![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Anehnya, setelah pertarungan berlangsung, hujan pun mereda seolah tahu bahwa suasana yang panas tadi, kini kian meluntur seiring dengan turunnya guyuran air hujan itu.
Candrasa melihat ke arah kawanannya dibelakang. Mereka semua menyeringai bangga pada Sang putra mahkota. Sedangkan para murid darkmagus menatap Candrasa dengan datar. Pria yang disebut Rama tadi melangkah maju ke arah Candrasa, dia mengulurkan tangannya pada pria itu.
"Hebat, aku Rama, Pangeran dari Brahma."
Candrasa pun menjabat tangan pria itu, "Candrasa, dari Amarata."
"Senang bertemu denganmu, ini teman-temanku. Hey perkenalkan diri kalian!" Rama meminta ke dua temannya memperkenalkan diri.
"Aku Raka,"
"Arjun," Pria ini melihat ke arah Azura yang bersembunyi di balik topeng.
"Halo Azura!" sapa pria bernama Arjun, Azura terlihat canggung saat pria itu menyapanya, dia pun membuka topengnya secara perlahan.
Saat pria itu menyapa Azura, Candrasa sontak menoleh ke arah wanita itu. Dia kini membuka topengnya dan menyapa pria itu balik. Candrasa kembali fokus kepada tiga orang murid Darkmagus.
"Apa kalian mendapat tugas juga kesini?" tanya pria itu.
"Yeah begitulah, kami mendengar dari orang diperbatasan, lalu aku langsung kesini. Sejujurnya, tidak ada perintah dari akademi tapi sebagai putra mahkota Brahma aku juga merasa bertanggung jawab dengan ini." Pria bernama Rama itu agak terlihat sombong.
Candrasa mengangguk dia tidak ingin banyak komentar mengenai hal itu, dia kemudian menoleh ke arah belakang. " mari cari penduduk yang membutuhkan pertolongan!" seru Candrasa sembari mengeratkan pedangnya.
Yang lain hanya mengangguk menuruti perintah Sang Pangeran Amarata itu. "Baiklah, kami pergi dulu." pamit Candrasa pada ketiga orang pria yang tidak kalah gagah dari dirinya.
"Yah tentu, silahkan. Semoga berhasil." Rama terlihat meremehkan Candrasa. Karena dia langsung menyeringai kepada temannya seolah berkata kita lihat saja.
Candrasa mengabaikan pria itu, walau dia agak panas dengan tingkah laku mereka. Tapi, sebagai manusia yang bijak dia harus selalu berpikir lebih dulu sebelum bertindak. Putra Mahkota langsung menunggangi kudanya kembali dan masuk ke pemukiman warga.
Mereka mulai mencari orang-orang yang meminta bantuan, bahkan ada beberapa orang yang memang mengalami luka bakar akibat racun yang ditimbulkan dari cakaran makhluk tidak terkendali itu.
Juna menatap ke arah belakang melihat murid darkmagus yang masih tertawa seolah mentertawakan mereka.
__ADS_1
"Ahh sialan. aku ingin sekali menghajarnya." ujar Juna dengan sembrono.
Candrasa menyeringai tipis, dia tahu kekesalan Juna. Karena dia sedikit merasakannya.
"Dia memang seperti itu," kata Hanada selaku sepupu dari Rama.
"Kau sepupunya. Kau pasti lebih tahu." kata Candrasa sembari menoleh ke arah Hanada yang berkuda disampingnya.
Hanada hanya menyeringai ke arahnya, Azura menatap keduanya dengan perasaan agak cemburu. Tapi, pandangan itu bertemu dengan sang tujuan. Candrasa menoleh ke arah Azura yang kini sudah membuka topengnya.
Wanita itu pun langsung memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada perjalanan mereka.
"Tolong... Tolong kami!"
Pekikan minta tolong terdengar ke telinganya, Candrasa langsung menarik kendali kudanya agar berhenti. Dia berhenti di sebuah rumah dengan anak kecil sekitar umur lima tahun di depannya. Pria itu turun dan menghampiri anak itu, "ada apa?"
