segera di ketahui.


Dari mulai, Pedang Kemukus kecil itu. Dari mana Hanada mendapatkannya, juga tentang perkataan yang Hanada maksud saat dia dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Candrasa merasakan energinya yang berputar cepat membantunya untuk pulih lebih mudah. Dia yakin, hanya butuh beberapa waktu lagi untuk dia pulih seutuhnya.


Rakyat Amarata yang mengetahui kondisi Candrasa sudah sadar sangat bergembira. Kali ini mereka sedang berkumpul bersama sambil membicarakan keteguhan Candrasa untuk menyembuhkan wabah yang menyerang mereka.


"Aku merasakan saat Putra Mahkota diumumkan pergi mencari pedang itu, rasa sakit di tubuhku mulai membaik." Kata seorang wanita paruh baya yang menunjukan bekas garukan dan luka lepuh pada tangannya.


"Kau berlebihan!!! Ku dengar, dia bahkan gagal mendapatkan pedang itu." sahut seorang pria yang memakai ikatan dikepala.


"Tapi, aku sangat suka dengan keberaniannya. Seperti yang kita tahu, iblis bayangan bukanlah lawan yang mudah dikalahkan bukan." Yang lain ikut berbicara dan mengagungkan Candrasa.


Tidak lama suara ricuh dari arah pasar terdengar, seorang pria yang sedang kesakitan berlarian seperti orang kesetanan. Dia bahkan mengibas-ngibaskan pedangnya sembarangan pada orang lain.


"Mati kalian !!! Mati!!!" Teriak pria itu, sesekali dia menggaruk tangannya yang memegang pedang.


Pemandangan yang mengerikan, bagi sebagian orang. Melihat nya seperti itu membuat mereka mual, luka lepuh ditubuhnya bahkan terkoyak akibat garukannya yang ganas.


"Lihat??? Pencarian pedang yang dilakukan Putra Mahkota tidak berarti apa-apa. Kita masih dalam kondisi yang sama!! Wabah ini masih menghantui kita!!!" Salah seorang pria tadi merasa kecewa pada Candrasa, dia mulai mencoba memprovokasi rakyat agar sepaham dengannya.


"Benar!!!!" Kata beberapa pria lain dengan kompak.


"Kita harus segera ke Istana!!! Jika mereka masih belum bisa mengatasi wabah ini dengan baik, Kita paksa mereka turun dari Takhtanya !!!!!" Kata Pria tadi sambil mengangkat tangannya.


"Benar!!!! Setuju!!!!" Rakyat mulai terpengaruh oleh perkataan pria itu.


Seorang pria berjubah hitam menyaksikan kericuhan yang ada diantara Rakyat Amarata. Dia tertawa kecil, matanya menyiratkan kebahagiaan. Siapa sebenarnya pria itu. Pria berjubah hitam dengan pedang yang terukir dengan indah dipinggangnya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2