CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 46 : kembali ke Akademi


__ADS_3

Candrasa sudah sampai di kamarnya, lalu menaruh pedang itu di samping tempat tidur.. Pria itu, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan mengganti pakaian seragam akademi sihir Maharaja.


Tak lama, Air masuk ke dalam kamar mereka, dilihatnya sebuah pedang milik guru Wija yang menimbulkan kecemburuan sosial itu. Dia mendengus pelan, "harusnya ini menjadi milikku" kata Air seperti terhasut ucapan Juna.


Dia membuka pedang itu dan melepaskan dari sarungnya, Air mengayunkan pedangnya tepat ke tempat tidur milik Candrasa. Dia mengerutkan dahinya, lalu kembali memasukan pedang itu ke dalam sarung.


Pria itu merasa emosinya tidak bisa terkendali, jadi dia memutuskan untuk keluar dari sana dan berjalan ke area pelatihan. Dia bergabung bersama teman-teman lainnya yang sedang berlatih teknik bela diri.


Mereka kini melakukan kuda-kuda. Teknik ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik dalam posisi menyerang maupun bertahan.


Cara melakukan kuda-kuda dalam bela diri yakni dengan menapakkan kaki ke tanah dengan posisi tubuh dan kaki seperti orang yang sedang menunggangi kuda.


Candrasa terlihat sudah mandi dan bergabung juga dengan teman-temannya. Dia menyeringai ke arah mereka, sedangkan Air hanya menatapnya datar.


"Selamat bergabung Pangeran," kata salah seorang murid.


Air menjauh dari mereka, dia memutuskan untuk pergi membersihkan dirinya juga tanpa sepatah katapun, sikapnya yang aneh membuat Candrasa agak bingung. Tidak biasanya sahabatnya itu seperti tadi.


Tapi kini, dia mulai ikut ke posisi latihan. Guru Tera mulai masuk dan mengawasi mereka.


Foto


Setelah tubuh mereka seimbang, entah untuk mneyerang maupun bertahan dari serangan, kini mereka mencoba untuk terus melatih teknik pernafasan agar memudahkan mereka disetiap kondisi.


Air berjalan ke pemandian, dia membuka setiap helai bajunya dan berendam di dalam kolam besar khusus.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam tapi Air belum kembali, kini para murid akademi sihir tingkat pertama sedang melalukan teknik lainnya. Setelah menguasai teknik kuda-kuda dengan baik dan benar, teknik selanjutnya yang harus dikuasai adalah teknik Sikap pasang.


Teknik sikap pasang adalah posisi yang dikombinasikan dengan kuda-kuda dan bersifat fleksibel sesuai dengan situasi menyerang ataupun bertahan.



...(sumber : notepam.com)...


Ilmu dasar bela diri yang sudah mereka kuasai kini di pelajari ulang untuk mengetahui dasar dalam pertempuran adalah sikap tenang, sabar dan fokus. Dengan teknik-teknik dasar mereka tidak akan mudah di kalahkan oleh musuh.


Setelah ini, mereka menggerakan kaki mereka seperti melangkah. Teknik pola langkah berfungsi untuk membuat pergerakan kita tidak mudah ditebak oleh lawan.


Pola langkah dilakukan dengan cara mengubah pijakan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya dengan pola yang disusun sendiri.


"Hya!" ucap semua orang serentak.


Candrasa berusaha keras untuk menutupi simbol ilmu hitam di lehernya, dia tidak ingin dirinya di cap sebagai penganut ilmu hitam.


Setelah sadar, bahwa ada sesuatu hal yang harus dia lalukan Candrasa pun izin untuk keluar dari pelatihan.


"Maaf guru, aku izin pamit ada hal mendesak yang harus ku lakukan." ujar pria itu, guru Tera hanya mengangguk dan mengizinkan Candrasa untuk pergi dari sana.


Pria itu berjalan dengan tergesa, dia pergi ke ruangan ganti miliknya untuk mencari cermin besar di dalamnya. Candrasa kini berdiri mematung di hadapan cermin besar itu.


Dengan perlahan, dia mengeluarkan kemukus dari kantong koinnya seraya berbicara di depan cermin.

__ADS_1


"Siapapun kau, aku memanggilmu. Jika kau adalah kakekku tolong munculah!" Candrasa menutup matanya, kemukus tadi bersinar memantulkan cahaya ke cermin.


"Kau memanggilku?" ujar seseorang, Candrasa membuka mata dan melihat refleksi dirinya yang bisa berbicara.


Pria itu tertegun, dia terkejut melihat refleksi di dalam cermin itu berbicara dengan sendirinya.


"Tidak perlu takut, aku kakekmu." Pria itu menyeringai, Candrasa menatapnya dengan seksama.


"Tunjukan padaku jika kau adalah kakeku!" pinta Candrasa pada replika di depannya.


"Aku memberimu energi yang ku miliki dan dengan kemukus yang kau pegang, aku bisa menjalar ke tubuhmu cucuku." Kata pria yang mengaku sebagai kakeknya itu.


Candrasa menatap dirinya tajam, " Itu tidak adil bagiku, kau tidak boleh masuk sembarangan ke tubuh orang lain."


"Fyuh... Kau bukan orang lain, kau adalah cucuku. Lagipula. Aku masuk ke dalam tubuhmu karena aku ingin melindungimu dari kejahatan yang tidak pernah kau bayangkan." pria di dalam cermin itu menatap Candrasa dengan serius.


"Tapi, karena kakek, kini aku memiliki simbol di leherku. Yang mana nantinya akan menjadi masalah besar bagi kerajaanku." Candrasa mengeluhkan simbol itu lagi.


"Hahaha, kau belum tahu rupanya. Usapkan kemukus kecilmu ke simbol itu, lalu lihatlah bahwa simbol itu akan hilang untuk sementara waktu sampai aku merasuki tubuhmu lagi." Replika Candrasa yang berada di dalam cermin menunjuk ke bagian leher pria itu.


Candrasa mengikuti saran dari kakeknya, pria itu mulai mengusap lembut area yang terdapat simbol disana. Kemudian, perlahan simbol itu menghilang, dengan mata yang membelalak Candrasa agak terkejut melihatnya. Namun, syukurlah karena kini simbol ilmu hitam itu sudah tidak ada lagi.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2