CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 49 : Air vs Candrasa


__ADS_3

Sebanyak sepuluh murid Maharaja sedang berkumpul di ruangan khusus mereka di rumah hiburan, para penghibur rumah hiburan cusak menghantarkan mereka camilan juga minuman beralkohol. Candrasa tersenyum tipis begitupun dengan Air.


"Mari minum!" imbuh salah seorang dari mereka.


Mereka pun menuangkan minumannya ke gelas tanah liat kecil, Air menuangkan arak untuk Candrasa. Begitupun sebaliknya, mereka menenggak minumannya sampai habis. Juna terlihat mendelik ke arah dua pria itu sambil menyeringai.


Tingkah aneh Juna tidak di sadari siapapun, saat celana yang menutupi mata kakinya tersingkap terlihatlah simbol petir kecil yang bersinar merah bak sedang terbakar api. Dia pun langsung menutupnya dengan cepat sebelum salah seorang dari mereka menyadarinya.


Candrasa menikmati malamnya, setelah pertempurannya di Nahdara juga pelatihannya di akademi, rasanya tubuh dia sedang meronta ingin suatu kenikmatan dari segelas arak. Pria itupun mengambil satu kacang tanah yang kemudian dia kelupas dengan perlahan.


"Rasanya sangat gurih," ujar Air sambil menyeringai ke arah teman-temannya.


"Aku merasa kesal, akademi tanpa Hanada rasanya sunyi sekali. Bukankah dia yang paling cantik? Benar saja yang Juna katakan, dia bukanlah orang sembarangan. Pantas kuku tangannya terlihat begitu terawat." imbuh Jora yang duduk di samping Candrasa.


"Hey! Beraninya kau memuji Hanada di depanku!" Air mendelik sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Jora.


"Maaf-maaf hahaha." Jora terawa kecil, dia sangat takut melihat ekspresi wajah Air.


Candrasa beralih menatap Air, sedari tadi pria itu memang sedang memperhatikan sahabatnya. Ada yang aneh dari pemuda itu dan Candrasa menyadarinya.


Malam pun sudah hampir larut, Air sudah merasa mabuk berat. Sedangkan Candrasa masih tetap terjaga karena dia hanya menenggak beberapa gelas arak. Dia memang yang paling kuat untuk urusan minum-minum, walaupun dia jarang melakukannya tapi dia juga tahan dengan kandungan alkohol di dalamnya.


Air selalu yang paling mabuk berat, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang ke akademi karena keadaan Air yang sudah tidak bisa di tolerir. Juna pun menawarkan diri untuk membopong Air sendirian. Sedangkan Candrasa berjalan di depan dengan yang lain lebih dulu.


Setelah keluar dari rumah hiburan cusak, Juna pun mulai melakukan rencananya. Dibelakang sana, Juna mencoba menghasut Air lagi, "sepertinya si Putra Mahkota menyukai Hanada."

__ADS_1


Air menoleh ke arah pria itu dengan mata yang sayu, dia tertawa kecil sambil berjalan sempoyongan. "Jika dia berani menyukai wanitaku. Aku akan membunuhnya!" Imbuh Air sembari melepaskan tangan Juna dari dirinya.


"Heyyyyy!" Air berteriak ke arah Candrasa yang ada di depannya. Candrasa dan yang lain pun menoleh ke belakang melihat Air yang berjalan sempoyongan mendekat ke arahnya. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, lalu mengayunkan pedang itu.


"Air!" Alis Candrasa menyatu, dia keheranan melihat tingkah sahabatnya. Pemuda itu berjalan semakin dekat dan saat tepat di hadapan Candrasa, dia menaruh pedangnya di pundak pria itu. Semua orang pun membelalak, mereka mencoba menghentikan Air.


"Aku memang akan selalu ada dibelakangmu, tidak mungkin bagiku mengalahkanmu dari segala hal. Tapi, jika soal cinta aku akan mengejarnya bahkan jika harus melangkahi mayatmu!" Air mendelik di balik bulu matanya. Pria itu berani mengancam putra mahkota.


"Kau sedang mabuk Air," Candrasa berbalik, dia tidak ingin bertarung dengan sahabatnya apalagi dalam keadaan dia mabuk. Putra Mahkota juga tidak mengerti apa yang di maksud pria itu.


