CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 33 : Misi penyelamatan


__ADS_3

PERBATASAN AMARATA DAN NAHDARA...


Candrasa dan Air mulai berjalan memasuki perbatasan dengan sangat hati-hati mereka melewati beberapa bandit. Mereka tidak boleh terlalu mencolok.


Bahkan, jangan sampai mereka melakukan ilmu sihir diluar sana, jika ia ,kemungkinan mereka tidak akan di biarkan masuk karena akan dianggap suatu ancaman untuk Nahdara.


Dilihatnya, penjaga kali ini berbeda dengan penjaga yang biasa menunggu perbatasan. Ada pria bertanduk dan berbadan besar dengan kaki keledai. Candrasa pun menoleh ke arah Air.


"Makhluk apa itu?" Tanya Candrasa pada Air.


"Aku tidak tahu, tapi aku pernah mendengar cerita soal Faun." Air melilat Candrasa. Keduanya ditutupi kain biru dibagian wajah.


"Faun? Makhluk mitologi? Bukankah mereka sudah punah?" Bisik Candrasa pada Air.


"Setahuku begitu, Tapi yang kudengar Kerajaan Brahma menguasai wilayah yang dulunya menjadi tempat perkumpulan makhluk mitologi kuno." Kata Air sambil tetap waspada.


Mereka berdua mulai melewati penjagaan, "Siapa kalian? Tidak boleh ada yang masuk ke Nahdara untuk sementara waktu!" Kata seorang penjaga, yang ini benar manusia. Tapi, sepertinya, bukan prajurit Nahdara juga.


"Kami rakyat Nahdara," Kata Air.


"Oh benarkah? Coba buktikan!" tantang penjaga itu sambil tertawa kecil.


Candrasa dan Air bertukar tatap, bagaimana cara membuktikannya. Candrasa berpikir keras, kemudian dia pun punya ide brilian.


"Ini," Candrasa menunjukan Pedang Kemukus kecil pada penjaga itu.


Dengan genggaman Candrasa pedang kecil itu mulai bersinar, Candrasa menunjukkannya kepada para penjaga yang sekarang tercengang melihatnya.


"Ini benda milik Tuan Putri, sepertinya dia menjatuhkannya di wilayah pasar Amarata. Jadi, kami harus segera memberikannya pada Tuan Putri." kata Candrasa.


Para penjaga itu pun tertawa kecil, "Wah ini benda yang sangat bagus, berikan pada kami! biar kami saja yang menyerahkan kepada Putri hanada." Penjaga itu mengulurkan tangannya.


"Tidak bisa, kami harus menyerahkannya langsung. Bagaimana jika kalian tidak menyerahkannya? Pedang ini adalah senjata berharga baginya." kata air yang ikut berbicara.


Penjaga itu pun menatap mereka dengan tajam, "kalau begitu kalian dilarang masuk ke wilayah Nahdara." Ke dua penjaga itu saling melempar senyuman.


Candrasa pun menyerahkan pedang itu, tapi sebelum diambil alih, Candrasa langsung menyerang penjaga itu dengan Pedang Kemukus kecil.


Pria itu pun terhempas kebelakang, itu semua karena Candrasa menggunakan kekuatan energinya untuk mengaliri pedang kemukus kecil. Air membelalak melihat Candrasa yang bertindak agresif. tapi, dia senang, itu tandanya dia bisa mulai menyerang penjaga itu.

__ADS_1


Air pun mengambil dan mengeluarkan pedang dari sarungnya, dia mengacungkan pedang itu sambil menyeringai. Matanya terlihat mengecil, para penjaga yang melihat itu pun mulai bersiap melawan mereka. Mereka pun dengan sigap mengeluarkan pedang yang mereka miliki.


"Hyaaaaaa !!!" teriak para penjaga sambil berlari ke arah Air dan Candrasa.


Air memutar kan badannya untuk menghindar dari serangan, sedangkan Candrasa langsung mengeluarkan satu pedangnya.


Trang trang..


Suara aduan benda tajam itu terdengar, Candrasa mundur beberapa langkah. Air tidak segan-segan untuk menyayat orang-orang itu. Candrasa menoleh ke arah Air


Demi Hanada, dia pun kembali menyerang pria-pria itu. Faun yang sebelumnya mereka lihat, kini menatap ke arah keributan. Dengan kaki keledainya dia berlari dengan cepat dan menukik ingin menendang Candrasa.


Untunglah, sebelum kedua kaki tebal itu menghantam dadanya, Candrasa berhasil menghindar. Dengan tatapan memicing Candrasa berdiri.


Dia memasukan pedang kecil, lalu meraih pedang satunya lagi. Dia menyilangkan kedua pedang lalu mengalirkan energi. Salah seorang penjaga membelalak melihat teknik yang digunakan Candrasa.


"Panca! Dia sudah tingkat ke- 4?" Tanyanya, bergumam. Pria itu hendak berlari kedalam Nahdara untuk melaporkan tapi dengan cepat Air melempar pedang yang ia punya dan tepat menancap dada penjaga itu.


