![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Candrasa masih didalam Akademi Sihir Maharaja, dia memperhatikan setiap gerakkan yang dibuat oleh anak-anak.
Anak-anak ini adalah anak yang sudah dibuka aliran energinya. Sehingga mereka akan dengan mudah mempelajari setiap ilmu bela diri dan sihir.
Ada 20 orang anak yang dibukakan pintu energinya sekitar 6 tahun lalu, oleh Guru-guru yang ada di Akademi. Tapi, hanya 18 anak yang bisa dengan sempurna terbuka pintu energinya.
Dua orang lagi di tolak masuk Akasemi, demi menghindari anak itu mempelajari ilmu sihir hitam. Guru di Akademi sepakat untuk menutup pintu energinya.
Hal ini juga pernah terjadi pada adik Raja Jira II, Pangeran Mara. Terpaksa pintu energinya harus ditutup, karena tidak bisa terbuka dengan sempurna.
Energi yang tidak sempurna, dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat jelas. Jika Energi yang tidak sempurna dibiarkan terbuka, pemilik energi itu bisa dikuasai oleh ilmu sihir jahat yang dapat memanfaatkan jiwanya yang lemah.
Energi putih yang ada pada Candrasa kini mengalir lebih cepat dan menyeluruh ke anggota tubuhnya. Dia merasakan sebuah energi besar berputar dibagian perutnya.
Setiap penyihir, mempunyai teknik nafas yang berbeda sesuai tingkatan ilmu yang mereka miliki. Candrasa kini sudah mencapai ikmu tingkat tinggi Weda. Teknik pernafasan yang dia gunakan adalah tiga tarikan nafas.
Kini, Candrasa mulai melatih pernafasan pada anak-anak, sampai Guru Wija kembali, baru dia akan menyelesaikan pelatihannya hari ini. Tapi sudah setengah hari, Guru Wija belum datang juga.
Candrasa yang ditemani Guru Tera mulai gelisah, dia ingin segera menemui Hanada di Nahdara. Tapi, apakah Candrasa akan diizinkan masuk kesana? Entahlah, dia akan mencobanya dahulu.
"Pejamkan mata kalian, rasakan energi yang ada ditubuh mengalir kesetiap anggota tubuh kalian!" Kata Candrasa sambil berjalan ke tengah anak-anak.
Guru Tera tersenyum dengan bangga pada Candrasa, akhirnya calon guru baru sudah terlihat. Candrasa menoleh ke arah pintu masuk, Dilihatnya. Air dan Guru Wija datang menemui dirinya dan Guru Tera.
Guru Wija menyeringai ke arah Candrasa, begitupun dengan Air yang tersenyum mengarah padanya. Candrasa melihat kondisi Air yang sepertinya sudah membaik.
"Kau sudah membaik?" Tanya Candrasa, memastikan.
"Sudah, Guru Wija menggunakan energinya untuk menyembuhkanku." Kata Air sambil tersenyum ke arah Guru Wija.
"Terimakasih Guru," Candrasa memberi hormat pada gurunya.
Guru Wija mengangguk, lalu melihat ke arah anak-anak yang sedang memejamkan mata dan mengatur pernafasan mereka.
"Wah, mereka sudah di tahap pengaturan pernafasan rupanya." Kata Guru Wija sambil tertawa kecil.
Candrasa mengangguk, "Guru, apakah aku boleh pergi sekarang?" Air yang kebingungan menatap Candrasa sambil mengernyitkan dahi.
"Pergi kemana?" Tanya Air, Candrasa menoleh ke arahnya lalu menjawab, "Ke Nahdara."
Air membelalak, dia menggenggam erat pedang yang dia bawa.
__ADS_1
Apa Candrasa senekat itu untuk menemui Hanada?
Air membatin, dia melihat Candrasa yang sedang menunggu jawaban dari Guru Wija.
"Selesaikan dulu, pelatihan pernafasan hari ini!" Kata Guru Wija kepada Candrasa.
Candrasa mendengus pelan, baiklah dia akan menuruti permintaan gurunya itu. Candrasa mengajarkan ilmu dasar pernafasan sampai matahari sejajar dengan pandangannya, banyak anak yang sudah paham tentang teknik pernafasan, hanya saja masih sulit untuk mempraktekannya. Beberapa anak yang belum paham akan diajarkan langsung esok hari, oleh Guru Wija langsung.
Setelah pelatihan selesai, Candrasa menyempatkan diri untuk mandi di asrama putra. Dia dan Air berjalan ke arah Kamar mandi. Mereka akan mandi dipemandian umum asrama.
*
*
Di KERAJAAN NAHDARA,
Hanada sedang menatap pemandangan luar di jendelanya. Waniat itu menghela nafas panjang. Dia lega, karena sudah berani menolak hal yang tidak dia sukai.
