![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Candrasa bangkit dari kumpulan air yang membasahi tubuhnya, burung-burung ikut berkicauan di atas pria itu seolah sedang menertawakannya. Pria itu menatap ke arah langit-langit lalu mendengus pelan.
Seharusnya, pria dengan ilmu setinggi dirinya tidak mudah mengambil tindakan sembrono. Kunci keberhasilan suatu jurus adalah sabar dan fokus. Akan ada saatnya, waktu yang tepat untuk bertindak.
Dengan deras air menetes dari pakaian pria itu, dengan wajah datarnya juga dia berjalan menghadap ke guru Wija. Gurunya tertawa kecil melihat muridnya basah kuyup dan sudah terlihat tidak bersemangat untuk melanjutkan latihannya.
"Kau masih sanggup?" guru Wija mendelik ke arah pria itu, Candrasa mendangak sambil berjalan mendekat.
"Tentu saja guru!" dia tahu, kali pertama tidak harus selalu berhasil jadi, dia akan mencobanya lagi dan lagi, sampai dia berhasil melakukannya.
"Baik, berdiri di depanku! Sekarang lakukan teknik pernafasan untuk meringankan tubuh." guru Wija menyeringai tipis pada pemuda itu. Candrasa melepaskan atribut yang memberatkannya. Guru Wija hanya bisa tersenyum kecil, dia memaklumi tindakan itu. Untuk sekarang, Candrasa boleh mengurangi beban yang di bawa, tapi nanti dia tidak akan mungkin melakukannya.
Pria itu memasang kuda-kuda, dia memejamkan mata lalu menarik nafasnya dan diberi jeda selama beberapa hitungan, diulangi sebanyak 3 kali dan menghembuskannya secara teratur. Pria itu meletakkan satu tangan di bawah pusar, dia menjaga agar perutnya tetap rileks, dan memperhatikan bagaimana ia naik. Keluarkan napas panjang. sampai dirasa energi di dalam tubuhnya berputar dengan agak cepat pria itu langsung mengarahkan pandangannya pada kolam berisi air penuh itu.
Dengan berjalan cepat Candrasa akhirnya bisa berjalan di atas air. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan byurrr ... Sayang sekali, pria itu terjatuh lagi ke dalam kolam, kali ini dia terjatuh hampir di tengah kolam.
Tapi, pria itu malah menyunggingkan tawa di bibirnya, dia merasa senang karena telah berhasil mengambil beberapa langkah di atas air. Begitupun guru Wija yang memperhatikan anak itu. Candrasa mulai berjalan lagi dengan agak berat, air yang menutupi hampir sepangkal pahanya itu menyulitkan langkahnya untuk sampai ke tepian kolam.
Matahari sudah mulai terlipat dan akan segera terganti menjadi bulan, guru Wija pun memutuskan untuk melanjutkan pelatihan esok hari. Apalagi, Candrasa juga baru saja pulang dari Nahdara. Walaupun, dia merasa bugar, dia tetap harus menghemat energinya. Candrasa meraih pedang dan barang lainnya yang tadi dia lucuti sendiri.
Mereka pun berjalan beriringan menuju asrama, "tanda di leher mu menghilang" imbuh guru Wija yang menyadari hilangnya tanda itu.
__ADS_1
Candrasa spontan menekan lehernya. "uh- iya guru .. Aku menggunakan kemukus untuk menghilangkannya, tapi ini hanya sementara" jawab pria itu.
Guru Wija mengangguk beberapa kali, sampai akhirnya mereka terpisah, Candrasa kembali ke kamarnya sedangkan gurunya kembali ke ruangan.
"Aku harus mandi lagi," Candrasa menatap pakaiannya yang basah kuyup. Dia segera membawa baju ganti dan pergi ke pemandian. Tidak ada pelayan khusus di akademi sihir, semuanya sama. Mereka hanya mendapat pelayan umum saja, untuk mencuci baju, menyiapkan makanan, tidak untuk melayani mereka secara pribadi dan tidak ada yang bisa memerintah pelayan di luar tugas mereka.
Candrasa berjalan ke arah pemandian, kebetulan sekali dia bertemu dengan Air yang dirasa baru saja selesai berganti pakaian.
