![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...PERBUDAKAN WANITA...
...(sumber : google image)...
Suasana di pemukiman warga begitu mengerikan, para wanita masih di kumpulkan dan tak segan juga di siksa habis-habisa. Air yang mengendap-endap untuk menemui warga berusaha tidak ketahuan oleh prajurit manapun.
"Hey!"
Seseorang menegurnya, Air yang membawa beberapa senjata di pakaiannya langsung agak panik. Pria itu, mulai merasa gelagapan.
"Kau disana, sedang apa?"
Tanya salah satu sena kerajaan Brahma itu, Air pun tanpa menoleh langsung menjawab panggilannya.
"Hehe, aku sedang ingin buang air kecil." Katanya, untung saja prajurit itu tidak curiga pada Air.
Dia melanjutkan perjalanannya ke setiap rumah warga.
Tok tok tok
Ketukan pintu dia ulangi berkali-kali sampai seseorang mengintip dari jendela kayu. Air segera mengambil beberapa senjata kecil untuk diberi pada mereka.
"Ini pegang, saat ada aba-aba dari Putri Hanada, kalian harus berani menyerang orang-orang yang ada di sana!" Air mengarahkan pandangannya ke halaman yang kini dipenuhi isak tangis para wanita.
Mereka yang awalnya tidak percaya pada Air, kini mulai yakin bahwa orang di hadapan mereka bukanlah orang jahat. Walau baju itu menutupi siapa dirinya, tapi aura yang terpancar dari Air tidak bisa dibohongi.
Hanya orang-ornag yang berhati suci yang mampu melihat auranya memancar.
~
Ditengah gemuruh ruangan takhta Nahdara, Hanada berjalan tepat di tengah orang-orang yang tidak lain adalah para petinggi Nahdara. Mereka, yang semula meragukan Hanada, harus melihat betapa bersinarnya wanita itu.
__ADS_1
Hanada tertawa kecil melihat Isa menangis bak anak anjing, "pergilah! bawa pasukanmu mundur. Aku tidak ingin menodai tanganku lagi." Hanada menatap tajam ke arah Isa. Pria itu dengan mendelik meninggalkan ruangan itu, yang pemuda itu pikirkan kini hanyalah keselamatan ibunya, Ratu Naira.
Raja Nahda langsung menghampiri putrinya, dia memeluk Hanada dengan erat. Pria bermahkota itu pun mengumumkan hal yang penting untuk mereka semua.
"Prajurit, cepat paksa mundur orang-orang Brahma di bawah sana!" Pinta pria itu.
Semua prajurit di kerahkan untuk memaksa mundur kerajaan Brahma, mereka yang awalnya takut kini mulai berdiri tegak dan berani melawan kekejaman Brahma.
Satu persatu di paksa mundur, belum lagi Air yang sudah merencanakan penyerangannya bersama rakyat Nahdara. Tapi, sepertinya rencana itu akan Hanada urungkan, melihat hasilnya jauh dari perkiraan. Bahkan, Ratu Naira bisa langsung terkapar hanya dengan melihat Candrasa.
Raja Nahda kemudian mengambil pedangnya, Hanada yang ada disana langsung bertekuk lutut.
"Kini, Nahdara sudah memiliki penerusnya. Aku akan menjadikan Nahdara sebagai pewaris takhta ku nanti. Tidak ada lagi perbudakan, tidak ada lagi penolakan, dan tidak ada lagi larangan bagi para wanita untuk menjadi kesatria." Raja Nahda meletakkan pedang bergantian ke pundak kiri dan kanan Hanada bergantian.
Hanada menadahkan kepalanya pada ayahnya, lalu bangun diikuti suara sorak gembira para pelayan dan kasim. Sedangkan para petinggi masih bersikeras ingin merapatkan ini dahulu.
"Terimakasih ayah!" Hanada memeluk ayahnya lagi, kemudian menoleh ke arah Candrasa dengan senang. Pria itu tersenyum bahagia melihat wanita itu akhirnya diterima di kerajaannya sendiri.
"Siapa pria itu nak? Apa dia prajurit Brahma?" Raja Nahda bertanya pada putrinya soal Candrasa. Dengan gugup wanita itu menjawab dengan omong kosong.
"Kalau begitu, mau kah kau menjadi seorang kepala prajurit Nahdara?" Tawaran yang tiba-tiba itu membuat Candrasa membelalak. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Semua orang di sana menunggu jawaban pria itu.
