CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
BAB 34 : Misi penyelamatan II


__ADS_3

...*KERAJAAN NAHDARA*...



Kerajaan yang terlindungi benteng yang tinggi itu kini nampak kacau, kobaran api dimana-mana. Ini terlihat seperti pembajakan yang terencana.


Mungkin, sudah bertahun lamanya Kerajaan Brahma menunggu momen ini. Kerajaan Brahma adalah satu-satunya kerajaan yang mengizinkan penggunaan ilmu hitam. Mereka secara terang-terangan melakukan ritual ilmu hitam. Disana, gudangnya para shaman¹.


Malam itu, Nahdara terlihat suram. Langit malam menambah kesan mengerikan. Mungkin, hari itu akan menjadi hari peringatan dimana semua orang Nahdara mengalami hal yang menakutkan.


Penyiksaan tak berujung, memaksa mereka mematuhi perintah Kerajaan Brahma. Rakyat berlomba untuk bersembunyi dari kekuatan para penyihir jahat.


Terlebih, Kakuatan jahat si Ratu Naira.


Candrasa dan Air masih dalam keadaan berjaga, mereka memperhatikan setelah ini ada hal apalagi yang akan dilakukan. Wanita muda yang terjatuh ke tanah tadi masih terkapar lemas ditanah. Tidak ada yang berani memeriksa keadaanya selagi Penyihir bermahkota itu ada disana.


Salah seorang kepala prajurit Brahma menemui Ratu Naira dengan tergesa,


"Putri Hanada kabur dari penjagaan." Bisik prajurit itu.


Ratu Naira memicingkan matanya tajam, "Jangan biarkan Hanada lolos!" perintahnya sudah turun ke para prajurit. Kini, Ratu Naira memutuskan untuk kembali ke Istana Nahdara.


"Kalian, cari putri Hanada sampai dapat!" Salah Seorang Prajurit memerintah Candrasa dan juga Air. Mereka pun mengangguk lalu berjalan ke arah Istana Nahdara.


"Air kita harus menemukan Hanada sebelum para prajurit itu." kata Candrasa sambil menatap sahabatnya.


Air mengangguk mengerti, "Kau benar, mari kita berpencar."


Candrasa dari air pun berjalan berlawanan arah, pertama Air mencarinya ke area dapur istana. Sedangkan Candrasa menaiki tangga menuju beberapa ruangan yang ada di atas sana.


"Mungkin saja Hanada ada di atas sana." Kata Candrasa sambil menatap tangga yang meliuk-liuk sampai ke atas itu. Sedangkan di sisi lain, Hanada masih mengendap-ngendap berjalan di dalam jalan rahasia yang ada di dinding kerajaan Nahdara, sambil memperhatikan situasi dia tahu orang-orang ini sudah mengetahui bahwa dirinya tidak ada di kamar.


Isa mendobrak kamar Hanada, dilihatnya seorang wanita yang sedang berpakaian pengantin tertidur di ranjang milik Hanada.


"Hanada sayang," Kata Isa sambil menyeringai.


Isa sudah tahu bahwa yang tertidur disana bukanlah Hanada melainkan seorang dayang yang menggantikan Hanada. Dayang itu gemetar saat mendengar suara langkah kaki Isa mendekat.

__ADS_1


Dia mulai merasakan panas dingin di tubuhnya, dengan perlahan Isa berjalan mendekat ke arah wanita itu, Sreeett suara pedang yang dia keluarkan dari sarungnya membuat dayang itu semakin bergemetar.


Isa sudah tahu bahwa dia bukanlah Hanada, walau dengan mata tertutup pun dia pasti mengenali wanita yang dia cintai. Isa mulai mengacungkan pedangnya tinggi, sedangkan dayang itu masih menghadap belakang membelakangi Isa.


Dengan menggigit jari dia menunggu apa yang akan dilakukan pria itu. Isa Mengayunkan pedangnya,


Sret


Ujung pedang pria itu menyayat tepat di belakang leher dayang tadi, seketika darah pun mengalir dengan deras bahkan membuat pakaian pengantin yang seharusnya digunakan Hanada berubah menjadi berwarna merah.


Belum lagi kain penutup tempat tidur Hanada yang sekarang berlumuran darah. Dayang itu sudah meninggal, Isa kembali menghadap ke belakang dan berbicara pada para prajuritnya.


"Cari Hanada sampai ketemu dan bahwa dia menemui ku! Jika kalian gagal kalian akan bernasib sama seperti wanita ini." kata Isa sambil menatap mereka tajam.


Para prajurit itu mengangguk, "Baik Pangeran," Kata mereka. Prajurit itu pun pergi dari kamar Hanada. Dan Isa, kembali ke ruang singgasana Nahdara. Dilhatnya, ibunya baru sampai ke sana.