Dia berjalan mengambil langkah menuju akademi sihir, "hey sadarlah! Dia Putra Mahkota!" seru Jora sambil menepuk pundak Air.


"Persetan!" Dia memicingkan matanya ke arah Jora, lalu dengan sigap mengalirkan energinya ke pedang, dengan cepat dia mengayunkan pedangnya ke arah Candrasa.


Candrasa tersungkur ke depan, pria itu mengalami serangan dari araj belakang, terlihat pakaiannya robek bak terbakar, tapi syukurlah luka di punggungnya tidak terlalu parah.


Jora dan yang lain menatap Air tajam, "hey!" mereka dengan sigap berdiri melindungi Candrasa dari serangan Air Mahendra. Tapi dengan gesit Air mengumpulkan bulir udara yang di jadikan bola air lalu melempar itu dengan pedangnya.


Dan boom , semua orang terkena percikan air yang membuat mereka terdorong mundur. Candrasa sudah bangkit, matanya menghitam legam, raut wajahnya tidak seperti dia yang biasanya. Simbol di lehernya pun muncul kembali.


Juna yang melihat hal itu, langsung terkejut seperti orang ketakutan, dia bahkan mencoba mundur dan menjauh dari sana. Candrasa dengan sigap meraih kemukus kecil dari kantong koin yang dia miliki.


Dan menargetkan Juna dengan benda itu, Juna berlari dengan cepat dan Sleb ... Pedang kemukus kecil menancap di pintu masuk cusak. Itu membuat Juna membelalak dan tertegun, Candrasa berjalan melewati Air dan yang lain. Dia mengarah pada Juna, pemuda itu mencongkong dibawah sambil menggelengkan kepala.


"Jangan ... Jangan!" serunya ketakutan.

__ADS_1


Candrasa menyeringai lalu membungkuk di depannya, pria itu mengarahkan tangannya ke dada pria itu, seolah sedang menggenggam sesuatu, di tarik lah tangan itu dan iblis bayangan muncul dari tubuh Juna.


Itu membuat semua orang semakin terkejut, dalam genggaman itu semakin erat Candrasa menggenggam semakin lemah iblis bayangannya. "Siapa yang memerintahmu?" Candrasa mendangak ke atas sedangkan tubuh Juna terkulai lemas dibawah.


Iblis bayangan memberontak dan mengeluarkan suara pekikan kecil, Candrasa mengumpulkan bulir udara dan dibuatlah bola air sekepal tangan dan blurrr Iblis bayangan itu berubah menjadi abu.


Sedangkan bola air itu terjatuh dan kembali menyerap ke tanah. Candrasa kini berbalik dan menatap Air, dia melangkah kan kakinya ke pada pria itu. "Kenapa kau melakukannya?" imbuh pria itu dengan nada bicaranya yang seperti biasa.


Mata Candrasa kembali ke warna asalnya, dia masih memperhatikan Air dengan seksama. "Jora, tolong bawa Air ke akademi sihir!"


aku mengendalikan diriku sendiri?


Candrasa membatin sembari melihat Air di bopong oleh teman-temannya. Dia menoleh ke arah Juna yang masih menelungkup di bawah kini mulai sadarkan diri, dia menghampiri pria itu lalu membantunya berjalan.


"Kenapa tubuhku sakit sekali?" Pria itu jelas tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi Candrasa ... Anehnya, pria itu mengingat semua hal yang dia lakukan barusan. Dia menyaksikan tubuhnya menghancurkan iblis bayangan itu, tapi tubuhnya serasa bergerak dengan sendirinya.


Dia tahu, pasti karena luka kecil dipunggungnya. Sang kakek memunculkan diri. Dia harus segera berbicara dengan roh itu lagi, membuat perjanjian yang lebih baik agar dia tidak menjadi orang yang tak terkendali lagi.


Candrasa membantu Juna berjalan sampai ke akademi, "aku ingin bicara denganmu. Apa kau ingat semua hal yang telah terjadi?" Putra Mahkota dengan sabar menunggu jawaban Juna.


Pria itu menggeleng, terlihat jelas di matanya dia benar-benar linglung. Candrasa menghela nafas pelan, dia tahu musuhnya bisa saja memang berada di sekitarnya.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2