CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 55 : Lembaran yang kosong


__ADS_3


Keduanya kembali ke asrama, setelah pelatihan khusus itu Candrasa langsung ke kamarnya. Tapi kini, dia merasa agak lapar. Jadi, dia mengajak Air untuk makan, tetapi Air menolak. Dia bilang dia baru saja makan bersama teman lainnya. Akhirnya Candrasa pun meminta salah seorang pelayan Akademi untuk mengantarkan makanan ke ruang kosong tempat biasanya dia berdiam diri atau makan.


Candrasa menunggu makanannya dengan bosan, tidak lama seorang pria yang ternyata adalah guru Tera seniman bela diri itu memberikan Candrasa sebuah buku. Pria itupun meraih buku yang di beri gurunya, "ini apa guru?" tanya pria itu agak bingung.


"Buku, tentu saja itu buku!" katanya sambil menyeringai pada Candrasa.


Candrasa pun melihat lembar perlembar buku itu, tapi ... Kenapa tidak ada apa-apa disana. Bukunya terlihat kosong melompong. Pemuda itupun tertawa kecil, "guru sedang menggodaku ya?" tanya Candrasa pada guru Tera.


Gurunua menggeleng, "tidak sama sekali, perhatikan baik-baik! Itu bukan hanya lembaran kosong Candrasa! Pelajarilah, jika kau mampu membacanya maka kau harus mempelajari teknik itu!"


Candrasa masih terlihat bingung, dia sendiri tidak mengerti apa yang dimaksukan oleh gurunya. Dia menatap lekat lembaran itu, tetap sama. Dia tidak melihat apapun, tidak ada tulisan maupun gambar apapun disana.


Tidak lama, seorang pelayan membawakan makanan untuk pangeran Candrasa. "Nikmatilah hidanganmu," guru Tera menyeringai lalu pergi dari sana. Candrasa sendiri hanya menatap pria itu dengan bingung.


Kemudian fokusnya masih teralihkan ke makanan yang ada di hadapannya, "terimkasih" ujarnya sembari tersenyum pada pelayan.


Setelah pelayan itu pergi, Candrasa langsung memakan apa yang telah disediakan diatas meja. Pria itu menaruh disisi kanannya buku yang tadi masih dia pikirkan apa isi didalamnya. Dia memutuskan untuk makan terlebih dahulu, kemudian membacanya lagi.


Pria itu dengan lahap menghabiskan sisa makananya, dia sudah lama tidak menilik pedang kemukus kecilnya, dia pun mengeluarkan itu dari kantong dakunya dan meletakannya di atas buku tadi.


Candrasa menghabiskan makanannya tidak bersisa, pria itu kini sudah penuh. Dia bisa berkonsentrasi untuk mengetahui apa isi buku itu.


Setelahnya dia membawa buku itu ke perpustakan, disana akan lebih baik dari pada di kamar atau di tempat tadi. Karena dia akan lebih fokus untuk membacanya.


Dengan membawa kedua benda tadi, Candrasa masuk ke perpustakan atau gudang baca buku dimmyang tempatnya ads di pertengahan antara asrama putra dan putri.


Dia melangkahkan kakinya ke dalam, tidak banyak orang disana. Hanya beberapa murid perempuan dan juga pria. Karena saking fokusnya ke jalanan Candrasa tidak bisa berhenti saat ada seorang wanita yang tiba-tiba saja keluar dari arah kiri.


Brakk

__ADS_1


Candrasa menabrak wanita itu, syukurlah dia dengan sigap menahan wanita itu agar tidak terjatuh. Hmm situasinya seperti adegan romansa di dalam sebuah buku cerita sekarang.


Wanita itu tersenyum. Candrasa pun membantunya berdiri dan melepaskan pelukannya dari tubuh wanita itu. "Maafkan aku," ujarnya sambil menunduk.


"Tidak apa-apa, maafkan aku karena tidak sengaja menabrak pangeran." kata Wanita itu dengan lembut.


Warna matanya berkilauan hijau, kulitnya bahkan seputih susu. Dia terlihat seperti peri ketimbang manusia biasa. Candrasa mengagguk, lalu melewati gadis itu dan membawa buku yang tadi terjatuh. Dia melupakan pedang kemukus kecilnya yang juga terjatuh disana.


