![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Cermin di dinding menunjukan sisi lain dari Candrasa, hanya itulah satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan roh kegelapan yang merasuki tubuhnya.
Replika yang terpantul di cermin pun menyeringai, "Aku ingin membuat perjanjian" ujar Candrasa pada cermin.
"Perjanjian? Apa itu?" sahut dirinya dalam versi lain.
"Aku tidak ingin kau menguasai tubuhku, aku tidak ingin kau muncul sesukamu." Candrasa menatap datar pria yang katanya kakeknya itu.
"Baiklah, katakan syaratmu!" kata pantulan dirinya.
"Munculah saat aku yang memintamu! Setiap kali aku terluka dan mengeluarkan darah, kau harus muncul dan membantuku!" Ujar Candrasa.
"Kau tidak berniat menjadikan kakekmu ini budakmu kan?" pantulan Candrasa tertawa keras.
"Asal kau ingat, sekalipun kau hanya tertusuk jarum kecil dan mengeluarkan darah. Aku akan muncul," ucap pria itu.
Candrasa mengangguk setuju, hanya itu yang bisa dia lakukan agar roh kegelapan tidak menguasai dirinya. Dia hanya akan meminta bantuan pria itu saat keadaan mendesak, saat ia benar-benar terluka.
Tuk tuk tuk
Suara langkah kaki terdengar, dilihatlah Air yang sudah di ambang pintu ruang ganti. "Kau bicara dengan siapa?" tanya Air, yang membuat Candrasa tersentak kaget.
"Tidak ada," jawab Candrasa.
"Kau sangat beruntung," Air mengambil langkah mendekat ke arah Candrasa, dia mengambil pakaian yang ada di lemari kayu kuno di sampingnya.
Rupanya, roh kegelapan sudah menghilang. Candrasa dengan gugup melihat dirinya di cermin, hanya ada pantulan yang dia yakini adalah dirinya sendiri.
"Simbol di leher mu hilang? Dan kenapa kau memegang kemukus?" Air mengangkat kedua alisnya kebingungan.
"Ya, aku menggunakan bendi ini untuk menghilangkannya, tapi ini hanya sementara Air." kata Candrasa.
Air pun mengangguk, dia kemudian melenggang pergi meninggalkan Candrasa dari ruangan. Sedangkan Putra Mahkota, kini keluar dari sana dan berlatih kembali di area pelatihan.
__ADS_1
Dia berjalan selangkah demi selangkah melewati beberapa tempat latihan setiap tingkatan. Kini dia berkumpul di tempat pelatihan tingkat panca. Hanya ada pria itu seorang diri yang berdiri disana, sambil membawa pedang khusus guru Wija, Candrasa menunggu gurunya datang.
Tempat ini lebih luas dari pada yang lain dan lebih banyak material yang bisa di gunakan untuk mengasah kemampuan untuk tingkatan ini. Tingkat Panca adalah ilmu tingkat tinggi, tapi walaupun begitu harus tetap di latih agar si pemilik ilmu tinggi itu mampu mengendalikan ke empat elemen alam semesta.
Guru Wija pun datang menemui Candrasa yang berdiri di sana, "Candrasa!" Sapa gurunya dengan seringaian lebar di pipi.
"Salam guru," Pemuda itu memberi hormat pada gurunya, dia tersenyum dan sudah siap untuk mendapatkan pelatihan dari pria tua berkarismatik tersebut.
"Kau sudah siap? Sekarang tunjukan padaku, bagaimana kau mengatur nafasmu. Kali ini aku akan mengajarkanmu ilmu berjalan di atas air dengan ilmu meringankan tubuh, atau berdiri di ranting pohon dengan ilmu itu." guru Wija melangkah ke depan Candrasa.
Pria itu sangat bersemangat untuk belajar berjalan di atas air sekarang, ilmu itu di sebut Ginkang. Ilmu meringankan tubuh dengan beberapa gerakan, sebelumnya Candrasa harus melakukan pemanasan terlebih dahulu. Karena ilmu Ginkang sudah dia kuasai sejak awal, ini tidak akan terlalu sulit untuknya.