" Ayah ku, ayahku sedang sakit. Aku lapar," kata anak itu pada Sang pangeran.
Setiap orang di dampingi para murid yang mampu dengan ilmu dasar alkemi. Azura berjalan di belakang Candrasa saat memasuki rumah itu. Keadaan rumah yang sangat memprihatinkan, tidak ada bahan makanan membuat Candrasa terenyuh. Bagaimana bisa dia melupakan hal seperti ini pada rakyatnya?
Dia merasa bersalah dan Azura bisa melihat itu dari sorotan wajah Candrasa. Wanita itupun mendekat ke arah putra mahkota lalu menepuk pundaknya dan menggeleng. Itu menandakan agar Candrasa tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Keduanya mendekat ke arah seorang pria yang mengalami demam setelah terkena racun cakaran. Bekas hitam yang ada di bahu pria itu sungguh mengerikan. Karena seperti bekas luka bakar yang melepuh, persis seperti makhluk itu.
Jika dibiarkan selama seharian penuh, racun itu bisa menyebar dan menggerogoti tubuh inangnya. Candrasa mencoba memfokuskan energinya, dia tahu jika melakukan itu dia akan kehilangan seperempat energi yang ada pada tubuhnya. Tapi tidak mengapa selagi dia bisa menolong orang lain dia akan melakukannya.
Candrasa mensejajarkan telapak tangannya dengan luka akibat cakaran monster itu. Dia menyerap racun itu dengan hati-hati.
"Apa itu tidak apa-apa?" Azura terlihat kahawatir.
Pria itupun mengangguk dan terus melakukan kegiatannya.
Tidak lama seluruh racun terserap, itu meninggalkan bekas di telapak tangannya. Candrasa menadahkan tangannya dan melihat racun itu terkumpul disana. Azura menatapnya dengan ngeri. Dia takut jika racun itu menyakiti Candrasa.
__ADS_1
Wanita itupun mengambil satu botol kecil ramuan yang terbuat dari mawar liar di hutan azure, bukan mawar biasa melainkan mawar bergigi tajam yang dulu pernah Air dan Candrasa temui.
Azura meneteskan sekitar dua tetes ke bekas luka pria yang terbaring lemah.
"Terimakasih," imbuh pria itu dengan suara yang parau.
"Sama-sama, makanlah bersama anakmu" kata Candrasa sembari beranjak dari duduknya.
Kemudian mereka pun keluar dari rumah itu, Candrasa yang berjalan mendahului terhentu saat Azura memanggilnya. Wanita itu mendekat ke arahnya, dia menatap Candrasa di matanya. Pria itupun memfokuskan pada mata indah Azura. Dia seperti terhipnotis dengan kedua bola mata itu, dia yakin, Azura tidak terlihat seperti manusia biasa.
"Berikan tanganmu," Azura meraih tangan Candrasa, dia meneteskan 3 air mawar itu ke telapak tangannya.
"Ini akan mempercepat penyembuhanmu" katanya sembari mengembalikan botol kecil itu di sakunya.
"Terimakasih," kata Candrasa sambil menyeringai.
Pria itupun melihat Ivana dan Ingga sudah kembali. Hanya ada beberapa yang sakit ringan tapi tidak sampai terkena racun monster itu. Beberapa lagi, hanya meminta bantuan makanan. Tapi, Hanada, Air dan Juna memang belum kembali.
Candrasa pun mencari mereka bersama yang lain, dilihatlah banyak orang berkumpul di sebuah kedai yang di padati oleh warga setempat. Sang putra mahkota melenggang masuk, dia melihat Hanada Air dan Juna sedang duduk berseberangan dengan Rama, Arjun dan juga Raka.
Rupanya, mereka sedang singgah di sebuah kedai ramalan. Hanada, Air dan Juna berniat untuk mencari orang yang sakit malah terjebak di kedai itu.
"Kenapa begini?" Tanya Candrasa pada Ingga.
Pria itupun menggeleng, "aku tiak tahu" jawabnya singkat.
"Apa mereka sedang bertaruh?" Ivana menilai dari posisi mereka.
Azura hanya menatap mereka dengan alis yang terangkat.
...****************...
...****************...
__ADS_1