"Hanada kabur?" Tanya Ibunya pada Isa. Isa pun mengangguk, dia meras geram karena diwaktu yang tinggal sedikit lagi ke pemberkatan. Hanada malah kabur.


"Apa kau ingin Ibu menggunakan boneka voodoo²?" Tanya Ratu Naira pada Isa..walaupun Isa kesal, dia tetap tidak ingin sesuatu hal terjadi pada Hanada.


Diia tetap mencintai wanita itu, ibunya pun mendengus kesal melihat betapa cintanya anak itu pada Hanada. Ratu Naira, duduk kembali ke Singgasana raja. Sedangkan di sebelah kiri ada Raja Nahda yang sudah siap dengan pakaiannya.


Sedangkan Raja Brahma, menggantikan Ratu Naira di pedesaan. Air berjalan memasuki perdapuran kerajaan, di sana terlihat beberapa juru masak masih sibuk membuat hidangan Mereka dipaksa untuk membuatkan makanan bagi para prajurit dan juga semua orang dari Kerajaan Brahma.


Beberapa penjaga baru muncul, bahkan ada yang menepuk pundak pria itu.


"Kau mau minum?" tanya prajurit itu pada Air, dengan gugup Air mengangguk. Dia tidak banyak bicara. tapi saat melihat salah satu dari prajurit itu mengganggu Juru Masak di sana dia agak geram.


Dia masih memperhatikan prajurit itu, kini prajurit tadi memeluk seorang juru masak wanita dari belakang.


"Lepaskan aku!" kata juru masak itu.


"Memangnya kau tidak ingin bersenang-senang?" tanya salah seorang prajurit.


"Dasar kau keparat, aku tidak mungkin mau bersenag-senang denganmu!" Jawab wanita itu, dengan wajah yang memerah prajurit tadi menampar sang juru masak.


Dia dengan kasar merobek bagian lengan pakaian wanita itu, Air membelalak, dia sudah siap dengan pedangnya. Dia ingin sekali langsung menebas pria tadi, karena telah melecehkan seorang wanita.

__ADS_1


"Hei jangan beraninya dengan seorang wanita!" kali ini Air sudah mengeluarkan pedangnya, dia mengarahkan pedang itu lurus ke arah prajurit di sana.


Prajurit itu pun membelalak, "kau berani mengacungkan pedangmu padaku? Bukankah kau prajurit Brahma juga?" Pria itu memicingkan mata menatap Air.


"Tunggu, Sepertinya aku tidak pernah melihatmu saat berlatih." kata salah seorang prajurit lain. Prajurit yang tadi melecehkan seorang wanita pun merasa geram, dia langsung mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pada Air yang ada tepat 20 langkah didepannya.


Dia berjalan menghampiri Air, "Sialan, siapa kau?" tanya pria itu. Air langsung ancang-ancang, dia tidak akan membuang tenaga. Hanya untuk melawan prajurit kecil seperti mereka.


Trang Trang...


Aduan benda tajam terdengar melengking ditelinga. Melihat keadaan semakin memanas teman prajurit yang lain pun langsung mengeroyok Air. Sedangkan wanita yang menjadi Juru masak tadi langsung pergi menjauh dari sana.


Air menahan setiap serangan orang-orang itu dengan baik. Air kemudian mengalirkan energi pada pedangnya. Pria itu belum menguasai elemen apapun. Bahkan, dia masih belum tahu unsur aoa yang ada pada dirinya.


Tapi, saat Air mendekat ke tungku api, kenapa api itu berkobar. Air mengernyitkan dahi.


"Hyaaaa!" ketiga orang pria itu menyerang Air bersamaan, Air menghunuskan pedangnya pada salah satu prajurit.


Jleb


Satu prajurit langsung terkapar dengan darah yang keluar dari perutnya, tinggal dua lagi yang masih berusaha menyerang air.


Setiap kali langkah kaki Air mendekat ke tungku api, api itu berkobar bak terkena angin. Dia pun mencoba mengarahkan pedangnya pada tungku itu dan betapa terkejutnya Air.


Api tadi, kini berkobar dan menjalar ke pedang miliknya.


"Apa ini yang dimaksud elemen api?" Disaat yang seperti itu, Air masih bisa menyeringai. Prajurit tadi hanya menatap Air bingung.


"Hyaaaa!!" Air menyerang kedua prajurit tadi.


...****************...


...****************...


**Kamus Author :


Shaman ¹ : Fokus pada penguasaan roh sihir seperti memanggil roh sihir dengan voodoo

__ADS_1


Voodoo² : Boneka sebagai alat sihir**


__ADS_2