CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 37 : Kerasukan.


__ADS_3


Pertahanan Nahdara sia-sia saja, semua prajurit mereka berhasil dibekukan tak berdaya oleh penyihir jahat si Ratu Naira. Lalu, siapakah yang harus menjadi lawan yang sepadan untuknya?


Hanada, gagal menghujam pedangnya ke arah ratu itu, dia merasa geram karena aksinya yang super halus malah dipaksa mundur karena panggilan seorang pelayan.


Dia berbalik badan lalu bersandar, "Sial, hampir saja" umpatnya.


Wanita itu, menatap Candrasa yang terpaku melihat kemukus kecil di tangannya sendiri. Dia mencoba membuyarkan lamunan pangeran Amarata itu.


"Candrasa!" seru Hanada padanya.


Candrasa kemudian menatap ruangan itu dengan kebingungan, "kerajaanku" ucapnya membuat Hanada kelabakan. Apa maksud pria itu?


"Kemukus ini?" Gelagat Candrasa sangat terlihat aneh, dia melihat setiap anggota tubuhnya bahkan menyentuh wajahnya sendiri.


Hanada dengan alis yang mengangkat keheranan melihat tingkah pria itu, dia pun menepuk lengan Candrasa untuk berjalan lagi mengikutinya. Candrasa pun mengikuti Hanada dari belakang bak kerbau ditusuk hidungnya.


Mereka mengendap-endap ke ruangan takhta kerajaan Nahdara, langkah demi langkah mereka lewati. Anak tangga yang mungil itu kadsng berdenyit mengeluarkan suara seperti tikus terjepit.


"Candrasa, kau siap?" Hanada menoleh ke arah belakang, pria itu sepertinya tidak sadar bahwa dialah yang Hanada panggil.


Sesampainya di ruangan ganti pakaian kerajaan, mereka keluar secara perlahan. Hanada lagi-lagi menoleh ke arah pria itu. Sorot mata Candrasa kini berubah menghitam legam.


"Candrasa, taruh kemukus mu! Jika aku ketahuan mencuri itu dari gudang senjata ayahku pasti akan marah!" Hanada meminta pria itu memasukan kemukusnya.


Candrasa tidak meghiraukannya lagi, kini dia malah melenggang pergi tanpa persiapan melewati Hanada.


"Candrasa!" panggil Hanada agak khawatir.


Saat di hampir keluar, seseorang mendorong pintu itu. Dilihatnya Isa dan para prajurit.


"Itu Putri Hanada!" Unjuk salah seorang sena pada Hanada.


"Wah kau hebat, telah menemukannya!" Isa menepuk pundak Candrasa, tapi pria itu seolah spontan malah mendorong Isa hingga terpelanting beberapa langkah.


"Apa-apaan itu? Prajurit, bunuh dia!" Isa mengerahkan semua sena nya untuk melawan Candrasa. Hebatnya pria itu tak bergeming hanya karena sekumpulan receh dihadapannya.


Hanada mundur, tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain ikut menyerang para prajurit. Wanita itu langsung maju dan menyerang beberapa prajurit yang mencoba menangkapnya.


"Hiyaaaa!" Teriakan yang memekakan telinga itu keluar dari bibir mungil Hanada. Sedangkan si Pangeran Amarata tetap melawan prajurit satu persatu dengan sorot mata yang dingin.


Candrasa mundur, sambil memegang kemukusnya dibelakang, pria itu menghindar cepat dari serangan prajurit itu.


Brakk

__ADS_1


Tendangannya mengenai perut bawah prajurit itu sampai terpelanting menabrak patung berpakaian putri. Isa hanya bisa menatap pria itu dengan kebingungan.


"Siapa orang itu?" dia melihat Candrasa dengan seksama, dari aura yang terpancar keluar darinya, jelas dia bukan pria sembarangan, pikir Isa.


Pria itu segera berlari ke arah singgasana yang kini dihadiri para tamu pernikahan, "Ibuuu!" panggil si anak manja itu.


"Ada apa? Mana Hanada? Kau sudah menemukannya?" Tanya Ratu Naira.


Isa mengangguk, " sudah, tapi... Ada satu hal yang aneh."


Di sisi lain, Candrasa masih menendang para prajurit itu sampai dia meletakkan kemukus di dadanya dan mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya. Cahaya hitam terpancar dari pria itu.


Cahaya apa itu?


Hanada membatin sambil menahan serangan prajurit.


sreet


Hanada berhasil menyayat dada kiri prajurit, kemudian Hanada berlari mendekat ke arah Candrasa. Sisa prajurit itu tidak bisa melakukan apapun, rasanya kaki mereka berat bagai ditimpa beton.


