![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Matahari terbangun untuk menggantikan tempat tinggal bulan, di ruang jamuan itu mereka masih berbincang dengan sengit. Hanada dan ayahnya masih beradu pandang.
"Bukankah ayah tahu bahwa itu milik kakek Candrasa?" Hanada mengulang pertanyaannya.
Raja Nahda masih terpaku dengan pertanyaan dari putrinya itu, dia tidak mau gegabah dalam menjawab hal itu.
"Emm... Ayah tidak mengerti apa maksudmu Hanada!" Seru nya pada putri Nahdara.
"Darimana ayah mendapatkan pedang kemukus kecil?" Hanada mengernyitkan dahi, dia menunggu jawaban ayahnya.
Candrasa hanya heran melihat percakapan yang berujung perdebatan itu, apalagi Air, dia yang hanya mengikuti Putra Mahkotanya kesini merasa terasing karena tidak tahu tujuan.
"Itu peninggalan kerajaan kita!" ujar Raja Nahda, pertanyaan dan jawaban yang berbelit itu membuat mereka kebingungan. Candrasa sendiri sudah tahu jika kemukus adalah milik kakeknya.
Lalu? Pernyataan Raja Nahda seolah terdengar seperti kebohongan semata. Hanada terus mencecar ayahnya tidak sopan. Mereka harus menemukan tanda keberadaan kemukus. Setidaknya tanda kecil pun akan sangat Candrasa syukuri.
Putra Mahkota Amarata mengeluarkan kemukus kecil dari kantong koinnya. Dia menunjukan pada Raja Nahda bahwa pedang kecil itu bisa bersinar dan sihirnya bekerja saat di aliri energi milik Candrasa.
Sejak dia terhisap ke dimensi lain yang dimana kakeknya tinggali, Candrasa belum tahu mengenai keberadaan kemukus. Dia ke Nahdara untuk menemukan petunjuk kecil agar dia tahu harus kemana mencari pedang kemukus yang utama.
Setelah Candrasa dapat kembali dengan selamat dari dimensi ghaib itu, pria itu tak hentinya memikirkan cara untuk membebaskan kakeknya dari kutukan pedang itu. Belum lagi, beban rakyat yang harus dia pikul. Janjinya pada mereka sama saja pertaruhan nyawa bagi Candrasa.
"Ada yang bisa kau jelaskan? Kenapa kau menganggap bahwa pedang itu milik kakekmu? Dan Hanada, kenapa kemukus kecil yang ku beri padamu kini ada padanya?" Raja Nahda menatap datar pria itu.
"A-aku memberikan itu pada Candrasa." Hanada menunduk, dia merasa bersalah karena telah memberikan barang yang ayahnya titipkan padanya.
Raja Nahda tahu ini akan terjadi, pedang itu akan bersinar jika ada di genggaman keturunan permaisuri Dara.
"Pedang ini bersinar di genggamanku," ujar Candrasa.
__ADS_1
...KILAS BALIK 60 TAHUN LALU...
Pangeran Nahda menghentikan langkahnya dan memandangi sang gadis dengan ekspresi takjub, juga cemas. Saat ini, di sekeliling tubuh Dara terlihat samar-samar sinar keemasan yang berpendar kian terang.
Lalu, rambut gadis ini juga berkibaran seperti ditiup angin yang berangsur kencang, padahal Nahda yang berdiri setengah meter di belakangnya tidak merasakan apa-apa.
Aneh - cantik! Nahda membatin, sepupunya itu terlihat seperti bidadari yang sedang mandi matahari. Dara memeluk tubuh dengan kedua tangan. Matanya terpicing, seperti sedang melawan sesuatu yang melingkupi dirinya.
Dan Pangeran Nahda setengah mati ngeri melihatnya sampai tidak berani berkutik. Dara nampak susah payah mengangkat kepalanya demi mencari pandangan pria di belakangnya.
"Kurasa, ini karena benda ini." ucap Dara sambil terengah kesakitan, dia menunjukan sebuah pedang kecil yang bernama kemukus. Pedang itu adalah hadiah dari ayahnya..
Hanya Dara dan keturunannya yang mampu mengendalikan kemukus kecil, tapi akhir ini seringkali Dara merasa kesakitan saat pedang itu mulai aktif. Dia merasa bukan dia yang mengendalikan benda itu, tapi pedang itulah yang mengendalikannya.
