![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Puan Naina masih terpaku di depan pintu yang tak pernah ia tahu isinya. Wanita itu masih menerka-nerka isi di ruangan yang tidak pernah terbuka oleh siapapun selain suaminya. Dia bahkan tidak pernah tahu tentang rahasia suaminya yang sejak dulu dia tutupi.
Puan Naina ingin sekali suaminya itu terbuka padanya, tapi, sudah 20 tahun lamanya pernikahan mereka. Doha tidak pernah mau bercerita apapun tentang masa lalunya.
Dulu, mereka bertemu di saat Puan Naina akan di jodohkan dengan seseorang yang tidak dia cintai. Wanita itu kabur ke dalam hutan dan tersesat di sana. Setelah tiga malam berlalu, Doha sang panglima perang yang sedang berkelana kedalam hutan, menemukan Naina yang terbaring di tanah, dia pun membawa Naina ke rumahnya yang ada di wilayah Amarata.
Untuk merawatnya, pria itu belum tahu identitas Naina sata itu. Sampai dia sadarkan diri dan menceritakan semuanya. Doha pun berniat mengantarkan Naina pulang ke wilayah Brahma, tapi wanita itu tidak mau karena dia akan dijodohkan.
Disanalah, Doha langsung meminta Naina menjadi istrinya dan mengajak wanita itu pulang ke Brahma untuk meminta izin ayahandanya. Naina pun setuju, sesaat sudah sampai disana betapa terkejutnya Naina saat Doha mengaku sudah meniduri wajita itu.
Padahal itu hanyalah bualan Doha semata, pada akhirnya mau tidak mau ayahanda Naina menyetujui hubungan mereka dan melangsungkan pernikahan keduanya.
Selain cantik, Naina adalah seorang anak dari keluarga dukun terpandang. Dukun yang mengajarkan ilmu tentang voodoo atau boneka ilmu hitam.
Tapi, Naina tidaklah memiliki bakat seorang shaman, dia hanya gadis biasa tanpa ilmu sihir apapun. Maka dari itu Doha tertarik padanya. Selain bisa menjaga rahasianya, Naina juga tidak mungkin dapat membuka pintu rahasianya.
~
Naina menyerah, dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa membuka pintu ruangan itu. Jadi, dia kembali lagi ke kamarnya dan masih melihat suaminya terbaring di sana dengan posisi yang sama. Naina pun membaringkan diri di samping suaminya sambil memunggungi pria itu.
Dia mencoba memejamkan mata dan tak lama Ia pun terlelap. asedangkan Doha matanya kini terbuka lebar, rupanya dia tahu bahwa istrinya sudah memeriksa ruangan itu, dia sudah tahu sejak lama bahwa istrinya mulai mencurigai ruangan kemukus dan juga dirinya.
Jadi dia memutuskan untuk jarang pulang ke rumah akhir-akhir ini, demi menghindari pertanyaan dari istrinya. Doha juga merasa beruntung karena Air tinggal di Akademi sihir Maharaja. Karena apabila, pria itu tidak tinggal di sana, bisa saja Air dapat membuka pintu ruangan yang ada di rumahnya itu. Apalagi Air kini sudah mencapai ilmu tingkat 3 Sata.
Walaupun ada kekhawatiran didalam dirinya, dia tetap tidak gentar untuk melanjutkan rencana busuknya terhadap kerajaan Amarata. Amarata dan Nahdara adalah kerajaan yang paling dia benci seumur hidupnya, Ini semua berawal dari meninggalnya sang ayah.
__ADS_1
Ayahnya adalah seorang empu, pembuat senjata hebat di Brahma. Ayahnya juga menguasai ilmu hitam dan ilmu putih. Dahulu kala Raja Purnawata, meminta dibuatkan pedang pusaka, setelah berhasil membuat pedang itu dengan di aliri ilmu hitam dan putih. Saat itu juga ayahnya langsung diangkat menjadi seseorang yang penting dalam kerajaan, yaitu petinggi pertahanan.
Petinggi pertahanan, bertugas membuat segala macam senjata bahakan memproduksi bubuk mesiu untuk peperangan. Dengan ide cemerlang ayahnya, terciptalah senjata-senjata yang unik juga tinggi ilmu sihir dari tangan ayahnya.
