CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 36 : Gudang senjata


__ADS_3

Foto dibawah ini hanya gambaran kasar, tidak ada kaitannya dengan isi cerita.


......PINTU KAMUFLASE



(Sumber : google image)......


Ketiga orang itu menunggu dalam diam, tidak ada yang bersuara sedikit pun. Bahkan hembusan nafas pun bisa terdengar samar oleh telinga mereka.


"Ikut aku," Hanada mengajak Air dan Candrasa membuntinya dari belakang, mereka pun patuh pada arahan Hanada.


Wanita itu melenggang masuk lagi ke ruangan rahasia kerajaan Nahdara, mungkin sekarang sudah tidak rahasia lagi, karena Hanada memutuskan untuk mengajak sahabatnya.


"Kalian mau membantuku kan?" Hanada berjalan cepat didepan mereka. Pintu itu berliuk-liuk dan terhubung dari satu tempat ke tempat lainnya.


"Tentu saja, untuk apa kami jauh-jauh datang kesini menyamar sebagai seorang prajurit kalau bukan untuk menyelamatkanmu, apalagi tercium bau busuk dibaju ini. " Candrasa tertawa kecil mendengar celotehan Air yang seolah ingin muntah dengan pakaian yang dikenakan.


Hanada yang berjalan di depan kedua pria itu ikut tertawa mendengarnya. Akhirnya dia mulai lega karena kedua sahabatnya berada di sampingnya sekarang.


Mereka melewati anak tangga ke bawah, perlahan tapi pasti jalan itu akan membawa mereka ke gudang rahasia milik Nahdara. Di gudang itu tersimpan banyak senjata berharga milik kerajaan. Hanada merencanakan sesuatu yang dapat memaksa mundur kerajaan Brahma dari istananya.


Saat melewati Singgasana Raja, Hanada mulai jalan perlahan. Dia melirik ke lingkaran tembus pandang yang sudah dia lubangi sebelumnya. Dilihatnya kursi berjejer sudah terpasang rapi, bahkan sudah banyak para petinggi dari kerajaan Nahdara maupun Brahma.


Rupanya itu adalah acara pemberkatan untuk Isa dan juga Hanada, wanita itu mendelik tajam, dia mendesir ingin sekali mencibir pria itu di hadapannya langsung.


Nafasnya berderu seakan ingin melahap orang-orang keparat itu saja. Candrasa dan air saling menatap satu sama lain, dia tahu emosi Hanada sedang memuncak.


Dilihatnya oleh Hanada, raja Brahma III mendekat ke arah ayahnya yang sudah duduk dengan pakaian resmi.


"Di mana Hanada?" pertanyaan itu membuat Raja Nahda kebingungan, karena dia juga sama sekali tidak tahu di mana keberadaan Hanada.


"Aku tidak tahu," Jawab Raja Nahda singkat.

__ADS_1


Hanada memutuskan untuk kembali berjalan, rupanya hari sudah semakin malam. Candrasa sesekali memeriksa pedang kemukus kecil yang ada di kantong koinnya. Rasanya ada sesuatu yang aneh saat dia masuk ke kerajaan Nahdara, apalagi saat dia menggenggam pedang kemukus kecil itu di perbatasan.


Seperti ada suatu dorongan yang membuatnya ingin terus menggenggam pedang kecil itu. Candrasa berpikir keras mengenai hubungan Kerajaan Nahdara dengan pedang kecil yang dia miliki.


Pertanyaan kembali muncul di dalam dirinya, soal bagaimana Hanada mendapatkan pedang itu masih menjadi misteri besar baginya. Sekarang dia akan fokus membantu Hanada keliar dari situasi ini.


Hanada yang berjalan mendahului Candrasa dan Air tanpa menoleh terus melangkah maju mendekat ke tujuannya. Kini, mereka sudah berada di bawah tanah di mana gudang senjata itu berada.


Hanada membuka pintu itu dengan kunci yang dia tahu di mana letaknya, rupanya kunci itu sudah dia gantunkkan di gelang yang dia pakai.


Hanada melenggang masuk ke dalam gudang senjata itu, diikuti oleh Air dan Candrasa. Kedua pria tadi tertegum melihat banyaknya senjata yang terpajang di sana. Dari berbagai macam bahan dan juga bentuk lengkap ada di sana.


