CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 40 : Rahasia besar


__ADS_3

Sinar matahari menyorot ke arah kamar yang ditinggali Air dan Candrasa saat itu, dua ranjang untuk satu orang terletak berdampingan. Salah seorang dari mereka masih menghangatkan tubuhnya dengan kain tebal hangat berbahan sutra.


Salah seorang lagi, sudah berdiri di dekat jendela sambil melihat beberapa rakyat yang mencoba membereskan kekacauan semalam. Pria itu menghela nafas panjang.


Tanda apa ini sebenarnya?


Ternyata, pikirannya masih diselimuti oleh arti dari simbol yang secara misterius muncul di lehernya. Dia juga kelimpungan karena berusaha mengingat kejadian kemarin yang sama sekali tidak tersisa dipikirannya.


Wajahnya merenung, harta kekayaan, statusnya sebagai Putra Mahkota dan juga ketampanannya itu tidak berarti apa-apa jika dia gagal menyelamatkan rakyatnya sendiri. Menghilangkan wabah misterius itu dari Amarata.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari balik arah berlawanan, Air yang tadinya berbaring pun kini mengerjap bangun. Dilihatnya Candrasa berjalan lurus ke arah pintu, dia membukakan pintu itu lalu melihat dua orang pelayan juga Hanada di depannya.


"Hai!" Hanada mengangkat tangan menyapa Candrasa.


Pria itu menyeringai lembut ke arah wanita di ambang pintu.


"Kalian kembali saja ke tempat tadi. Aku harus berbicara dengan mereka." Hanada menoleh ke arah dua pelayannya.


"Baik Putri," ucap kedua pelayannya kompak. Mereka meninggalkan Hanada di kamar keduanya.


Dia melangkah masuk dengan cepat lalu menutup pintu, Air yang baru saja bangun masih merasakan berat di area matanya, dia duduk di ranjang itu menatap Hanada yang mengeluarkan sesuatu.


"Candrasa kau harus lihat ini!" Hanada mengeluarkan buku hitam dengan akar didepannya.


"Apa itu Hanada?" Candrasa mendekat ke arah Hanada, begitupun dengan Air yang kini sudah beranjak dari tempat tidur.


"Kau buka saja, buku ini merupakan simbol-simbol yang berkaitan dengan ilmu hitam. Semua simbol di sini ada maknanya." Kata Hanada dengan mata yang membelalak menatap Candrasa.


Air hanya kebingungan melihat gadis itu menjelaskan rinci. Hanada membuka bagian dimana tanda yang dimiliki Candrasa tertulis.


"Lihat, ini sama persis seperti tanda yang kau miliki." Air mendekat dari belakang Hanada dan Candrasa.


"Artinya, jiwamu telah bercampur dengan roh kegelapan?" Air mengerutkan dahinya.


"Apa ini berkaitan dengan kejadian yang ku alami?" Pangeran Amarata masih berpikir keras mencoba memecahkan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Maksudmu?" Hanada mengerutkan dahi, dengan balutan pakaian putri dia nampak begitu menawan.


"Aku kehilangan sebagian memoriku kemarin malam, aku hanya mengingat bagian di saat kita berada di bilik rahasia itu Hanada." Candrasa menatap Hanada agak lama.


"Aku ingat, saat itu kau mengatakan bahwa Nahdara adalah kerajaanmu!" Hanada teringat ucapan pria itu kemarin.


Candrasa dan Air saling bertukar tatap, "Apa kau mengira ini Amarata?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak ingat telah mengatakan itu." Jelas Candrasa.


"Apa ini ada kaitannya dengan kakekmu?" Air menunggu jawaban sahabatnya.


"Apa ? Siapa kakeknya? Kenapa tidak banyak hal yang aku tahu!" Hanada menatap mereka berdua agak geram, seolah mereka sedang merahasiakan sesuatu darinya.


"Hanada, aku akan menjelaskannya." Ucap Candrasa dengan lugas.


"Waktu itu, saat aku tak sadarkan diri. Jiwaku berada di dalam sebuah Istana milik seorang Raja, tempat itu tak kasat mata begitupun orang-orang di dalamnya. Mereka dikutuk sehingga menjadi abadi dalam rupa yang mengerikan dan terjebak disana." Jelas Candrasa dengan lugas pada kedua sahabatnya.