Entah, apa yang ada pada pedang itu, mereka tidak tahu.
Dikarenakan, peraturan kerajaan tidak menginginkan seorang wanita menjadi penguasa, maka dari itu ditunjuklah Pangeran Brahma sebagai calon suami untuk Dara.
Disana, Dara bisa menguasai setengah wilayah Purnawata dan Brahma. Sedangkan, kepemimpinan Purnawata di gantikan oleh adik mendiang ayah Dara, Raja Sena yang kekuasaannya hanya bertahan selama 3 tahun karena terserang penyakit misterius.
Di hari pernikahannya dengan Pangeran Brahma wanita itu merasa aneh, tapi dia tidak tahu alasan dari hal itu, yang dia rasakan dia sering kali merasa kesakitan dan tidak bisa mengendalikan diri.
Sampai pada waktu dimana dia berlari hampir ke ujung jurang yang di bawahnya terdapat danau dingin yang bisa mematikan tubuh dalam sekejap. Itu semua dia lakukan tanpa sadar.
Untunglah, pada saat yang bersamaan seorang kesatria hebat Amarata sedang berkuda di wilayah itu. Dia menolong Dara yang tak terkendali. Pria itu langsung membuang pusaka kecil yang ada di tangan wanita yang dilihatnya.
Tidak lama setelah itu, Dara pun dibawa ke Amarata dan di sambut hangat oleh keluarga kerajaan. Walaupun statusnya yang hanya di anggap rakyat biasa tapi Raja dan Ratu Amarata sangat menyayanginya. Sehingga, Dara dan Jira pun akhirnya di nikahkan.
Purnawata yang kini di kuasai oleh Nahda pun mengerahkan semua prajurit mencari Dara. Mereka menganggap putri Purnawata itu sengaja melarikan diri karena tidak ingin menikahi Pangeran Brahma.
__ADS_1
Demi menjaga nama baik mereka, Raja Brahma II meminta adik dari Raja Nahda, putri Naira yang menggantikan Dara sebagai calon pengantin Putra Mahkota. Kedua mempelai pun setuju, diantara mereka tidak ada yang keberatan, malahan pasangan itu sangatlah bergembira, karena sejujurnya mereka sudah menjalin kasih sebelum perjodohan itu ada.
Raja Nahda terus mencari keberadaan Dara sampai pada suatu saat, pria itu menemukan Kemukus kecil tergeletak di dekat jurang. Dia merasa sedih karena dia kira Dara sudah tiada.
Selama bertahun-tahun pria itu menyimpan kemukus, karena larut dalam kesedihan dia mengganti nama Kerajaan mereka menjadi Nahdara sebagai bukti peninggalan putri itu.
Ternyata, Naira dan kekasihnya Brahma sudah menyusun rencana itu dengan matang. Naira menyisipkan mantra pada kemukus kecil milik Dara sehingga dia bisa dikendalikan oleh dukun yang ada di Brahma.
Samapai pada akhirnya wanita itu hampir melakukan bunuh diri, Raja Jira lah yang menyelamatkannya dari sihir jahat itu.
Setelah Raja Nahda mendengar desas-desus mengenai keberadaan Dara, dia pun berniat menjemputnya. Caranya yang membuat Kerajaan Amarata marah membuat dampak buruk bagi kelangsungan hubungan dua kerajaan itu.
Dara yang sudah menjadi istri dari Pangeran Jira, di paksa meninggalkan tempat itu. Sampai pada akhirnya, Amarata dan Nahdara tidak pernah akur lagi sampai saat ini.
Saat kesempatan datang, Dara pun meminta izin pada Jira untuk berbicara langsung dengan sepupunya Nahda.
"Aku tahu kau menyayangiku, tapi kumohon kehidupanku bukan untuk Purnawata lagi, melainkan untuk suamiku Jira dan Amarata." Kata wanita itu dengan lembut.
Nahda yang merasa gagal melindungi Dara mencoba untuk mengelak beberapa kali.
"Menikahlah denganku, kita kembali bersama membangun Purnawata!" Nahda menangis.
Wanita itu mendekat dan menyentuh pipi Nahda, "Wahai kakakku, anggaplah Dara dari Purnawata telah tiada. Jagalah pedang pusaka kecil peninggalan ayahku. Mulai sekarang, aku akan hidup sebagai Dara dari Amarata."
...KILAS BALIK SELESAI...
...****************...
...****************...
__ADS_1