Amarata memang memiliki hal yang sama dengan Nahdara, tapi yang dilihat candrasa di sini adalah banyaknya pusaka yang bentuknya tidak biasa.


"Ini adalah gudang senjata milik Nahdara, dan kemukus yang kuberikan padamu berasal dari sini, aku mencurinya." Disituasi seperti ini wanita itu masih bisa.melontarkan bualan.


Candrasa menatap Hanada datar, wanita itu tahu sahabatnya ingin penjelasan lebih. Tapi, waktunya tidak tepat sekarang.


Wanita itu kini berdiri di samping meja yang berisikan berbagai macam pisau dan benda tajam lainnya. Hanada membuka meja itu perlahan, dia mengeluarkan beberapa senjata tajam seperti pisau-pisau dan juga benda kecil lainnya yang bisa digunakan untuk menyerang musuh.


"Sedangkan aku akan menyelamatkan ayah dan nenekku di singgasana, lalu Candrasa... Apa kau mau mendampingiku?" tanya Hanada.


Candrasa mengangguk, "aku akan selalu berada disampingmu Hanada." Katanya sambil mengangguk beberapa kali.


Air pun menganggut mengerti, dia paham rencana Hanada. Pria itu segera mengumpulkan banyak senjata ke dalam kantong kain lalu disembunyikan di dalam pakaian miliknya. Sedangkan Hanada dan Candrasa berniat kembali ke atas sana.


Di saat Air masih mengumpulkan senjata, Hanada dan Candrasa meninggalkannya di sana.


"Air, tetap berhati-hati!" Hanada memeringati pria itu.


Dia meminta air untuk tetap bertindak dengan halus. Candrasa dan dirinya berjalan kembali ke tempat di mana mereka masuk yaitu ruang ganti pakaian.


Dengan perlahan sambil mendengarkan beberapa percakapan orang-orang dari bilik itu keduanya melangkahkan kaki mereka menaiki tangga demi tangga kecil dan ruang yang sempit seukuran satu orang dewasa.

__ADS_1


"Apa rencanamu?" Suara yang berat terdengar lantang dari posisi mereka berada. Hanada segera mendekatkan telinganya kearah bilik itu. Dia kemudian melubangi dinding dengan pisau yang dia miliki.


Candrasa memegang pedang kemukus kecilnya, entahlah sejak tadi kemukus itu seperti bergerak di balik kantong koinnya. Pria itu menggenggam kemukus yang langsung bersinar.


Hanada masih fokus melubangi dinding, setelah menemukan celah yang pas untuk melihat, wanita itu langsung meneroboskan pandangannya ke sana.


Itu adalah kamar Ratu Naira dulu, saat dirinya belum menikahi Raja Brahma.


"Kita harus segera menemukan Hanada, jika tidak kita bisa melakukan ritual bukan. Aku sudah membawa talisman dan akan aku simpan di beberapa temoat di kerajaan ini. Akan lebih mudah, membunuh mereka dengan ini bukan? Hahahah" Hanada melihat Ratu Naira mendekatkan tubuhnya ke arah suaminya.


Mereka saling mendesak satu sama lain, Raja Brahma terlihat tak kuasa menatap istrinya yang cantik jelita itu. Dia mendekatkan diri ke arah Ratu Naira.


Hanada yang menatapnya, langsung memalingkan pandangannya ke arah Candrasa. Dia melihat pria itu menggenggam kemukus.


"Kau membawanya?" Hanada tersenyum karena pedang kecil pemberiannya selalu pria itu bawa. Dia belum mengetahui fakta bahwa pemilik pedang itu adalah kakek Candrasa.


Pemuda itu hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.


Bug


Suara dorongan tepat di depan Hanada, wanita itu pun langsung melihat lagi ke lubang kecil itu. Dia melihat Ratu Naira dan Raja Brahma masih sempat bercumbu di balik dinding dihadapannya.


Hanada menusukan pedangnya ke dinding tepat dibagian punggung Ratu Naira. Jika Hanada berhasil menghujam pedang itu, dia akan menang.


Sreeet


Gerakan pedang menembus dinding secara perlahan.


"Yang Mulia!" Teriak seseorang dari pintu yang membuat cumbuan keduanya terlepas. Dengan nafas yang memburu Hanada menarik kembali pedang yang setengah jalan hampir menusuk Ratu Naira.


"Sial," gumam Hanada.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2