Kini, hanya tersisa si Faun, dia mundur beberapa langkah. Rupanya hanya wujudnya saja yang menyeramkan. Tapi, ilmu nya tidak sebanding dengan Candrasa.


Candrasa memisahkan kedua pedang yang menyilang, sinar terang meluncur cepat ke arah Faun itu.


Brakkkk


Juga, Faun yang terkapar lemas akibat serangan Candrasa, dilihatnya bekas serangan tadi, garis hitam mengakar ditubuh Faun bak tersambar petir.


Candrasa dan Air langsung melanjutkan perjalanan ke Nahdara, sebelum itu, Candrasa dan Air menyeret dua prajurit yang pingsan, dan mereka membuka paksa jubah hitam yang prajurit itu kenakan.


Mereka kini, menyamar lebih baik lagi. Dengan pakaian itu, mereka yakin tidak akan ada yang curiga.


"Apa kita sudah boleh membuka kain ini?" Tanya Air, nafasnya sepertinya ngos-ngosan. Setelah pertarungan yang menyenangkan tadi.


"Tentu," Candrasa membuka kain yang melilit wajahnya, wajah tampannya kini terlihat jelas.


Mereka melanjutkan perjalanan, sambil menunduk. Dilihatnya suasana Kerajaan Nahdara yang begitu sepi. Tapi saat mulai memasuki pertengahan desa. Betapa terkejutnya mereka melihat semua wanita dikumpulkan di halaman besar.


Beberapa orang mengelilingi mereka dengan obor api yang berkobar.


"Hey kalian ! Jangan berdiri saja cepat cari wanita lainnya!" Salah satu dari mereka meminta Air dan Candrasa mencari rakyat lain.

__ADS_1


Air dan Candrasa pun saling menatap, kemudian mereka mengangguk.


Mereka berjalan lalu melihat ke rumah-rumah, dilihatnya dari sebuah jendela kayu transparan kaki kecil yang terlihat tersembunyi dibalik ranjang bambu.


Candrasa melewati itu, dia melihat lagi rumah yang lainnya, terlihat para keluarga yang lengkap didalam rumah.


"Kenapa mereka mengumpulkan para wanita?" Tanya Air pada Candrasa.


"Aku belum tahu," Candrasa dan Air kembali ke pertengahan desa itu.


"Tidak ada lagi, tuan." Kata Air.


Mereka besandiwara sebagai seorang penjaga untuk tahu, tujuan dari semua ini. Seorang wanita dengan tatanan rambut yang indah dan juga mahkota dikepalanya berjalan ke depan para wanita itu.


"Ini peringatan bagi kalian yang memaksa ingin menjadi seorang kesatria wanita! Terima saja nasib kalian, siapapun yang berani melawan peraturan kerajaan akan dihukum mati! Sebentar lagi Nahdara akan menjadi milik Brahma. Jadi tidak akan ada lagi pengampunan Bagi siapapun wanita yang melanggar aturan kerjaan!" Ratu Naira tertawa ke arah mereka semua.


Dengan kebingungan para wanita itu saling menatap,


"Kau tidak bisa mengatur kami ! Ini kehidupan kami ! Bahkan Putri hanada ingin menjadi Kesatria wanita! Lalu kenapa kami tidak bisa?" Tanya salah seorang wanita yang dikumpulkan disana.


Ratu Naira dengan geram menatap tajam wanita itu, "bawa wanita itu ke sini!" pinta Ratu Naira pada prajurit.


Salah seorang prajurit pun menyeret wanita tadi ke depan Ratu Naira. Dia mulai mengangkat tangannya dan mengarahkan ke arah wanita itu, entah apa yang akan dia lakukan. Tapi, Ratu Naira terlihat seperti akan melakukan hal yang buruk pada wanita tadi.


"Matilah kau!" Gumam Ratu Naira.


Sebuah aliran cahaya energi terlihat keluar dari telapak tangannya, wanita yang tadi pun merasakan sakit di bagian leher seperti tercekik. Perlahan tangan Ratu Naira mengangkat ke atas, dan wanita itu pun ikut melayang ke atas bersamaan dengan gerakan Ratu Naira.


"Kumohon lepaskan aku," wanita itu meronta meminta dilepaskan, tapi Ratu Naira dengan kejam tidak menghentikan aksinya.


Air dan Candrasa yang melihat itu membelalak, mereka tidak bisa melakukan apapun. Jika mereka bertindak sekarang mungkin mereka akan tertangkap dan gagal menyelamatkan Hanada dan yang lain.


Tapi, mereka tidak kehilangan akal, seekor kuda yang berada disamping Candrasa pun dijadikan ide untuk mengacaukan kekejaman ratu itu.


Candrasa mengalirkan energi kecil ke kuda tadi, seketika kuda itupun berlari tak beraturan ke arah Ratu Naira. Sontak Ratu yang melihat itupun langsung menghindar dam melepaskan jeratan energinya pada wanita tadi.


Wanita tadi pun terkulai lemas dan langsung jatuh ke tanah. tapi, tak ada seorangpun yang datang melihatnya.


"Kuda Sialan!" Umpat Ratu Naira.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2