![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...RUANG MAKAN NAHDARA...
Ruangan bernuansa emas dan merah itu terlihat mewah dilihat dari sudut manapun, potret Raja terdahulu terpampang nyata di dinding-dinding ruang jamuan. Segala peralatan makan yang terbuat dari emas murni menambah kemewahan setiap sudut Nahdara.
Rupanya, hanya ada satu potret yang tidak ada disana. Yaitu, potret Raja yang terkutuk karena keserakahannya yang menyebabkan penderitaan pada rakyat mereka. Raja itu adalah kakek dari Candrasa, yang kini berubah wujud menjadi iblis bayangan.
Kutukan itu hanya akan terpatahkan apabila keturunannya berhasil menghancurkan aliran ilmu hitam yang ada pada pedang yang di sebut kemukus. Tapi, dimana kemukus itu berada sekarang?
Perbincangan yang tiada hentinya itu masih terus berdendang satu sama lain, ketiga orang lain menunggu jawaban sang penguasa. Menunggu tentang awal mula kisah pedang terkutuk itu.
"Kau adalah Putra Mahkota Amarata. Aku tidak seharusnya memberikan informasi apapun padamu. Tapi, karena kau putra kesayangan ibumu, kurasa kau pantas tahu." ujar Raja Nahda.
Hanada menatap Candrasa dengan sumringah, begitupun dengan Air. Mereka menunggu kisah selanjutnya, kisah awal pedang kemukus dan sang pemilik menjadi mitos kutukan paling menyeramkan.
~ ~ ~ ~
...KILAS BALIK KUTUKAN...
Hilir angin berhembus dengan sejuk, suasana purnawata kian terasa damai. Saat itu, semuanya terlihat begitu mudah tergapai oleh kerajaan itu dengan bantuan pedang pusaka bernama kemukus yang dimiliki oleh Raja Wira.
Dia adalah salah satu raja yang terkenal akan pusakanya, pedang itu di buat oleh empu berilmu tinggi dari Brahma. Bahkan pedang permintaan itu di aliri ilmu sihir putih dan hitam sesuai permintaan Sang Raja.
Pada jaman itu, terkenal pula makhluk keji bernama Imoogi, rumor itu beredar sampai ke Purnawata. Banyak penduduk sana yang berilmu di Upuk Timur. Di tempat jelmaan makhluk itu berasal, akibatnya tatanan kerajaan menjadi tidak kondusif.
Bahkan makhluk itu membuat kekacauan dimana-mana, makhluk itu menginginkan dunia baru yang di isi oleh para pengikutnya. Dia tidak segan membunuh orang-orang hanya dengan satu ucapan "aku ingin mati" dan mereka semua akan saling membunuh atau bahkan bunuh diri.
Jelmaan makhluk itu bahkan bisa menimbulkan wabah yang mengerikan.
Karena rasa penasarannya yang tinggi, Raja Wira menemui makhluk jelmaan itu di Upuk Timur. Dia memberanikan diri untuk menghabisi nyawa makhluk kejam itu sendirian. Dengan bantuan kekuatan kemukus dia yakin bisa mengalahkan makhluk itu.
Benar dugaannya, kekuatan Imoogi tidak bisa menembus jiwa dan pikirannya. Pria itu mampu bertahan dari setiap serangan makhluk keji itu. Kemungkinan besar itu karena kemukus, dua ilmu sihir yang menyatu juga jiwa Wira yang kuat membuat kekuatannya semakin di luar batas.
__ADS_1
Pantas saja dia menjadi seseorang yang terkuat pada zamannya. Pada akhirnya, Imoogi berhasil dibunuh oleh nya dengan menancapkan pedang itu pada dada jelmaan makhluk itu.
Tapi, sesaat sebelum menemui ajalnya ucapan si pahit lidah itu mempengaruhi Wira.
"Kau dan pedangmu akan menjadi makhluk yang paling mengerikan melebihiku dan semua orang akan membencimu melebihi mereka membenciku. Kau akan menimbulkan kekacauan di negeri mu sendiri, Wira. Kutukan ini akan berlanjut pada setiap keturunanmu! Hahahaha"
Begitulah, singkat cerita awal terkutuknya pedang kemukus dan sang pemilik. Awalnya ... Wira tidak percaya akan hal itu, tapi setiap harinya dia selalu merasa tidak puas atas apa yang telah dia capai, dia semakin ingin memperluas kerajaannya dengan merebut paksa wilayah orang lain. Tentu saja, dengan peperangan.
