![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...PETA KERAJAAN AMARATA...
Akademi sihir Maharaja,
~
Candrasa sudah selesai membersihkan diri, dia langsung bersiap untuk pergi ke Nahdara. Begitupun dengan Air yang sudah membersihkan dirinya juga. Air dan Candrasa membawa senjata mereka di pinggangnya.
Mereka berjalan keluar dari Asrama Putra, kemudian di sana dia berpapasan dengan Guru Rega sang ahli bela diri.
"Salam Pangeran, dan salam Air." Kata Guru Rega.
"Salam guru," Candrasa dan Air memberi hormat kepada guru Rega.
Guru Rega memperhatikan mereka yang sudah rapi, seakan ingin pergi ke suatu tempat.
"Mau ke mana kalian?" Tanya Guru Rega, Candrasa pun menatap Air.
Lalu, dia menatap lagi Guru Rega, "kami akan pergi ke Nahdara guru."
Dengan wajah terkejut guru Rega menoleh ke arah mereka berdua. "Untuk apa kalian pergi ke sana?" Guru Rega terlihat penasaran dengan alasan mereka berdua.
Candrasa dengan gugup memberitahu alasan mereka ke Nahdara, "Kami ingin bertemu Hanada guru, ada sesuatu hal yang ingin tanyakan padanya."
"Kuharap kalian tidak kesana dulu sekarang, Kerajaan Nahdara sedang mengalami penyerangan. Jika, kalian kesana, mereka bisa saja menyerang Amarata juga." Guru Rega menjelaskan tentang keadaan di Nahdara sekarang.
Candrasa membelalak mendengar itu, begitupun dengan Air. Mereka saling bertukar tatap, yang mereka pikirkan pertama kali adalah bagaimana kondisi Hanada. Bagaimana bisa kerajaan Nahdara diserang oleh Kerajaan lain.
"Guru, Kerajaan mana yang menyerang Nahdara?" Tanya Candrasa mengernyitkan dahi.
"Yang aku tahu, kerajaan adiknya Raja Nahda lah yang menyerang Nahdara. Menurut kabar yang beredar, Kerajaan Brahma lah yang ingin mengambil alih Takhta dari Kerajaan itu." Jelas Guru Rega.
Candras mengeryitkan dahinya, dia semakin bingung dan khawatir kepada hanada.
"Bukankah, Kerajaan Brahma adalah milik adik Raja Nahda guru?" Tanya Candrasa untuk mendapatkan jawaban lebih jelas.
__ADS_1
Mereka harus segera ke sana sekarang dan membantu Hanada, Candrasa pun menoleh ke arah Air.
"Air, mari kita ke Nahdara sekarang!" Pinta Candrasa, Air pun mengangguk sambil menoleh ke arahnya.
"Baik pangeran," Kata Air, tapi Guru Rega menahan mereka.
"Tunggu Putra Mahkota! Apa kau yakin akan pergi kesana? Di sana sedang ada penyerangan." Tanya Guru Rega sambil kebingungan,
Candrasa pun mencoba menyakinkan Guru Rega, "Guru, melihat Hanada sedang dalam bahaya, kami tidak bisa tinggal diam saja." Candrasa menatap Guru Rega.
"Kita juga tidak bisa tinggal diam saja bukan? Hanada adalah murid Akademi Sihir Maharaja guru, kita tidak boleh membiarkan dia terluka guru." Candrasa menunggu jawaban guru mereka.
"Tapi, Putra Mahkota itu sudah bukan lagi tanggung jawab kita. Apalagi Hanada sudah dikeluarkan dari Akademi Sihir, jadi sebaiknya kita tidak ikut campur dulu untuk saat ini." Guru Rega memberi saran pada mereka berdua.
Tapi, kekhawatiran mereka tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mereka masih saling menatap satu sama lain. Guru Rega yang melihat kekhawatiran mereka terhadap Hanada akhirnya, menyerahkan segala keputusan kepada Pangeran Candrasa.
"Baik, berhati-hatilah dan jangan sampai mereka tahu bahwa kalian dari Amarata. Apalagi jika sampai mereka tahu Candrasa adalah Putra Mahkota, mereka pasti akan menyerang kita juga. " Guru Rega memberi wejangan, Candrasa dan Air pun mengangguk mengerti.
"Menyamar lah sebaik mungkin Pangeran! Dan... Air ! jaga diri kalian baik-baik." Candrasa tersenyum mendengar ucapan guru Rega, begitupun dengan Air.
"Tentu guru, kami akan sebaik mungkin menyamar dan melihat keadaan di sana secara diam-diam." Candrasa dan Air berjalan keluar Akademi Sihir.
