![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
KERAJAAN NAHDARA,
Hanada masuk kedalam jalan tikus yang dibuat dibalik dinding istana. Dia terus menyusuri jalan itu sampai ke singgasana sang ayah. Dengan perlahan dia berjalan agar tidak menimbulkan suara apapun.
Hanada berhenti sebentar saat dia melewati ruang makan, dia mengintip dari sana, dilihatnya pasukan asing yang dia bahkan tidak tahu dari mana asalnya. Bahkan ada para kurcaci? Itu mustahil ! Hanada baru melihat makhluk itu secara langsung.
Hanada berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kerajaannya. Lalu dimana ayahnya? Apakah ini penyerangan yang di sengaja? Tapi, dia yakin yang dia lihat dikamarnya tadi adalah Isa.
Hanada menggenggam erat busurnya, kini dia berjalan lagi. Mencoba meminimalisir adanya pergerakaan yang menimbulkan suara mencurigakan. Makhluk-makhluk apa yang sebenarnya mendatangi kerajaan itu.
Memang tidak semua, tapi ada beberapa yang berwujud aneh. Hanada menghela nafas sesekali. Dia terus berjalan ke arah singgasana ayahnya. Setelah sampai disana, dia melihat dari celah ventilasi yang ada dibawah menyatu dengan lantai. Hanada pun tengkurap dan mencoba untuk mengintip dari sana.
Hanada membelalak saat dia melihat ayahnya sedang bertekuk lutut dihadapan, Raja Brahma III ? Hanada membatin. Dia melihat ayahnya di acungkan sebilah pedang berkilauan tajam ke arah lehernya.
"CEPAT PANGGIL HANADA ! ATAU PEDANG INI AKAN MENEMBUS KERONGKONGANMU !" Raja Brahma menggertak Raja Nahda.
Mulut Hanada terbuka, lalu ditutup oleh tangannya. Dia terkejut melihat ayahnya diperlakukan seperti itu. Apalagi saat dia melihat neneknya di seret dan di dorong ke dekat ayahnya.
Brukk neneknya terjatuh menyenggol ayahnya.
Hanada, merasa sedih. Dia merasa harus menghadapi kekacauan yang dia buat sendiri. Hanada pun kembali berjalan ke arah kamar. Dia akan keluar lewat sana, dia tidak mungkin keluar lewat ventilasi itu karena itu adalah jalan rahasia.
Hanada berjalan cepat, sebelum keluar dari sana dia memeriksanya terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada siapapun di kamarnya. Setelah semuanya dirasa aman, Hanada keluar secara perlahan. Dia bahkan harus mengendap-ngendap di Istananya sendiri lalu berjalan ke arah pintu kamar.
Wanita itu melihat keadaan sekelilingnya dan berhasil keluar. Saat dia kira sudah aman Hanada keluar dari pintu kamar. Nyatanya, ada seorang pria yang menunggunya di pojokan pintu disana, kini wanita itu melihat pedang tepat dilehernya.
Hanada dengan gerakan halus memutar tengah busurmya untuk membaginya menjadi dua. Ujung busir yang tajam bisa dia gunakan sebagai pedang.
Krek .. (suara halus terdengar).
Sial, pria itu mengetahui gerak Hanada. untung saja Hanada dengan cepat menendang alat vital pria itu lalu berlari menjauh dari sana. Didepannya dia dihalangi oleh tiga kurcaci yang memegang pisau.
Hanada mundur beberapa langkah, dia menoleh kebelakang dan pria tadi pun mengejarnya dibelakang.
Bagaimana ini?
__ADS_1
Hanada terlihat kebingungan, akhirnya dia berjalan sambil menendang para kurcaci itu. Kaki Hanada berhasil ditangkap oleh salah satu kurcaci.
Hanada dengan sigap mempusatkan energinya ke tangan dan api cahaya berwarna biru pun membara di tangannya. Dengan cepat. Hanada memegang kepala kurcaci itu sampai rambutnya terbakar.
Kurcaci itu akhirnya melepaskan kaki Hanada dan meloncat-loncat seperti cacing kepanasan tapi versi kurcaci.
"Tangkap PUTRI HANADAAAAA !" Kata prajurit yang mengejarnya tadi. Semua orang yang mendengar pekikan itu langsung berlari menghampiri Hanada dan mengepungnya.
Hanada mundur lagi, kini dia tidak bisa berkutik dan terjebak disana. Para kurcaci tadi menertawakan Hanada. Mereka merasa senang karena Hanada terperangkap oleh mereka semua.