Setelah melakukan beberapa pelatihan ringan, kali ini guru Wija mengajak Candrasa ke sebuah kolam yang diisi ikan-ikan hias di belakang asrama, pria itu akan mencoba ilmu berjalan di atas air di sana.
"Kau sudah yakin? Ini tidak semudah yang kau bayangkan," guru Wija tertawa kecil. Dia melihat sorot mata Candrasa yang percaya diri.
"Aku sudah tidak sabar guru, aku aka mencobanya sekarang!" pria itu langsung berlari dan byurrrr.
"Candrasaaaa!" guru Wija menggelengkan kepala, sayang sekali sikap ceroboh anak itu masih ada.
Candrasa yang sudah tercebur ke air kolam hanya bisa menatap tubuhnya dengan datar, dia benar ceroboh. Sekarang, pakaiannya jadi basah kuyup.
Di kejauhan, Air menatap Candrasa dan guru Wija sedang mempelajari ilmu itu. Lagi-lagi, dia merasa iri melihat Candrasa mendapat pelatihan khusus dari guru Wija.
*
*
...Gunung Sara...
Pria bersisik ditangannya sedang menatap datar hamparan lautan luas di depannya. Dia berdiri di atas puncak gunung sara yang menyimpan banyak misteri. Hutan mati itu, kini di kuasai oleh seorang inkarnasi Imoogi.
Tuk tuk tuk
__ADS_1
"Hidanganmu sudah siap!" kata seorang pria berjanggut, namun kulitnya sama sekali tidak memperlihatkan keriput sedikitpun, padahal usianya sudah sekitar 500 tahun.
Di belakangnya ada seorang pria dengan kain melilit di wajahnya, membawa seorang gadis berusia sekitar 17 tahun dan mendorongnya ke depan jelemaan imoogi itu.
"Aaaaaaah! Lepaskan aku! Tolong, siapapun tolong aku!" teriak gadis yang kinintersungkur di hadapan imoogi.
Kedua orang lainnya pergi dari sana dan meninggalkan gadis itu dengan pria jelemaan imoogi itu. Dia mendekat selangkah demi selangkah sampai mencongkong di hadapannya.
Dia melebarkan pergelangan tangannya, dan meletakan itu di hadapan wajah gadis yang kini seperti terhirup ke dalam tubuh imoogi, ya, energi dan kehidupan gadis itu di serap habis ke dalam tubuhnya sampai menjadi kering seperti mumi.
Setelah selesai pria itu dengan entengnya melempar sisaan dari gadis itu dan berjalan turun dari gunung menemui pengikut setianya.
"Guru," ujar seorang pria yang menutupi wajahnya dengan kain.
"Sudah lama sekali kau tidak kemari," jawab gurunya.
"Ada banyak masalah di kerajaan, belum lagi pangeran yang menuntutku banyak hal." sahut pria misterius tadi.
"Setelah ini semua, apalagi yang kau harapkan? Kau sudah membuat kerajaan itu rusak dari dalam." gurunya menyeringai sambil menuangkan teh dangon ke dalam cangkir tanah liat.
"Ini belum sepenuhnya hancur guru, aku harus membalas kematian ayahku." pria itu perlahan membuka lilitan kain di wajahnya.
Dia meminum teh yang sudah di sediakan gurunya, "kapan kau siap membawa anakmu padaku? Ku dengar, dia pria yang sangat tangguh."
"Secepatnya, setelah dia mencapai tingkat panca, aku akan membawanya kesini dan menemuimu guru." jawab pria itu sambil melihat datar pemandangan hutan yang sunyi.
"Aku sudah lelah melayani pangeran lemah itu! Aku berusaha tetap mematuhinya demi posisiku di kerajaan." Orang itu mengerutkan dahinya, dia merasa kesal dengan semua perintah pangeran tak berilmu.
"Jika kau bisa membuatnya menjadi penguasa, akan lebih mudah bukam untuk mengambil alih kerajaan itu? Yang harus kau lakukan hanyalah menyingkirkan Raja saat ini dan putra mahkotanya." gurunya meminum teh yang sama dengan pria itu.
"Benar, guru, tapi aku tidak akan mampu melakukan itu tanpamu." jawabnya sambil menyeringai jahat.
"Tenang saja... Doha ... Aku pasti akan membantumu."
__ADS_1
...****************...
...****************...