CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.


__ADS_3

...KERAJAAN BRAHMA...



Setelah kemunduran telak mereka, kerajaan Brahma mundur kembali ke wilayah asal. Mereka memfokuskan untuk penyembuhan Ratu Naira terlebih dahulu. Semalaman penuh, dia belum sadarkan diri, semua anggota kerajaan terlihat panik, apalagi Pengeran Isa.


Putra pertama mereka Rama, bahkan pulang dari akademi pelatihan untuk mengunjungi ibunya. Pria itu baru saja melangkahkan kaki ke kerajaan Brahma sambil menenteng sebilah pedang tajam di tangan kirinya.


Isa, sedang dalam keadaan duduk menelungkup di dekat tempat tidur besar. Dia, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi ibunya. Pria itu, memang jauh lebih lemah dari kakaknya, Rama. Dari segi apapaun, Isa kalah jauh jika disandingkan dengan pria bernama Rama itu.


Kakaknya, mengetuk pintu kamar yang kini terkunci rapat. "Isa! Ini aku Rama, bisakah kau menjelaskan semuanya padaku?" tutur pria itu sambil menunggu Isa membukakan pintu.


Isa menoleh ke arah pintu, dimana suara itu berasal. Amarah dan kesedihannya tercampur dengan sempurna. Dia melangkahkan kakinya lalu berjalan untuk membuka pintu. Raut wajahnya telihat masam dan muram.


Sesaat mata hitamnya bertemu dengan mata cokelat terang sang kakak, pria itu berambut merah dan berkulit pucat. Ilmunya tidak perlu di ragukan lagi, terdengar desus bahkan Rama berilmu dengan jelmaan makhluk melata yang di sebut Imoogi.



Imoogi adalah Ular python yang bentuknya seperti seekor naga yang masih muda,  Konon kabarnya, Rama menjadi salah satu pengikut makhluk menyeramkan itu, setelah dia berguru pada seorang dukun terhebat di Brahma yang sudah ribuan tahun hidup. Hanya merekalah yang tahu kebenarannya, mengenai letak tempat tinggal dan jelemaan Imoogi itu sendiri tidak ada yang pernah tahu.


Makhluk menyeramkan itu kini bukan lagi menyerupai bentuk asalnya, melainkan berinkarnasi sebagai sosok pria yang tidak menua sedikit pun. Pria berkekuatan besar yang mampu membunuh manusia hanya dengan pikirannya itu di bangkitkan setelah 1000 tahun terkubur di dalam sumur di tengah hutan belantara di upuk timur.


Konon katanya, shaman dari Brahma yang kini menjadi guru Rama lah yang melakukan ritual pembangkitan Imoogi dengan darah segar dua puluh gadis sebagai pengrobanan. Hampir seluruh penduduk desa pulau terpencil di upuk timur menjadi pengikut setia makhluk itu.


Mereka percaya, bahwa Imoogi bisa memberikan keberkahan bagi tempat dan umur mereka. Ceplukan yang bisa dihasilkan Imoogi dengan mengolah manusia menjadi satu sumber kehidupan lainnya lah yang menjadi dambaan para orang yang ingin keabadian.


Imoogi bisa membuat ceplukan penambah masa kehidupan dari manusia. Biasanya, pengikutnya mencari sejumlah manusia yang tidak berguna bahkan terbilang terlantar untuk di ambil sisa kehidupannya.


~


Rama menatap Isa dengan lekat, "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Kami menyerang Nahdara, lalu mereka melakukan penyerangan sengit. Hanada pun menolak menikah denganku." Isa terdengar panik.


"Lalu, apa yang terjadi pada ibu?" Rama terdengar bingung karena dia belum mendapatkan jawaban yang jelas dari adiknya.

__ADS_1


"Seorang pria datang bersama Hanada, ibu melihat pria itu lekat untuk menyerang jiwanya. Tapi, malah ibu yang tergeletak tak sadarkan diri. Aku yakin, dia memakai pakaian prajurit kita Rama!" Jelas Isa dengan lugas.


Rama tertegun, dia yakin pria itu bukanlah prajurit Brahma, bukan juga sembarang orang.


"Bisakah kau jelaskan rupanya?" Tanya Rama dengan matanya yang berkilat.


"A-aku tidak memerhatikan wajah pria itu, jadi aku tidak ingat." Jawab Isa.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui ibu." Pria itu meninggalkan adiknya di kamarnya lalu berjalan ke kamar ibunya.