"Satu-satunya cara agar mereka kembali ke dunia ini dan beristirahat dengan tenang adalah dengan pedang Kemukus itu. Pedang itu adalah pusaka milik Raja yang kutemui, dan penguasa itu adalah kakekku. Itu sebabnya aku bisa membuat kemukus kecil bersinar dalam genggamanku Hanada." Lanjut Candrasa sambil menatap mereka.


"Itulah sebabnya aku kesini, aku ingin tahu tentang kemukus yang ada padamu dan Nahdara, apakah kalian menyimpan pedang yang utama juga?" Candrasa menunggu jawaban Hanada.


"Jelas aku tidak tahu, selama aku disini aku tidak pernah melihat pedang itu dimanapun. Tapi mungkin, ayahku tahu keberadaan pedang itu, mari kita tanyakan padanya dan menjelaskan semua ini pada ayahku." Hanada ingin Putra Mahkota itu bertanya langsung pada ayahnya.


"Tidak Hanada. Aku tidak boleh gegabah." Candrasa menggeleng, Air sebenarnya setuju dengan Hanada. Dia yakin, itu akan memudahkan sahabatnya dalam mencari pedang itu.


"Percayalah padaku, ayahku akan menjawab semua pertanyaanmu. Apalagi kami telah berhutang kepada kalian, aku akan senang membantumu Candrasa begitupun dengan ayahku. Mari ikut aku, ke ruang jamuan." Hanada mendahului keduanya keluar dari kamar.


Candrasa mengikuti Hanada dari belakang sedangkan Air, memutuskan untuk ke pemandian dulu untuk membasuh wajahnya.


Keduanya berjalan tak beriringan karena Hanada harus berjalan di depan Candrasa mengingat tempat itu adalah kerajaannya.


Sesampainya di ruang jamuan, terlihat ayahnya yang sedang duduk dengan pakaian kebangsaan seorang raja. Pria tua itu menyambut Candrasa dengan sumringah.


"Duduklah nak!" Pinta Sang Raja.


"Terimakasih," Candrasa mengangguk lalu duduk di samping Hanada.

__ADS_1


"Kemana temanmu?" Raja Nahda melihat ke arah mereka masuk. Tapi tidak ada Air disana.


Kemudian tak lam, pria itu pun datang dengan berjalan percaya diri menghampiri ke tiganya, disamping meja makan besar itu ada pelayan yang berdiri disekitarnya.


Air menatap jamuan yang terhidang dengan rapih dan banyak itu, segala jenis lauk tersedia disana.


"Silahkan dinikmati!" Seru Raja Nahda.


Mereka semua kemudian melahap makanannya secara perlahan, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Sampai Hanada memecahkan keheningan.


"Yang Mulia," katanya dengan gelagapan.


"Iya Tuan Putri," ayahnya tersenyum dan berbicara dengan lembut.


"Apakah ada yang ayah ketahui tentang pedang kemukus?" Hanada menunggu jawaban Sang Ayah.


"Pedang Kemukus? Dari mana kau tahu soal itu?" Raja Nahda menatap Hanada heran.


"Pedang Kemukus adalah pedang kecil yang ayah berikan padaku kan?" Tanya Hanada lagi dengan penasaran.


"Ya, itu benar. Tapi itu bukan pedang utamanya." Raja Nahda menggeleng.


"Lalu, bolehkah kami tahu dimana keberadaan pedang utama itu?" Hanada kembali mencecar pertanyaan pada Raja Nahda. Ayahnya sangat terlihat kebingungan dengan tujuan putrinya menanyakan hal itu.


"Hanada, apa tujuanmu bertanya hal itu?" Tanya Raja Nahda.


"Bukankah ayah tahu bahwa itu milik Kakek Candrasa?" Hanada bertanya pada intinya.


Pria tua itu sangat terkejut mendengar pertanyaan putrinya, hal yang selalu dia sembunyikan dan coba dia kubur itu. Kini diketahui langsung oleh keturunan mereka.


Bukankah Dara berjanji untuk tidak mengungkapkan hal ini?


Batin Raja Nahda menggema, suara itu bahkan terngiang dipikirannya. Dia tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Bukankah menjaga rahasia itu seperti pedang bermata dua, hal itu bisa melindungimu atau bahkan menyakitimu.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2