Hanada, hanya berharap Isa tidak membenci dirinya. Karena bagaimanapun Hanada menyayangi seperti seorang saudara.
Tapi, disisi lain. Kerajaan Brahma ternyata sudah mempersiapkan pasukan dan senjata untuk menyerang Nahdara. Mereka akan merebut takhta dengan paksa.
"Apa itu nek?" Tanya Hanada, dia berdiri lalu mendekat ke arah neneknya.
"Bukalah!" Pinta neneknya, Hanada pun segera menaruh kotak itu di atas tempat tidur lalu membukanya.
Dilihatnya, sebuah setelan pakaian berwarna merah maroon, ditambah rompi luaran yang terbuat dari kulit binatang.
"Bukankah, ini cocok untuk sepatumu?" Tanya neneknya yang kini menatap ke arah sepatu yang ada didekat tempat tidur Hanada.
"Ini untukku nek?" Sorot mata Hanada yang berbinar menandakan kegembiraan tersirat didalamnya. Hanada mengambil setelan pakaian itu. Dia melekatkan itu ditubuh bagian depannya lalu berjalan ke arah cermin besar dikamar.
Neneknya mengangguk pelan, "Sangat cocok untukmu, sekarang ambil busur mu dan satukan pakaian itu dengan sepatunya!" .
Hanada agak terkejut saat mendengar neneknya berkata seperti itu, dia tidak mengerti kenapa nenek menyuruhnya mengumpulkannya dalam satu box besar.
"Baiklah nek, terimakasih." Hanada memeluk neneknya erat.
Hari sudah mulai sore, matahari sudah berada di garis lurus pandangan diarah barat. Tak lama lagi, matahari itu pasti akan terbenam.
Pasukan Kerajaan Brahma sudah mulai berjalan ke arah Nahdara, rencananya mereka akan menyerang saat hari mulai gelap.
__ADS_1
Hanada, memasukan semua perlengkapan nya kedalam satu kotak besar dan dia taruh ke bawah tempat tidur. Hanada memeluk neneknya sebelum nenek itu pergi dari kamar.
Hanada merebahkan tubuhnya dikasur besar miliknya, sambil melihat gorden yang merumbai ditiang-tiang ranjangnya Hanada mendengus. Dia mengingat Candrasa dan Air.
Apakah Candrasa sudah sadar?
Hanada membatin, dia takut jika sampai sekarang Candrasa belum juga sadar dari kondisi vegetatifnya. Hanada pun memejamkan matanya.
~
Hanada terbangun saat dia mendengar suara bising dari luar kamar, dia mengucek matanya lalu duduk di tepian ranjang.
"CEPAT KE KAMAR TUAN PUTRI !!!!"
Teriakan keras terdengar oleh Hanada, matanya langsung membelalak. Hanada mencoba mengintip ke luar kamar. Hari, sudah semakin gelap tapi kenapa banyak suara orang di Istana.
Hanada berjalan perlahan ke arah pintu, saat hampir berhasil membuka pintu, seseorang mendobrak masuk kedalam kamar. Hanada langsung mundur dan bersembunyi di belakang pintu yang terbuka.
Nafasnya menggebu, jantungnya berdegup kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Pikirnya.
"Tuan Putri tidak ada dikamar!" Pekik seorang pria berbadan besar dan tinggi. Kepalanya seperti ditumbuhi tanduk kecil. Hanada terheran melihtnya. Dia memang sering kali mendengar tentang mahkluk aneh yang dulu diceritakan Isa. Tapi, dia tidak menyangka memang benar adanya.
Mahkluk apa itu?
Hanada membatin, dia menutup mulutnya untuk menghindari adanya suara yang keluar. Hanada merasa lega saat pria besar itu keluar dari kamarnya.
Hanada dengan mengendap-endap mencoba menutup pintu secara perlahan. Dia dengan cepat mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang diberikan neneknya tadi.
Tak lupa mengenakan sepatu dan membawa busur dan panahnya. Nafasnya memburu, dia harus segera keluar dari sana dan mencari tahu apa yang terjadi.
Hanada langsung berlari ke arah batasan kayu yang bermotif di dekat dinding kamarnya. Sebenarnya dibalik batasan itu ada jalan rahasia menuju ke singgasana ayahnya dan juga ke gorong-gorong keluar istana. Dari sana dia tidak akan terlihat.
Hanada membelalak saat pria yang dia kenal masuk ke kamar, itu Isa !! Dia dan pria besar tadi mengobrak-abrik kamar Hanada.
Hanada tetap dibalik batasan kayu itu,
"Hanada kabur, cepat cari dia disekeliling Istana. Aku yakin, dia belum jauh!" Pinta Isa pada pria tadi.
...****************...
...****************...
__ADS_1