Para dayang menganggumi kegagahan pria itu, tapi sorot matanya membuat siapapun akan bergidik.



Sorot mata sayunya terlihat menyeramkan untuk sebagian orang, setelah sampai di kamar tidur ibunya. Dia melenggangkan kaki masuk, memberi tanda pada pelayan menggunakan jarinya agar meninggalkan mereka berdua di ruangan.


Pelayan yang sedang menyeka tubuh Ratu Naira langsung pergi, terlihat simbol di pergelangan tangannya yang tersingkap.



Simbol itu dipergunakan untuk menjaga kecantikan agar selalu terlihat awet muda dan segar.


Melihat ibunya terbaring lemah, Rama mengeluarkan satu buah ceplukan yang di dalamnya berisikan kehidupan manusia yang tidak berguna. Dengan itu, ibunya akan kembali seperti sedia kala dan tersadar.


Rama meletakan ceplukan di samping ibunya, tidak lama seiringan dengan hirupan nafas ibunya, ceplukan itu berubah menjadi asap hitam yang terhirup melalui hidungnya.


Mata wanita itu mengerjap pelan-pelan, dilihatlah anak pertamanya yang gagah perkasa di hadapan wanita itu. Dia tersenyum, wanita itu tau bahwa anaknya lah yang memulihkannya.


"Rama.." Tutur ibunya.


Rama langsung tersenyum dan memberi salam pada Sang Ibu, "aku senang ibu sudah sadar."


"Apakah pelatihanmu sudah selesai?" tanya ibunya dengan lirih.


"Belum, guruku sedang fokus pada muridnya yang lain. Jadi, aku di bolehkan pulang." Rama menatap ibunya datar.

__ADS_1


"Murid pertama gurumu itu kan? Apa kau pernah melihatnya secara langsung?" Ratu Naira mengedipkan mata secara perlahan.


"Tidak, pria itu sangat misterius, dia selalu datang dengan menutupi wajahnya menggunakan kain. Tapi, jika aku bertemu dengannya diluar perguruan, aku pasti akan tahu dengan cepat." Jawab anak itu dengan lugas.


"Kenapa ibu menjadi seperti ini?" Rama mengerutkan dahi, dia tidak menyangka wanita hebat berilmu tinggi seperti ibunya bisa langsung terkapar hanya karena menatap seseorang.


Ratu Naira yang tidak ingin anaknya itu tahu tindakan busuknya saat menikahi ayah Rama pun memilih untuk menutupi kebenarannya, "Ibu hanya merasa telah menguras energi ibu berlebihan."


Ratu Naira tersenyum, Rama hanya mengangguk. Kemudian, dia berpamitan untuk keluar dari ruangan. Siapa lagi yang harus dia tanyakan mengenai pria yang ditatap oleh ibunya?


*


*


...KERAJAAN NAHDARA...


Dentuman sendok dan piring emas masih berlangsung, setelah obrolan yang tidak ada ujungnya itu. Akhirnya, Raja Nahda mengalah.


"Pedang Kemukus dibawa oleh pemiliknya, mustahil kau mencarinya sampai ke ujung dunia. Tidak akan kau dapatkan, Candrasa." Kata pria bermahkota itu.


Candrasa memerhatikan raut wajah Raja Nahda, sorot mata sedih ada dibalik pandangan itu.


"Aku tahu kau meyakini hal itu, tapi percaya atau tidak. Pedang itu telah hilang dari Sang pemiliknya." Candrasa melihat Raja Nahda agak lama.


"Bagaimana bisa hilang? Sedangkan pedang itu sudah menjadi pedang terkutuk. Pedang itu, bisa membahayakan nyawamu Candrasa! Karena itulah yang terjadi pada pemilik sebelumnya." Raja Nahda ingin menjelaskan secara rinci, akan tetapi dia belum bisa.


"Kenapa ayah? Apa ayah tahu cerita lengkap tentang pedang itu?" Hanada mengurtkan dahinya, dia menunggu jawaban ayahnya dengan sabar.


"Ini hanya sebatas rumor, tidak ada yang benar-benar tahu." ucap pria itu sambil menghela nafas.


"Jika, memang benar pedang itu menghilang, satu-satunya yang memiliki itu pasti orang yang tinggal di upuk Timur." katanya tidak yakin.


"Siapakah itu ayah?" Hanada makin terlihat bingung, dia sesekali saling bertukar tatap dengan kedua sahabatnya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2