Gadis itu melihat pedang yang terjatuh, dia segan untuk mengejar Candrasa ke sana. Jadi, dia berinisiatif akan membawanya ke asrama putri. Mungkin dia bisa meminta Hanada memberikan itu pada Candrasa.


Candrasa berjalan ke pojokan diantara rak buku kuno, dia langsung membawa buku itu dan membukanya lembar perlembar. Pria itu dengan fokus memperhatikan lembaran kosong.


"Uh apa yang harus ku cari disini?" Dia mulai mengeluh karena sulitnya konsentrasi pada buku itu. Candrasa mengeluarkan elemen api dan mencoba membakar buku itu. Ajaibnya, buku yang tadi terbakar kembali ke semula.


Pria itu mengerutkan dahinya, "menarik" imbuh pria itu. Dia pun mencoba lain cara agar apa yang ads dibuku itu dapat terbaca. Dia mencoba pelatihan yang di ajarkan guru Wija. Memfokuskan titik energi spiritualnya keluar.


Sepersekian detik, Candrasa mencoba hal itu, kemudian membuka matanya.


"Akhirnya.." pria itu melihat setiap catatan yang tiba-tiba saja muncul pada buku itu. Kemudian dia meraih sebuah buku catatan untuk menyalin ini buku itu untuk mempelajarinya.


Dia menekan dadanya, sepertinya wanita itu kagum pada Candrasa. Dia kemudian berbalik dan pergi ke asrama putri. Sedangkan Candrasa masih sibuk menyalin isi buku tadi.


Gadis itu berlari keluar dan pergi ke asrama putri, dia tersenyum sambil menggenggam pedang kemukus kecil milik Putra Mahkota itu. Kemudian dia berjalan ke ruang pelatihan untuk putri. Disana dia melihat Hanada yang mulai bertarung dengan lawan putrinya. Dilihatlah guru Manta dan kawannya yang lain sedang menyaksikan pertandingan itu.


Lawan wanita itupun kalah, kemudian setelah selesai Hanada dikerumuni semua teman wanitanya. Anggap saja, Hanada adalah Candrasa versi wanita, di asrama putri dia selalu menjadi pusat perhatian murid yang lainnya.


Saat Hanada melihat pedang kemukus di pegang oleh gadis itu dia pun mengerutkan dahi lalu menghampirinya. Sayangnya, gadis tadi lebuh dulu pergi dari sana karena dia tidak nyaman melihat orang banyak.


Hanada segera mengikutinya dari belakang.


"Hey!"

__ADS_1



Gadis itu menoleh ke arah Hanada.


"Kau... Azura?" tanya wanita itu sembari mengingat namanya.


"Ya, betul.. Kau ingat aku?" katanya lemah lembut.


"Tentu," Hanada mengarahkan pandangannya pada pedang kemukus kecil milik Candrasa yang gadis itu pegang.


"Itu.. Milik Candrasa?" Tanya Hanada dengan yakin, tentu saja karena dialah yang memberinya pada pria itu.


"Ehm iya, ini milik Pangeran Candrasa, tadi kami bertemu dan miliknya terjatuh. A-aku belun sempat mengembalikannya, jadi aku ingin meminta bantuanmu" gadis bernama Azura itu menyerahkan pedang kemukus kecil pada Hanada.


"Tentu, aku akan mengembalikannya pada Candrasa" Hanada meraih pedang itu dan tersenyum ke arah gadis tadi.


Azura pun mengangguk, "terimakasih, putri Hanada" ujarnya.


"Hey! Tidak perlu memanggilku begitu, aku seorwng putri diwilayahku, tapi disini aku hanyalah murid biasa." Hanada menyeringai.


"Baik, terimakasih Hanada." Azura melenggang pergi meninggalkan Hanada.


Di lain sisi...


Candrasa masih menyalin beberapa jurus yang keluar dari buku itu, setiap dia membuka lembar maka gambar gerakannya keluar. Gambar dan tulisan yang sudah dia baca akan menghilang dengan sendirinya.


Candrasa memerhatikan secara serius, setiap gerakan yang ada di buku itu.


"Teknik Sena," gumamnya, tidak lama suara langkah kaki terdengar.


Candrasa pun menoleh ke arah wanita dihadapannya, yeah itu adalah Hanada. Wanita itu berjalan menghampiri Candrasa dan meletakan pedang kemukus di meja di hadapan pria itu.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2