Candrasa langsung bersimpuh, Hanada menunduk melihat hal itu terjadi. Dia merasa bersalah pada sahabatnya.
"Ampuni saya Raja, tapi ada keluarga yang harus saya jaga di sana. Saya tidak bisa menerima itu." Kata Candrasa yang masih berlutut pada Raja Nahda.
"Bangunlah nak! Tidak apa-apa," jawab Raja Nahda.
Di luar istana, Isa dan prajuritnya mendengar suara sorak gembira dari atas sana. Dia mendengus kesal dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini, tidak akan menjadi yang akhir bagi mereka.
Dia akan membalasnya lagi, suatu saat nanti. Isa dan prajuritnya membawa Ratu Naira melewati perkumpulan para wanita, Raja Brahma yang kebingungan melihat hal itu langsung bertanya pada Isa.
"Apa ada Sesuatu yang terjadi?" Tanya Raja Brahma kelimpungan.
__ADS_1
"Ibu terkapar lemas, kita harus segera pulang dan mengobatinya. perintahkanlah semua prajurit kita untuk mundur! Kita tidak bisa melawannya lagi untuk sekarang. Tapi aku berjanji, ini bukan akhir dari pertarungan kita." Isa mengikat janji itu menggunakan ucapannya.
Raja Brahma pun mengikuti saran dari anaknya, Isa.
"Prajurit kita kembali ke Brahma!" katanya dengan tegas.
Air yang melihat hal itu pun hanya bisa tertegun kebingungan, Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana? dia bahkan sudah membagikan senjata ke sebagian rakyat Nahdara, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengambil senjata itu lagi atau dibiarkan begitu saja?
"Hei kau! Ayo pulang ke Brahma!" salah seorang Sena yang melewati air membuyarkan lamunannya, pria itu diminta untuk ikut ke Brahma. Pemuda itupun hanya mengangguk tapi dia tidak benar-benar ikut ke sana.
Air berjalan untuk masuk ke istana Nahdara, tapi Seorang Prajurit Nahdara tiba-tiba saja malah menangkapnya. Mereka kira Air adalah seorang Sena dari Brahma karena pakaiannya. Sial sekali, Air kini di bawa ke ruang bawah tanah tempat di mana para kriminal ditahan di sana.
Apalagi dia membawa sejumlah senjata dari gudang senjata Nahdara, salah seorang prajurit pun melaporkan hal itu pada raja Nahda yang masih ada di singgasananya. Beberapa pelayan dan Kasim berangsur merapikan kursi yang sudah berjejer di sana untuk pemberkatan Hanada dan Isa.
Hanada dan Candrasa yang masih berada di sana terkejut mendengar laporan dari salah satu Sena , "Yang Mulia kami menangkap salah Seorang Prajurit Brahma yang mencuri senjata dari gudang kita."
Raja itu langsung terkejut, dia berdiri dengan mata yang membelalak. "Dimana pria itu sekarang?" tanya raja Nahda yanh langsung bergegas menemui orang itu yang tak lain adalah Air.
Candrasa dan Hanada saling bertukar tatap, mereka tahu bahwa yang tertangkap adalah Air. Jadi kini mereka merasa khawatir pada sahabatnya itu.
Sekarang keduanya mengikuti Raja Nahda berjalan dari belakang, mereka harus segera melepaskan Air dari sana sebelum hukuman di tetapkan padanya.
Tapi apa yang harus mereka katakan pada Raja Nahda? Sambil berjalan mereka mencari cara untuk mengeluarkan Air dari sana. Raja Nahda menemui Air yang kini berada di balik jeruji itu.
Dia sedang duduk sambil menelungkup, semua senjata yang menjadi bukti sudah dikumpulkan oleh panglima perang. Sedangkan prajurit lain sedang sibuk membawa beberapa korban dari pertarungan ini keluar, rencananya mereka akan di kremasi secara masal.
"Beraninya kau mencuri senjata dari Nahdara! Hukuman apa yang pantas untuk seorang pencuri sepertimu? Hukuman mati?" tanya Raja Nahda pada Air.
Pria itu tetap tidak bergeming sedikit pun, Hanada dan Candrasa yang baru muncul di belakang Raja pun terkejut melihat Air di sana.
" Ayah ku mohon lepaskan dia!" kata Hanada.
...****************...
__ADS_1
...****************...