Raja Nahda yang mendengar teriakan itu juga merasa khawatir dengan Hanada, dia memohon agar Hanada tidak tertangkap oleh mereka. Hanada melakukan ancang-ancang. Dia tidak mungkin melawan mereka semua. Yang bisa dia lakukan hanyalah menghindar.
Hanada melihat ruangan itu dengan seksama, sambil memperhatikan gerakan kecil dari hampir 15 prajurit dan 3 kurcaci itu.
Hanada menghela nafas panjang, dengan sigap Hanada menggunakan energi didalam tubuhnya. Hanada berjalan memiringkan badan kedinding Istana dengan gerakan cepat.
Membuat mata semua orang membelalak, wanita itu berhasil melewati para prajurit Brahma dan makhluk-makhluk aneh. Hanada menyeringai, lalu berlari menuju singgasana untuk menyelamatkan ayah dan neneknya.
"KEJAAAAR !" Pinta salah seorang dari mereka, itu bukan panglima melainkan hanya prajurit biasa. Karena Panglima yang ada di Brahma kini sedang menyandera ayahnya disinggasana.
"Lepaskan ayah dan nenek ku!" Kecam Hanada pada para orang-orang itu. Disana ada Raja Brahma III, Ratu Naira yang sedang duduk di singgasana ayahnya juga Isa disebelah Raja Brahma.
"Hahahaha, tidak semudah itu Hanada !" Isa tertawa dengan gigi yang terlihat. Hanada melotot ke arah sepupunya. Nafasnya menggebu dia mengangkat pedang yang terbuat dari dua belah busur itu.
Mulai berjalan ke arah Isa, tapi tiba-tiba saja seperti sebelumnya, udara disekitarnya menjadi dingin dan rasanya menusuk langsung ke kulitnya. Hanada agak menggigil.
Kekuatan macam apa ini?
Hanada membatin, tapi kini dia punya cara untuk lepas dari sana. Hanada memfokuskan titik pusat energinya ke seluruh tubuh. Dia mencoba mengalirkan elemen api untuk menghangatkan tubuhnya.
Hanada memejamkan matanya, lambat laun tubuhnya mulai terasa normal. Sedangkan, Ratu Naira dan yang lain membelalak melihat kabut yang dingin seperti terlahap oleh cahaya biru berkobar yang keluar dari tubuh Hanada.
Hanada langsung berlari menghampiri Isa, dia mengayunkan pedangnya ke arah pria itu.
TRANG !!!
__ADS_1
Isa dengan sigap menepis tebasan Hanada, kini mereka dalam posisi saling bertahan dan menatap satu sama lain.
"Kenapa tidak mempermudah semuanya dan menikah denganku saja Hanada?" Tanya Isa sambil melotot pada Hanada didepannya, sejujurnya Isa juga tidak sejahat itu. Tapi kedua orang tuanya, memaksa dia harus ikut andil dalam perebutan takhta.
"Menikah denganmu? Tidak akan pernah sampai seribu tahun pun kau menungguku!" Hanada memicingkan matanya, dia balas tatapan tajam Isa.
Isa mengayunkan pedangnya menyerang Hanada,
TRANG ..
Wanita itu menahannya dengan pedang yang dia miliki, tapi tetap terhantam mundur kebelakang beberapa langkah. Hanada mengambil jalur bawah, dia memfokuskan serangannya pada lutut pria itu.
Dengan berlari dan bertekuk secara tiba-tiba.
Sreeet .. Hanada berhasil menyayat lutut Isa.
"Ashhh sialan, Parajurit ! Tangkap Hanada ! " Pinta Isa sambil menahan kesakitan.
Prajurit yang baru sampai, langsung menyerangnya dari belakang. Hanada menoleh lalu melawan prajurit-prajurit itu.
Dia menahan setiap serangan yang orang-orang itu lakukan. Terlihat pedang panjang berkilauan masih ada tepat pada leher Raja Nahda.
"Hanada !" Ujaran cemas dari Raja Nahda pada Hanada.
"Kumohon jangan sakiti Hanada. Aku akan memberikan takhta yang kalian inginkan!" Raja Nahda memohon dengan kedua telapak tangan menyatu.
"Ayah tidak ! Aku bisa mengatasinya." Kata Hanada yang terlihat kewalahan. Wanita itu menancapkan pedangnya ke salah satu prajurit.
Sreekk . (pedang Hanada menembus dada salah satu prajurit).
Darah pun keluar dari tubuh prajurit itu, Hanada membelalak tapi dengan cepat dia menarik pedangnya kembali. Itu prajurit pertama yang berhasil dia bunuh.
Hanada agak bergemetar, tapi dia tetap harus menjaga Kerajaan dan menyelamatkan ayah, nenek dan seluruh rakyatnya.
...****************...
__ADS_1
...****************...