Candrasa dan Air masih berjalan menyusuri Amarata, matahari sudah tidak terlihat lagi. Malam pun sudah menggelap, cahaya bulan mulai menerangi jalan mereka ke Nahdara.
Tapi rakyat Amarata masih ramai beraktivitas, di sekitar rumah. Sehingga suasananya masih begitu ramai. Candrasa dan Air tidak bisa ditemani oleh para pengawal kerajaan, karena ini adalah perjalanan rahasia mereka.
Tidak boleh ada yang tahu selain guru Rega dan guru Wija. Mereka harus segera menolong Hanada dan kerajaannya. Mereka khawatir, sesuatu buruk akan terjadi pada sahabat mereka itu.
Candrasa dan air melewati hutan yang biasa dia lewati untuk pulang ke istana, mereka menunggangi kudanya dengan agak cepat. Candrasa masih memikirkan tentang keadaan Hanada sekarang, begitupun dengan Air.
Air sama khawatirnya dengan Candrasa, bagaimana jika sesuatu terjadi pada wanita itu? Dan.. Bagaimana bisa kerajaan adiknya Raja Nahda sendiri ingin berebut takhta kerajaan kakaknya?
Candrasa dan air sudah sampai di area pasar, mereka melewati beberapa toko. Sesampainya di pasar mereka membeli pakaian untuk menyamar, sebelum itu mereka sudah menutupi wajah mereka dengan sebuah kain berwarna biru, agar rakyat Amarata juga tidak mengetahui siapa mereka.
Tentu saja mereka melihat Candrasa dan air dengan tatapan penasaran, dikarenakan pakaian mereka yang tidak biasa dan menunjukkan kebangsawanan. Candrasa dan Air lalu melipir ke salah satu toko pakaian.
"Aku akan membeli pakaian ini." Kata Candrasa pada penjaga toko.
__ADS_1
"Baiklah ini berapa tuan?" Air bertanya kepada penjual itu.
"Maaf sekali, ini tidak dijual." Penjual itu menyeringai seolah ada yang sedang dia rencanakan.
Air mengernyitkan dahi, "Bagaimana mungkin tidak dijual, kau memajangnya di sini!" Kata Air agak emosi.
Penjual itupun mengatakan, "iya, tapi sayang sekali sekarang ini tidak dijual!" Katanya.
Candrasa menatapnya dengan kebingungan,
"Berapapun akan kami bayar," Kata Candrasa.
"Benarkah? Bagiaman dengan 10 koin emas?" Tanya penjual itu dengan kegirangan.
"Kau gila?" Air melangkah mendekati pria itu. Candrasa pun menahan Air.
"Kami tidak membawa sebanyak itu," Kata Candrasa.
"Kalau begitu tukar saja dengan pakaian yang kalian gunakan! Aku bisa menjualnya dengan harga yang berkali-kali lipat dari pakaian ini. Hahaha.." Kata penjual itu.
"Bukankah kalian bukan orang sembarangan? Itu terlihat dari pakaian kalian." Lanjut penjual itu sambil cengengesan.
Air merasa kesal, dia ingin sekali menghantam pria itu. Dia merasa sedang dipermainkan oleh pria dihadapannya. Tapi, Candrasa mencoba menahan Air.
Dia menggelengkan kepalanya, "Baiklah kami akan menukar pakaian kami dengan pakaian itu." Kata Candrasa dengan tatapan datar.
"Wah bagus, Kau menyetujuinya. Mari cepat ganti di dalam!" Penjual itu menyuruh Candrasa dan Air masuk ke dalam tokonya.
Dengan kesal air pun mengikuti Candrasa dari belakang, jika penjual itu tahu bahwa Air dan Candrasa bagian penting Istana Amarata, mungkin dia tidak akan berani seperti itu pada Candrasa dan Air.
Mereka mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa seperti rakyat Amarata. Candrasa dan Air kemudian saling melempar senyuman.
"Wah terima kasih Tuan," Penjual itu sangat kegirangan setelah mendapatkan baju mahal air dan Candrasa. Karena dia pasti bisa menjualnya dengan harga berkali-kali lipat, dia bisa untung banyak dengan itu.
Candrasa dan Air pun menunggangi kudanya lagi lalu kembali berjalan menyusuri pasar, untuk sampai ke perbatasan. Mereka sudah berhasil mengganti pakaian mereka. Mereka sudah terlihat seperti rakyat biasa, Candrasa berjalan sambil memperhatikan rakyat-rakyatnya Amarata.
...****************...
__ADS_1
...****************...