![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Guru Wija tersenyum dengan bangga, Candrasa melakukan itu beberapa kali hingga dia yakin bahwa dia sudah menguasai teknik berjalan di atas air. Setelahnya, pria itu menemui gurunya.
"Hebat, kau berhasil. Candrasa, sekarang pelajari satu tahapan untuk menyempurnakan energi yang kau miliki. Duduklah disana!" Guru Wija meminta Candrasa untuk duduk bersila diatas rerumputan
"Kau ingin tahu bagaimana wujud energimu aktif dan bekerja. Apa itu sempurna atau tidak. Sekarang konsentrasi, fokuskan pada titik di bagian perutmu. Aku akan emncoba menstabilkannya jika itu keluar dari batas!"
Candrasa mengangguk, dia mengikuti semua ucapammn gurunya. Guru Wija adalah guru yang memiliki ilmu tingkatan tinggi, dia yang paling tinggi ilmunya di Amarata. Tapi, dia hanya berjanji untuk menyalurkan energi itu pada murid-murid baru dan tidak untuk mencari keabadian maupun yang lainnya.
Itulah mengapa, dia hanya mengabdikan dirinya di Maharaja.
Candrasa duduk bersila, dia berkonsetrasi.
*Woosh
Swoosh*
Cahaya biru samar-samar keluar dari tubuh pria itu, dia memejamkan mata. Guru Wija melihat energi itu keluar dari tubuh Candrasa.
Dia lebih dominan dengan energi air.
Guru Wija membatin, tak lama energi itu seperti membentuk suatu bulatan di depan dada Candrasa. Rupanya itu adalah bentuk dari Energi yang dimiliki pria itu, guru Wija memperhatikan setiap lekukan bentuk energi yang dimiliki pemuda itu. Bentuknya terlihat sempurna dan stabil, tapi lama-kelamaan energi itu semakin membulat besar.
Guru Wija pun segera mengalirkan energi miliknya ke arah Candrasa, agar energi itu tidak keluar batas. "Sudah cukup!" ujar guru Wija pada muridnya. Candrasa pun menghela napas panjang, dia membuka matanya dan seraya energinya itupun kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"Berdirilah!" Ujar guru Wija, Candrasa pun menghampiri gurunya itu.
"Aku sudah melihat energimu, itu berbentuk sempurna dan stabil. Kau hanya harus terus berlatih seperti tadi, lakukanlah dimanapun saat kau senggang itu bertujuan untuk menstabilkan energi yang ada di dalam tubuh sehingga untuk menyempurnakan tingakatan selanjutnya akan lebih mudah. Kau luar biasa, kau sudah terlihat bisa mengendakikan energimu dengan cukup baik dan itu terlihat stabil."
"Dulu, saat aku baru mecapai panca, aku harus menstabilkan energiku selama 7 hari penuh." Guru Wija tertawa kecil, diikuti seringaian pria itu.
"Selanjutnya aku akan mengajarimu, sebuah formula yang hanya aku ajarkan pada penyihir bertingkat panca." Guru Wija terlihat menatap Candrasa dengan serius.
"Apa itu guru?" Candrasa mengerutkan dahinya.
"Saat energimu sudah sempurna dan bisa akau kendalikan, maka ilmu itu berada di tingkatan selanjutnya. Sekarang, lakukan seperti tadi, formula ini bernama Cisu. Untuk mengetahui elemen apa yang lebih dominan dari dirimu!"
Candrasa mengangguk, dia kembali bersila dan duduk direrumputan lagi.
__ADS_1
"Butuh berapa lama biasanya orang melakukan itu?" tanya Candrasa.
"Sekitar satu bulan," jawab Guru Wija.
Candrasa melakukannya, dia berkonsentrasi pada titik-titik sensitif di tubuhnya.
Lalu cahaya biru kembali keluar, cahaya itu kini mengelilingi Cabdrasa seperti ombak laut, dan terus seperti itu. Kemudian berubah menjadi cahaya merah bak api yang berkobar di atas kepala pria itu. Tapi, hanya muncul sepersekian detik. Kemudian semilir angin menyentuh lembut Candrasa, pria itu dapat merasakannya.
Itu adalah elemen angin yang ada ditubuhnya, elemen ity berlangsung agak lama tapi tidak melebihi elemen air. Yang terakhir, elemen tanah, jika dia memiliki unsur itu ditubuhnya seharusnya pria itu mengeluarkan sedikit tanda. Tapi, tidak ada yang muncul selain ketiga itu.
"Baiklah, sudah cukup." Kata Guru Wija.
