CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 45 : Pedang Guru Wija


__ADS_3

...Penduduk Gunung Sara...



Jauh di timur, di kaki Gunung Sara dan dikelilingi bukit, juga berbatasan dengan lautan, terdapat sebuah desa. Desa ini bukanlah desa biasa. Orang-orangnya hidup tanpa gangguan dunia luar dengan pekerjaan mereka sebagai nelayan. Rata-rata penduduk sana hanya orang-orang berusia 50 sampai 70 tahunan, mereka sering memakai baju seperti jubah, melakukan ritual persembahan untuk makhluk mengerikan bernama Imoogi. Ya, itu adalah desa para pengikut Imoogi.


Kebanyakan diantaranya hanyalah manusia biasa yang menginginkan keabadian. Mereka rela mengorbankan keluarga mereka, istri mereka, anak mereka bahkan semua orang yang mereka sayangi demi mencapai keabadian itu.


Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang penting di sebuah istana atau bahkan dalam tatanan pemerintahan kerajaan. Tapi, tentunya identitas mereka tersembunyi dengan rapat.


Hiduplah seorang pemuda dengan kulit tangan yang bersisik, menandakan keanehan pria itu. Pemuda itu tinggal di sebuah rumah yang jauh dari pandangan luar dan tinggal bersama seorang shaman hebat dari Brahma.


Setelah masa reinkarnasi, pertumbuhan pemuda itu semakin cepat hanya butuh beberapa bulan sampai dia berwujud dewasa seperti sekarang dan tidak menua lagi.


*


*


Candrasa dan Air berjalan keruang guru Wija, mereka berjalan dengan gerakan cepat. Sesampainya disana, diketuklah pintu ruangan guru mereka.


Tok tok tok


Mendengar suara ketukan di pintu, guru Wija yang sedang membuat kaligrafi menatap lurus ke arah pintu. Kemudian, dia tersenyum tipis.


"Masuklah!" ujar guru Wija.


Air dan Candrasa seperti biasa mereka memberi kode untuk satu sama lain sebelum masuk ke ruangan tersebut. Ruang persegi bernuansa coklat tua itu cukup luas untuk seorang guru Wija. Guru Wija sudah lama mengabdi pada kerajaan Amarata, sehingga dialah yang di anggap tetua di wilayah itu.


Candrasa mengangguk, tersenyum. Ketika ia tak sengaja menoleh ke dalam ruangan guru Wija, dilihatnya pria berjanggut putih itu sedang memegang pena di tangannya dan selembar kertas besar tergeletak di mejanya.


Sedangkan Air, langsung benar-benar melihat pemandangan di dalam ruangan itu, mengarah ke sesuatu berwarna silver yang berkilauan di belakang guru Wija. Candrasa yang kini masih berpakaian ala prajurit Nahdara berjalan mendekat ke arah gurunya. Masih dengan lilitan kain di wajah juga menutup lehernya pria itu duduk di hadapan guru Wija.


Air melihat lagi benda di belakang guru Wija dengan raut mengeras. Dia mengerutkan dahi sambil menatap benda berkilauan itu.

__ADS_1


"Darimana saja?" ujar guru Wija, "ku kira kalian hanya menemui Putri Hanada sebentar" lanjutnya.


"Emm... Maafkan kami guru," Air menjadi guru bicara Candrasa.


"Aku sudah tahu, dari guru Tera. Dia sudah memperingati kalian bukan?" guru Wija angkat bicara lagi setelah memastikan hal itu pada guru Tera sebelumnya.


"Maafkan kami guru, kami merasa harus membantu Hanada." Candrasa menunduk, dia tidak menyangka guru Wija akan tahu semudah ini.


"Baiklah, aku mengerti tapi jadikan hal itu pelajaran untuk kalian agar berhati-hati dalam mengambil tindakan kedepannya. Kita tidak tahu akibat apa yang akan terjadi karena tindakan ceroboh kalian kemarin, lalu kenapa Candrasa masih memakai kain penutupnya?" Guru Wija mengetuk-ngetuk penanya, memperlihatnya gestur kecewa terhadap keduanya.


Candrasa perlahan membuka kain yang melilit wajahnya, guru Wija meneliti setiap detail paras anak itu. Saat pandangannya tertuju pada simbol hitam di lehernya, guru Wija agak membelalak. Dia mendengus pelan.


"Simbol ilmu hitam?" Pria berwajah kalem itu kini menatap Candrasa penuh tanya. Seakan ingin meminta penjelasan soal hal itu.


"A-aku tidak tahu guru, inilah yang ingin aku tanyakan." Guru Wija menatap Candrasa di mata. Langsung.


