![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Candrasa keluar dari kamarnya, dia melihat ke sekeliling kerajaan untuk mencari sahabatnya, Air. Pria itu, ingin di antar ke Akademi Sihir, karena jika tidak dengan Air kemungkinan besar Raja Jira II akan melarangnya. Sebab, Candrasa belum pulih sempurna.
Tuk tuk tuk
Suara langkah kaki Candrasa saat melewati ruangan yang hening tanpa ada siapapun disana..Candrasa belum pernah masuk ke ruangan itu sebelumnya.
Dia berniat masuk ke ruangan itu, tapi sayang sekali, pintunya terkunci dengan rapat.
"Apa ini tempat penyimpanan senjata?" Tanya Candrasa pada dirinya sendiri. Tapi setahunya, tempat penyimpanan senjata ada diruang bawah tanah.
Candrasa menggeleng tidak peduli, kemudian dia melanjutkan perjalanannya mencari Air. Tepat diujung lorong, mereka berdua berpapasan.
"Astaga!!! Kau mengejutkanku ! Aku baru saja akan menemuimu." ucap Air.
Candrasa menatap Air datar, " Air, antar aku ke kamar ayahku. Aku ingin meminta izin untuk pergi ke Akademi sihir."
"Sekarang?" Air mengangkat sebelah alisnya, Candrasa pun mengangguk dua kali.
"Baiklah~~ " Air memutar badannya lalu membiarkan Candrasa berjalan lebih dulu.
Mereka berjalan hampir dengan hentakan kaki yang sama, dua kesatria itu setiap hari terlihat semakin baik dalam segala hal.
Tidak jauh dari lorong itu, mereka sampai di depan kamar Raja Jira II, dilihatnya kedua penjaga yang sedang mengawasi siapapun yang datang.
Candrasa mendekat ke arah pintu kamar, "Aku ingin menemui ayahku."
Para penjaga mengangguk, lalu mereka membiarkan Candrasa masuk ke kamar ayahnya.
"Selamat pagi ayah..." Kata Candrasa, terlihat Air yang ada beberapa langkah dibelakang Candrasa.
Raja Jira II yang sedang menatap keluar jendela menoleh ke arah Candrasa, dia tahu ayahnya sedang merasa sedih. Candrasa pun mendekat lalu langsung berlutut di hadapan ayahnya.
"Kumohon ayah, berikan aku restumu disetiap perjalananku." Candrasa mendongak menatap ayahnya yang meneteskan air mata.
"Bangunlah nak!" Raja Jira II menyeka air matanya, dia mencoba membangunkan Candrasa, pria itu pun ikut berdiri seraya tangan Raja mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Ayah bangga, karena kau tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Tapi ayah khawatir akan keselamatanmu, mencari pedang yang tidak tahu dimana keberadaannya itu tidaklah mudah." Raja Jira II menatap anaknya penuh kesedihan, dia tidak bisa membayangkan jika Candrasa tidak terselamatkan waktu itu.
Candrasa tersenyum, ayahnya tahu tekadnya kuat. Dia hanya belum mampu untuk melepaskan anaknya. Tapi Candrasa yakin pada dirinya, sebagai pewaris takhta dia harus sanggup melewati kesulitan dalam segala hal. Bahkan dalam kondisi apapun, itulah yang akan membawa kemenangan untuk Amarata.
Kegigihan dan tanggung jawab seorang pemimpin lah yang di harapkan rakyat. Candrasa sebenarnya, tidak berbeda jauh dengan Raja Jira II. Sifat dan sikapnya dalam mengambil keputusan sangatlah mirip, walau Candrasa lebih condong mirip dengan ibunya dalam hal kepribadian.
Candrasa menatap ayahnya lekat, "Aku ingin meminta izin untuk pergi ke Akademi Sihir."
Raja Jira II menatap datar, dia agak bimbang, antara mengizinkan atau tidak. Tapi dia tidak bisa, melarang anaknya terus menerus. Terlebih, Candrasa memang sudah ditakdirkan menjadi Raja selanjutnya, Raja Jira II tidak boleh mencampurkan perasaan pribadinya dengan ketentuan Kerajaan.
"Tentu, ayah mengizinkanmu." Raja Jira menepuk pundak anaknya sambil tersenyum. Dia melihat Air yang tersenyum dibelakang Candrasa.
"Air !!!!" Ucapan Raja Jira II sedikit membuat Air terkejut, Candrasa menoleh ke arah Air tertawa kecil melihat mimik wajah pria itu.
"Jagalah Putra Mahkota," Lanjut Raja Jira II.
Air tersenyum dan menunduk, "Selalu, Yang Mulia."