"Hebat, hanya dalam hitungan waktu, aku bisa melihat elemen yang dominan dari tubuhmu. Elemen Air, jadi kau harus lebih fokus mempelajarinya dibanding yang lain, kau tidak memiliki unsur tanah. Jadi, tidak bisa di pelajari, hanya saja seiring bertambahnya usia unsur-unsur ini akam berubah. Bisa saja, kau mendapatkan unsur tanah, lalu kehilangan unsur api. Itu bisa saja terjadi." jelas guru Wija dengan lugas.
"Apa ada alasan dibalik pergantian itu?" Candrasa masih belum mengerti kenapa bisa seperti itu.
"Tentu saja, itu semua tergantung dengan bagaimana kau menjalani hidup. Jika kau selalu berbuat baik, maka tidak mungkin kau bisa menguasai semua elemen. Tapi untuk saat inifokuslah, pada apa yang kau miliki sekarang dan kembangkan itu." Guru Wija menepuk pundak muridnya yang sudah beranjak dari posisinya tadi.
"Kita sudahi latihan hari ini denganku, kau bisa lanjut berlatih pedang dengan guru Raga." Kata Guru Wija yang kini meninggalkan Candrasa disana.
"Terimakasih guru." Jawab pria itu, lalu mencoba lagi teknik berjalam di atas air sampai keseberang.
Hentakan kakinya ke air terdengar nyaring, dia pun mendarat dengan mulus. Pria itu kini tersenyum lalu keluar dari area sana dan kembali ke asrama.
Sesata dalam perjalanan, dia melihat Air yang sedang memperhatikan seseorang dari kejauhan.
"Sedang apa?" tanya Candrasa sembari ikut menoleh ke arah pandangan Air. Rupanya, itu adalah Hanada. Dia sedang melatih anak perempuan yang baru saja masuk Maharaja.
"Air, apa kau menyukai Hanada?" Tanya Candrasa pada intinya.
"Air, kau tidak perlu cemburu padaku" kata Candrasa.
Air tertawa kecil lalu menatap pria itu, "Maafkan Aku... Aku tidak seharusnya melakukan itu padamu." kata Air sambil menyeringai.
Pria itupun memeluk Candrasa, sedangkan Sang putra mahkota merasa aneh dengan tingkah sahabatnya itu.
"Argh lepaskan Air!" kata Candrasa agak bergidik.
__ADS_1
Air pun tertawa kecil melihat tingkah Candrasa yang tidak menyukai pelukan itu.
Rupanya tadi, saat berjalan bersama Hanada. Pria itu menyatakan ketertarikannya pada wanita itu..
Sisi lain...
"Kenapa kau dan Candrasa bertengkar? Bahkan di tempat pertarungan resmi!" Hanada bertolak pinggang sembari melihat pria di depannya.
"Hanya kesalah pahaman," jawab Air.
"Oh iya, aku sangat senang melihatmu lagi." kata Air mengalihkan pembicaraan.
"Air! Jawab aku dengan jujur." Hanada menatap Air agak tajam.
Air meraih tangan Hanada, "sejujurnya, aku menyukaimu dan merasa cemburu pada Candrasa."
Hanada mengerutkan dahi, "Air kita bersahabat! Tidak ada yang perlu kita saling cemburui, kau tahu jika aku di beri dua pilihan. Antara memilihmu atau Candrasa. Aku akan lebih memilih untuk tidak memilih sama sekali atau aku lebih baik memilih mati daripada harus seperti itu!" Hanada terlihat kecewa pada kedua sahabatnya.
"Maafkan aku, baiklah tapi kau tidak harus berkata seperti itu!" Sahut Air sambil mengerucutkan bibir.
Tak lama guru Manta pun datang, "Selamat datang kembali Hanada, bisakah aku bicara denganmu?"
"Tentu guru, terimakasih telah menyambutku lagi." jawab Hanada sambil menyeringai.
Wanita itupun menoleh ke arah Air, lalu meninggalkannya pergi bersama guru Manta.
"Permisi Tuan muda Air, saya harus bicara dengan Hanada." Kata Guru Manta.
"Tentu guru," Air pun menyeringai.
Disitulah percakapan mereka berhenti. Rupanya Hanada diminta untuk mengajarkan murid baru melakukan tahap awal bela diri.
Kini, dia dan Candrasa masih memperhatikan Hanada, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu dengan wanita itu 8 tahun lalu.
"Baiklah, mari kita ke asrama," ajak Candrasa sambil menepuk pundak Air. Pria itupun menyeringai lalu mengiyakan ajakan itu.
...****************...
__ADS_1
...****************...