![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Pagi itu matahari bersinar cerah seperti hati Hanada, karena dia akan kembali ke Akademi sihir Maharaja hari ini. Dia pun memilih pakaian terbaiknya, dilihatnya sang Nenek sedang memperhatikan gadis cantik itu. Hanada pun berbalik melihat ke arah neneknya, " Bagaimana nenek pakaianku? Apa aku cantik?"
Neneknya hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk, "tentu saja, cucu nenek ini adalah wanita yang paling cantik. Jagalah dirimu baik-baik di sana Dan jangan lupa pelajari ilmu setinggi apapun itu, untuk bekalmu menjadi seorang Ratu Hanada! Jika kau berhasil menjadi seorang Ratu , maka namamu akan tercatat dalam sejarah sebagai penguasa wanita pertama Nahdara." kata neneknya sambil tersenyum bangga.
Hanada pun menyeringai dan langsung memeluk neneknya, "terima kasih nek, karena kau selalu mendukungku, Terima kasih juga karena sampai saat ini kau masih di sampingku. Aku sangat sayang kepada nenek. Semoga nenek sehat selalu dan bisa menyaksikanku menjadi ratu suatu saat nanti." Hanada terjatuh dalam sebuah rasa senang dan sedih, dia tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi.
Wanita itu pun menangis di pundak neneknya, Ibu suri pun hanya menepuk-nepuk pundak Hanada dengan pelan seraya menenangkannya. "Sudahlah cucuku, semua prajurit dan ayahmu sudah siap untuk mengantarmu ke Akademi sihir Maharaja. Jadi, kau harus segera ke sana sekarang!" Hanada pun melepaskan pelukan dari neneknya. Tapi tangannya masih berada di pundak wanita itu.
"Terima kasih, aku berangkat dulu ya. Semoga nenek sehat selalu!" saat Hanada hendak berjalan keluar neneknya pun memberikannya sesuatu.
"Hanada Aku ingin memberikanmu sesuatu," dia mengeluarkan sebuah buku kecil yang diisikan tulisan-tulisannya. "Ini, entah akan terpakai atau tidak. Tapi ini adalah sebuah ilmu yang harus setiap wanita keturunan kita miliki. Dulu ibumu mempelajari ini, jadi simpanlah! Ini adalah buku khusus untuk pelatihan alkemi, jika kau mau menguasainya, kau bisa menjadi Ratu wanita terhebat nantinya Hanada!"
Hanada pun mengambil catatan kecil itu dengan senang hati, dengan seringaian khas di pipinya. Wanita itu menaruh catatan itu di saku celananya. Lalu memeluk neneknya kembali, sampai akhirnya dia keluar dari ruangan itu dan menemui Ayah juga prajuritnya di luar gerbang Nahdara.
Neneknya berjalan di belakang Hanada dan melihat wanita itu bersama Raja Nahda juga prajuritnya pergi dari kerajaan mereka untuk pergi ke Akademi Sihir.
Di Akademi sihir.....
Setelah mengajak Air bertarung, sekarang mereka pun sedang berkumpul di ruang bertarung khusus. Itu adalah tempat di mana pertarungan secara resmi dilakukan. Guru-guru yang mendengar kabar pertarungan Candrasa dan Air dari para murid pun langsung berkumpul di sana.
__ADS_1
Mereka merasa heran, karena kedua sahabat itu memutuskan untuk bertarung secara resmi bahkan tidak ada satupun yang tahu alasannya kecuali orang-orang yang ikut ke Cusak malam itu. Juna hanya bisa menatap mereka dari kejauhan, dia tidak berani untuk melihatnya secara dekat karena dia merasa itu adalah kesalahan dirinya.
Padahal masalah utamanya adalah karena air yang cemburu pada Candrasa, dia merasa putra mahkota itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Belum lagi soal Hanada, dia yang sudah menaruh rasa pada Hanada sejak dulu tidak ingin wanita itu direbut oleh siapapun bahkan oleh sahabatnya.
Kini air dan juga Candrasa sudah siap bertarung, mereka masing-masing memegang pedang yang mereka miliki. Candrasa menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Dia melakukan kuda-kuda dengan benar, begitupun dengan Air.
Tapi sorotan mata air berbeda dari Candrasa, dia terlihat lebih bersemangat dibanding pangeran. Candrasa enggan melawan Air saat kondisi pria itu dalam keadaan mabuk. Maka dari itu dia meminta Air untuk bertarung ulang secara resmi.