Candrasa dan Hanada berada diluar ruangan, pria itu menutup pintunya.


"Mereka bisa kabur, Candrasa!" Hanada mengikuti Candrasa yang berjalan lurus ke singgasana raja.


Hanada kelimpungan, apa yang sebenarnya terjadi pada pria di hadapannya. Kenapa dia tidak seperti Candrasa yang dia kenal.


Yang mereka lihat sekarang adalah, mereka ada disebuah pijakan yang tinggi dibawahnya kobaran api besar. Para sena itu terjebak disebuah ilusi yang tidak ada jalan keluarnya.


Jika mereka terjun ke bawah, berarti kobaran api akan melahap mereka. Tapi jika mereka berdiam diri disana, maka jiwanya akan tetap disana selamanya.


Candrasa dan Hanada berjalan ke singgasana, dilihatnya semua orang kini menatap ke arah mereka heran.


"Itu ibu, pria itu!" Kata Isa mengadu pada ibunya, Hanada langsung bersiap dengan kedua pedangnya. Sedangkan Candrasa menggeretakan tukang lehernya yang terasa pegal.


"Hiyaaaa!" Hanada berlari melawan prajurit tersisa disana.


Trang trang


Dentuman aduan pedang membuat semua orang berlarian keluar, sedangkan Ratu Naira mempusatkan energinya untuk menyerang Candrasa.


"Matilah!"


Kabut es mengumpul, terlihat perlahan melahap Candrasa, dia menyeringai menatap mata pria itu. Seakan menandakan bahwa Candrasa bukanlah tandingannya,


Candrasa membalas tatapan mata itu dengan tajam, tiba-tiba Ratu Naira berada di tempat berkabut kosong tanpa ada orang.

__ADS_1


"Nairaaa~~" bisik di telinganya membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.


"Siapa kau sebenarnya?" Teriak Ratu Naira.


"Hahaha" suara tawa menggelegar membuat Ratu Naira mencongkong kebawah.


"Siapa kau?" Tanya wanita yang ketakutan itu sekali lagi.


"Halo nak," suara itu, adalah suara yang dia kenali dia mundur sambil mengeratkan pelukan ke lututnya, kini dia bagaikan anak anjing kehilangan induknya.


'"Kau! Beraninya memporak-porandakan kerajaanku!" tanpa menampakan wujudnya, suara pria itu begitu memekakan telinga Naira.


"Tidak paman. Aku mohon lepaskan aku!" Kata Ratu Naira.


"Kau sudah banyak berbuat keji! Kau bahkan membuat Dara-ku pergi meninggalkan Istana!" Pekik suara itu.


"Maafkan aku paman, maafkan aku." Naira bersimpuh sambil memohon maaf.


Kemudian, pria itu menampakan wujudnya yang menyeramkan sambil mendekat cepat kepada Naira.


"Aaaaaaa!" Teriak wanita itu yang masih fokus menatap Candrasa, semua orang kebingungan, dia langsung tergeletak dibawah. Sedangkan Hanada yang sedang melawan panglima perang mangambik kesempatan itu untuk menusukkan pedangnya pada pria didepannya.


Jlebb


Semua orang kian terkejut dan membelalak, Raja Nahda menatap Hanada dengan penuh guncangan. Itu pertama kali melihat putrinya membunuh seseorang.


Brukk


Panglima perang Brahma tergeletak di hadapannya. Isa berlari ke arah ibunya yang tak sadarkan diri. "Ibu!" teriaknya.


Sedangkan Candrasa kelimpungan, dia melihat kemukus di tangannya, dengan cepat pria itu memasukan kemukus ke kantong koin. Kemudian pria itu berjalan ke arah Hanada.


"Hanada!" Katanya, melihat Hanada berhasil membunuh panglima perang Brahma, berati mereka berhasil.


"Apa yang kau lakukan pada penyihir jahat itu?" Hanada menatap Candrasa dan menunggu jawaban darinya.


"Aku? Aku tidak tahu, seingatku kita masih ada di ruangan rahasia itu." Candrasa menggeleng, dilihat dari sorot mata pria itu, dia tidak berbohong sama sekali.


"Kau yakin?" Hanada bertanya sekali lagi.


Candrasa hanya mengangguk.


"Bawa Ibuku!" Kata Isa sambil menangis melihat ibunya terkapar lemas di tengah kursi yang berjejer. Hanada menghampiri ayah dan neneknya.


Dia memeluk erat ayahnya itu, "Kau luar biasa." kata ayahnya.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2