Hingga pada suatu saat kerajaan Purnawata yang kini berubah nama menjadi Nahdara berperang melawan kerajaan Amarata. Doha yang waktu itu masih sangat kecil dan tinggal di Brahma mendengar kabar kematian ayahnya yang mengenaskan, jasadnya hanya di kirim melalui peti biasa ke Brahma tanpa upacara apapun.
Bahkan tidak ada penghormatan sedikitpun untuk ayahnya, sejak saat itu dia membenci Purnawata dan juga Amarata yang menyebabkan ayahnya meninggal.
Dia bertekad untuk menghancurkan mereka semua dengan tangannya sendiri. Kali ini, tinggal satu langkah pasti lagi, dia akan benar-benar menghancurkan mereka.
Doha kecil lalu pergi ke Gunung Sara dan mengembara sendirian, lalu dia bertemu dengan gurunya sekarang, seorang Shaman terhebat dari Brahma yang ternyata pengikut setia Imoogi.
Namun, Imoogi itu berhasil di kalahkan oleh Raja Purnawata dengan senjata yang dibuat oleh ayahnya sendiri.
DI AKADEMI SIHIR MAHARAJA....
Dia memikirkan tentang perkataan Air saat mabuk tadi, "Apa Air menyukai Hanada?" gumamnya.
Pria itu juga tidak bisa memastikan rasanya pada Hanada, yang dia tahu dia sangat menyayangi sahabatnya itu.
Candrasa berharap, setelah pria itu bangun dia mau berbicara padanya. Dia harus membuat masalah di antara mereka dengan jelas. Dia tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena seorang wanita.
Malam itu, Candrasa pun akhirnya terlelap setelah memikirkan banyak hal dikepalanya.
Keesokan paginya...
__ADS_1
Candrasa terbangun karena dingin yang menusuk kulitnya. Dilihatlah Air sudah tidak ada di tempat tidur pria itu. Candrasa pun bergegas ke pemandian untuk mandi dan berganti pakaian.
Dia ingat, hari ini adalah hari Hanada kembali ke Akademi sihir. Jadi, dia harus menyambutnya dengan baik. Sedangkan Air, belum twrlihat batang hidungnya, padahal Candrasa sangat ingin bicara pada pria itu sebelum Hanada sampai ke Akademi.
Jika Hanada tahu mereka sedang bermusuhan, wanita itu pasti akan marah dan Candrasa tidak mau hak itu terjadi.
Candrasa berjalan ke arah pemandian, dia melihat Juna dan yang lain pergi ke sana juga. Mereka memberi hormat pada Candrasa, terutama Juna yang meminta maaf akan kejadian semalam, walau dia masih tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi tapi saat teman-temannya menceritakan detail kejadiannya. Pria itu menjadi merasa bersalah.
"Maafkan aku Pangeran, aku pantas di hukum." Juna langsung bersimpuh di hadapan Candrasa, pria itu tetap tidak bergeming menatap Juna.
"Tidak perlu, bangunlah!" Candrasa melewati Juna dengan santainya saat pria itu sudah berdiri tegak.
Saat melewati ruangan guru Wija, pria itu melihat Air keluar dari sana. Mereka pun berpapasan di jalan, tapi dilihat dari mata Air, rupanya pria itu ingin menghindar dari Candrasa.
"Kau tidak ingin menjelaskan maksudmu?" Candrasa menatap pria yang memunggunginya..
Air pun berbalik dan menatap Candrasa, dia tertawa kecil. "Tidak ada," imbuh pria itu sambil mendengus pelan.
Kepala Air masih sangat terasa berat, setelah mabuk semalam dia merasakan pengar . Candrasa menatap pria itu dengan datar. "kau ingin bertarung?" tanya Putra Mahkota.
Raut wajah Air berubah, dia merasa terkejut mendengar Candrasa menantanginya berkelahi. "Kau mau? Ayo!" kata nya seolah tak gentar, padahal ada penolakan di dalam dirinya yang mengaum.
Candrasa mendahului Air berjalan dan sahabatnya itu mengekor dibelakangnya.
...****************...
__ADS_1
...****************...