Dia juga tidak ingin roh kegelapan yang mengambil alih hal itu , pokoknya dia ingin pertarungan itu secara adil dilakukan oleh dirinya dan juga Air.
Mereka pun memulai pertarungannya, Candrasa dan Air mulai mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Mereka mengayunkannya secara bersamaan, Air lebih dulu mengambil langkah menuju Candrasa.
Bilah pedang dengan pedang beradu mengeluarkan suara berdesing yang melengking. Namun sambil Mengayunkan itu otak Candrasa terus berpikir Apa alasan Air di balik itu semua. Guru Wija pun mengambil langkah di antara mereka dan menghentikan semuanya.
"Tunggu dulu!" kata guru Wija, dan mereka pun berhenti.
Dengan berwibawa guru Wija menatap Air dan juga Candrasa, "sebelum itu aku harus menjadi penengah untuk kalian, Bagaimana pertarungan ini akan berakhir? Apa tujuan dari pertarungan ini? Apa tujuan kalian bertarung secara resmi di sini? Sampai saat itu, kita baru bisa menemukan siapa pemenangnya!"
"Pertarungan ini akan berhenti-" Air menatap guru Wija, "sampai Hanada datang ke Akademi!" lanjut Air sambil menatap semua orang. Guru Wijaya dan Candrasa menatap pria itu dengan keheranan, mereka mengerutkan dahi secara bersamaan. Candrasa kebingungan Kenapa Air membawa Hanada dalam hal ini, dia semakin penasaran tentang alasan dibalik pertarungan ini dan juga ancaman Air semalam.
__ADS_1
Guru Wijaya pun mengangguk dia mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, dia memberikan mereka waktu untuk bertarung lagi. Guru Wija berdiri lagi disamping guru Tera dan juga guru Raga, mereka menatap guru Wija dengan membelalak. "Kenapa Kau membiarkan ini terjadi?Memangnya Hanada akan kembali ke sini? Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang terluka parah? Aku tidak bisa membayangkan itu!" kata guru Raga.
Guru Wija menyeringai tanpa menjawab sepatah kata pun dan pertarungan kembali dimulai.
Candrasa dan Air kembali mengadukan pedang mereka, tanpa rasa ampun Air terus menyerang pangeran, sedangkan pria itu hanya fokus pada serangan Air dan sesekali membalas serangan itu. Dia menunggu waktu lengah Air.
Gaya bertarungnya yang tenang sudah menjadi ciri khas Candrasa sejak lama, pembawaan pria itu memang terkenal tenang dan tidak gegabah. Candrasa mundur beberapa langkah dan itu membuat Air merasa lebih leluasa untuk menggempur gila-gilaan.
"Menarik sekali! Ayo kita duel dan jangan main kandang!" ujar Air sambil menatap Candrasa dengan tajam. Melihat tantangan yang dikatakan Air, Candrasa kini mulai terpengaruh, dia menyerang pria itu.
Ia segera mengambil langkah maju untuk menyerang Air, sejak tadi energinya terus menggeliat di dalam perutnya, menggodanya untuk mengetes kekuatan itu terhadap Air yang masih belum tersulut juga dalam panasnya pertarungan.
Air tertawa pelan, ia heran dari mana Candrasa mendapatkan ke agresifan itu, kini Air mulai mengalirkan energi ke pedangnya, Candrasa hampir terkecoh karena air melakukan itu secara tiba-tiba. Dia pun melakukan hal yang sama, Candrasa mengalirkan energi ke pedangnya. Dia sudah mencapai tingkat Panca, akan sangat mudah baginya untuk mengalahkan Air.
Air dengan agresif menyerang Candrasa, tapi pria itu berhasil menahan serangan sahabatnya. Putra Mahkotamengembalikan serangan itu pada Air dan membuat pria itu terdorong mundur.
Nyali dan napas Air nyaris melayang, saking terkejutnya. Serangan Candrasa hampir menembus dadanya. Pertarungan itu sudah berlangsung cukup lama, keduanya merasa lelah tapi tidak ada yang mengalah satupun. Sampai saat sebuah anak panah bercahaya melesat di antara mereka dan menancap ke dinding kayu tempat pertarungan itu, kedua orsng itu membelalak menatap asal panah berenergi itu dan itu berasal dari Hanada yang ada di ambang pintu.
...****************...
__ADS_1
...****************...