"Hey, kenapa kau basah kuyup?" Air menyeringai, dia bertingkah seolah tidak tahu apa yang telah Candrasa lakukan.
"Aku baru saja berlatih," Candrasa tersenyum pada sahabatnya.
"Mari kita ke rumah hiburan, yang lain mengajak kita untuk kesana." imbuh Air sambil menunggu jawaban Candrasa.
"Mereka hanya ingin mentraktir kita, ayolah kau harus ikut!" ujar Air sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Baiklah, aku harus mandi dulu." Candrasa berjalan melewati Air, pria itu kini sedang menyeringai puas. Entah apa yang akan Air rencanakan dengan hal itu, kini dia seperti pria yang kerasukan.
Akibat kecemburuannya pada Candrasa, pria itu jadi lupa akan statusnya yang sebagai sahabat sekaligus pengawal bagi Candrasa.
Candrasa berjalan ke arah pemandian, dia langsung membuka helai demi helai pakaiannya dan berendam di air yang dingin yang selalu di siapkan untuknya. Setiap kali dia selesai mandi, air itu langsung di buang dan diganti kembali dengan yang baru, selalu seperti itu.
__ADS_1
Candrasa merasa tubuhnya sangat rileks, otot-ototnya mengendur. Setelah upaya berjalan di atas air dia lakukan, dia pun merasa agak puas dengan hasilnya walau dia akan mencoba lagi esok hari. Dia sangat semangat untuk mempelajari jurus dan teknik lainnya, sebelum mencari pedang itu lagi, dia harus memastikan bahwa sudah menguasai semua elemen dan jurus bela diri yang mumpuni.
Air Mahendra sedang berkumpul dengan temannya di gudang baca buku area Maharaja, mereka sedang berbincang dan merencanakan acara untuk malam ini. Tidak ada yang tidak semangat jika berurusan dengan rumah hiburan, mereka hanya boleh ke rumah hiburan jika ada acara atau bisa saja satu bulan sekali jika tanpa ada acara.
"Air, kau sudah mengajak Putra Mahkota?" Salah seorang murid akademi menunjuk Air yang sedang duduk di hadapannya. Air pun mengangguk dan tidak menjawab satu patah katapun.
Tidak berselang lama, suara langkah kaki terdengar. Rupanya, pangeran Candrasa sudah memasuki ruangan itu. Dia terlihat segar dan pakaian mewahnya sangat menyempurnakan tampilannya.
"Wah dia berlebihan, mengenakan itu." bisik Juna ke telinga Air, pria itu seperti sengaja menghasut Air agar tidak suka pada Candrasa. Dia selalu menanamkan hal buruk pada Air sejak tadi siang.
"Salam Pangeran," imbuh beberapa orang kecuali Air dan Juna. Candrasa pun tersenyum tipis, lalu menatap Air yang melihatnya datar.
"Air, aku sudah siap." kata Candrasa, anehnya pria itu bahkan tidak menjawab pernyataan putra mahkota. Dia hanya berdiri dan berjalan mendahului, diikuti oleh yang lainnya. Candrasa yang masih tertegun memikirkan sikap aneh itu, dia merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
Terlebih, pedang kemukus bisa saja ada di sekitarnya, pedang itu bisa mengendalikan iblis bayangan yang berkeliaran di sekitar Amarata, jadi tidak menutup kemungkinan ada salah satu iblis yang lolos dari tabir pelindung dengan cara merasuki orang lain.
Tapi, tanpa pikir panjang, Candrasa mengikuti mereka dari belakang. Jika para guru tahu bahwa Candrasa dilakukan seperti ini, mungkin mereka semua akan dihukum. Tapi, pemuda itu tidak ingin dia diperlakukan spesial, dia sendiri tidak pernah menginginkan hal itu.
Candrasa tidak menenteng pedang guru Wija, dia hanya membawa sebilah pedang kemukus kecil di dalam kantong koinnya. Tapi anehnya yang lain tetap membawa senjata mereka dengan lengkap, termasuk Air. Candrasa merasa heran, mereka hanya akan ke rumah hiburan, yang hanya keluar dari akademi, tapi seolah akan bertarung saja.
...****************...
__ADS_1
...****************...