Kemudian, Candrasa dan Air langsung keluar dari Kamar Raja Jira II, mereka bergegas ke kandang kuda dan menunggangi kuda mereka untuk ke Akademi Sihir Maharaja.
Pacuan kuda dari keduanya beriringan, mereka fokus menatap jalan. Pandangan Candrasa teralihkan pada hamparan Bunga yang biasa ia lewati, Candrasa melihat bunga-bunga yang sering dia petik untuk dibawa ke ibunya itu. Kali ini entah kenapa dia merasa ingin berhenti dan memetik bunga itu lagi.
Air menoleh ke belakang, "Ada apa????" Kata Air agak berteriak.
"Tunggu sebentar, aku ingin membawa bunga ini." Kata Candrasa sambil turun dari kudanya.
Air tidak berkomentar, menurutnya Candrasa melakukan itu karena dia merindukan ibunya. Jadi, dia membiarkan sahabatnya mengambil beberapa tangkai bunga.
Candrasa sudah mengambil 8 tangkai bunga, dia melilit bunga itu dengan tali dari kulit kayu kering yang dia lihat disana. Candrasa menggantungkan bunga itu di dudukan yang ada pada kudanya, dan membiarkan bunga itu menggantung disana.
Candrasa kembali menunggangi kudanya lalu melanjutkan perjalanan ke Akademi Sihir.
Candrasa dan Air turun dari kudanya, mereka menyimpan kuda di kandang kuda yang ada di belakang Akademi Sihir.
Sesampainya di Akademi, Candrasa disambut baik oleh orang-orang disana, mereka senang melihat keadaan Candrasa yang semakin membaik. Guru Tara pun segera menemui Candrasa dan memeluknya,
__ADS_1
"Pangeran, aku senang melihatmu sudah membaik." Kata Guru Tara.
"Terimakasih guru, akupun sama senangnya bisa kembali ke Akademi lagi." Candrasa menunduk memberi salam layaknya seorang murid pada gurunya.
"Aku harus menemui Guru Wija terlebih dahulu guru," Candrasa berpamitan pada Guru Tara, yang dijawab dengan anggukan pria itu.
Candrasa berjalan lagi, menyusuri teras yang panjang. Disanalah dia pertama kali bertemu Hanada,
Duhh, kenapa ingatannya seketika fokus pada Hanada. Ini pasti karena rasa rindunya pada sahabatnya itu. Candrasa mendengus pelan akibat serangan kilas balik yang dia alami tadi.
Air menoleh ke arah Candrasa, dia menyeringai melihat sahabatnya berjalan disampingnya. Air senang, Candrasa bisa kembali ke sini.
Sesampainya di depan ruangan Guru Wija, "Masuklah Candrasa."
Candrasa dan Air saling bertukar pandangan, dia sudah yakin gurunya sudah mnegetahui kedatangannya. Candrasa membuka pintu ruangan, Air berjalan dibelakangnya.
Dilihatnya dari sekat-sekat kayu yang ada diruangan itu, sosok guru yang selama ini dia kagumi.
"Guru.." Candrasa dan Air menunduk bersamaan, dia memberi salam pada gurunua dengan tangan kiri mengepal tangan kanan didepan kepalanya yang menunduk.
"Aku senang melihatmu kembali, Candrasa." Kata Guru Wija
"Dan Air, terimakasih atas dedikasimu terhadap Putra Mahkota." lanjutnya.
Mereka berdua tersenyum lalu berjalan mendekati gurunya, "Duduklah, nak!" Kata Guru Wija mempersilahkan mereka berdua duduk.
Mereka berdua duduk berdampingan dihadapan Guru Wija, sekilas guru itu melihat wajah Candrasa tersirat dia wajahnya bahwa dia sedang mencari seseorang.
"Hanada?" Kata Guru Wija sambil tersenyum, Candrasa hanya membelalak, tidak seharusnya dia memikirkan Hanada saat itu, pikir Candrasa.
Untuk informasi, Di Akademi sihir Maharaja, mereka tidaklah belajar mantra sihir, mereka dengan alami mengambil kekuatan yang ada di dalam tubuh mereka dan belajar sihir dengan itu. Energi yang berputar didalam perut, setiap penyihir punya teknik bernafas yang berbeda untuk mengatur energi didalamnya.
Mantra sihir hanya ada pada Ilmu hitam, Akademi Sihir Maharaja tidak memperbolehkan para murid mempelajari ilmu hitam. Karena itu sangatlah berbahaya, yang bisa mempelajari ilmu itu hanya orang-orang dengan jiwa yang kuat.
...****************...
__ADS_1
...****************...