Candrasa dapat memperhatikan dari ekor mata gurunya bahwa guru Wija sedang meneliti dirinya saat ini. "Kau di rasuki roh kegelapan, roh ni memiliki kekuatan besar, sehingga tandanya lebih besar dari kedua penjaga waktu itu bukan?" tanya guru Wija.


"Ya, kemungkinan besar ada kaitannya dengan kemukus kecil yang kau pegang sekarang." lanjut guru Wija. Sedangkan Air kini menatap Candrasa mengerti.


Candrasa menoleh tidak nyaman ke arah Air, pria itu langsung terdiam. Rupanya benar, ini ada kaitannya dengan kemukus kecil. "Lalu, apa yang harus aku lakukan agar aku tahu siapa yang merasuki tubuhku?"


Guru Wija mengangguk, dia mengerti kekhawatiran Candrasa.


"Bercerminlah, sambil menggenggam kemukus itu!" seru guru Wija.


Pria itu mengangguk, "bagaimana simbol ini guru? Aku tidak bisa selalu menutupinya." Candrasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan agar simbol itu tidak terlihat orang lain.


"Untuk saat ini, biarkanlah simbol itu tertutup dengan kain biru itu." usul gurunya. Candrasa pun mengangguk, dia mengerti. Seketika suasana menjadi hening sampai Air angkat bicara.


"Guru, ada hal lain yang ingin kami tanyakan." ujar Air Mahendra, si anak panglima perang.


"Apa kau tahu, ada makhluk bernama imoogi?" lanjut Air. Kali ini, guru Wija menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Usia kalian masih cukup muda untuk mengetahui hal itu," ucap guru Wija yang membuat keduanya merasa aneh. Mereka tidak semuda itu, usianya sudah dibilang dewasa di wilayah mereka.


Akankah takdir itu berulang?


Batin guru Wija, sejak Candrasa memutuskan mencari pedang itu, tidurnya menjadi tidak nyenyak. Dia takut takdir yang dulu pernah kakeknya jalani akan terulang pada Candrasa yang menjadi satu-satunya keturunan Raja itu.


"Ini kupinjamkan,," Guru Wija meraih benda berkilauan yang ada di belakangnya, itu adalah sebuah pedang yang indah. Pedang yang sejak awal Air pandangi tanpa henti.


"Untuk apa guru?" Candrasa agak ragu untuk mengambilnya, sedangkan Air yang disamping Putra Mahkota hanya bisa tertegun.


"Untuk berlatih, ini pedang milikku, pedang ini di aliri ilmu sihir dan hitam. Tidak seperti milik mu, jadi jika kau sudah menguasai pedang ini. Kau pasti akan menguasai kemukus nantinya." ucap guru Wija dengan lugas.


"Terimakasih guru," Candrasa merekahkan senyumnya, sedangkan Air menatap pria itu datar.


Setelah obrolan panjang mereka, keduanya kelaur dari ruangan itu. Dwngan wajah yang sumringah Candrasa menenteng pedang milik Guru Wija.


"Kau duluan saja ke kamar, aku ada urusan sebentar." Kata Air.


Candrasa mengangguk pelan kemudian dia berjalan sendirian ke kamar, sedangkan Air masih berdiam menatap pria itu. Kemudian, sebuah tangan mencengkram keras di bahu Air, pria itu pun dengan spontan menarik pedangnya dan mengarahkan itu pada pria di belakangnya.


"Hey, santai saja!" kata orang itu.


Air mengernyitkan dahi, dia merasa aneh karena Juna yang tiba-tiba saja datang. Dia mengembalikan pedang itu ke dalam sangkarnya. Kemudian menghela napas panjang, dia agak kesal dengan tindakan yang membuatnya terkejut itu.


"Hebat ya, mereka bilamg tidak akan membeda-bedakan murid, tapi sudah dilihat jelas dialah yang selalu menjadi bahan sanjungan. Sebenarnya kau lebih pantas mendapat banyak pujian daripada dia." Juna sedang membicarakan Candrasa asal pada Air , tapi anehnya kali ini dia tidak terlihat marah.


Juna menepuk pundak Air lagi lalu berjalan kembali ke kamarnya, dia menyeringai tajam sorotan hitam matanya membuat pria itu terlihat menyeramkan.


Sedangkan Air, masih terpengaruh dengan ucapan Juna. Dia merasa apa yang di katakan temannya itu benar, dia selama ini yang mendampingi Candrasa. Bahkan yang lebih aktif bergelut dibanding pria itu, tapi kenapa sanjungan hanya diberikan pada si Putra Mahkota itu?


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2