Sampai, si empu pembuat pedang pusaka itu terbunuh di medan perang saat Purnawata berperang melawan Amarata. Hanya saja, tidak ada penyesalan dalam diri Wira.
Sampai pada akhirnya, dia mengacaukan negerinya sendiri, dia membiarkan rakyatnya hidup menderita. Bahkan banyak hal yang tertatasi. Pria itu berubah wujud sesaat setelah melewati Hutan Terlarang dan berdiam di Laut Utara bersama beberapa prajurit dan juga dayangnya.
Saat itulah dia terjebak disana, bahkan putri sematawayangnya Dara, pergi meninggalkannya saat kekacauan mulai terjadi, gadis itu di asuh oleh dayang dan dibawa ke tempat terpencil agar terhindar dari ayahnya.
Dara kembali saat setelah 7 tahun kepergian ayahnya yang tidak dia ketahui, rumor terus beredar tentang kutukan itu, semua orang menghina Raja yang pernah berjaya pada masanya. Semua orang membenci Wira.
...KILAS BALIK SELESAI...
~
Ketiga orang itu tertegun mendengar penjelasan Raja Nahda, Candrasa melirik Air dan juga Hanada.
"Sudah jelas wabah itu bukan dikirim oleh Nahdara," kata Candrasa .
"Tentu saja! Kami tidak pernah mempelajari ilmu hitam!" Seru Hanada sambil mengerutkan dahi.
Raja Nahda tertawa kecil, "Peperangan bersama Amarata sudah ada sejak dahulu, kami tidak bisa menyangkal tuduhan kalian."
"Maafkan aku," ujar Candrasa sambil menunduk.
Sorotan penyesalan ada pads pria itu, tapi dia juga tidak bisa serta merta memberitahu ayahnya tanpa bukti. Satu-satunya bukti untuk mengetahui dibalik wabah itu adalah dengan mencari kemukus.
"Apa Yang Mulia percaya tentang keberadaan Imoogi?" Air menunggu jawaban Raja Nahda.
__ADS_1
Pria bermahkota itu memgangguk pelan, "rumornya, dia sudah dibangkitkan lagi setelah kematiannya."
Candrasa membelalak, jika itu benar adanya berarti usaha kakeknya sia-sia. Makhluk itu masih bereinkarnasi dan hidup kembali, betapa mengerikannya.
"Aku akan mencari pedang itu di Timur," tutur Candrasa. Tapi Raja Nahda langsung menggeleng, dia tidak setuju dengan keputusan yang terkesan tiba-tiba itu.
"Pikirkan dengan matang, kau harus berlatih dulu dengan lebih giat. Usahakan kau sudah menguasai ke empat elemen dan juga menyempurnakan ilmu sihirmu." usul Raja Nahda, dia menatap Candrasa seakan dia berbicara pada Dara, sepupunya.
Wajah pria itu cukup mirip dengan sang ibu, sehingga membuatnya merasa iba dengan perjuangannya.
"Hanada, aku akan memintamu kembali bergabung ke akademi sihir. Maafkan ayah, ayahlah yang meminta guru Manta mengeluarkanmu." Raja Nahda menunduk penuh penyesalan.
"Sebagai pewaris Nahdara, carilah ilmu sejauh mungkin. Jadilah kesatria wanita terhebat dan bantulah sahabatmu berlatih, tunjukan pada mereka bahwa kita bukan penyebab wabah itu muncul." Raja Nahda tersenyum ke arah putrinya.
Hanada menatap ayahnya kegirangan, "benarkah ayah?"
Raja Nahda mengangguk sambil menyeringai. Candrasa dan Air pun sangat terlihat senang, setelah ini mereka semua akan berlatih dan fokus memperdalam ilmu yang mereka miliki.
"Terimakasih Yang Mulia," ucap Candrasa.
Raja Nahda mengangguk.
Setelah jamuan selesai, mereka semua berkumpul di halaman istana Nahdara, Hanada dengan kegirangan berbicara di depan kedua sahabatnya.
"Aku akan kembali!!!" ujar Hanada sambil menepuk tangannya sendiri.
Candrasa tertawa kecil, " Selamat datang kembali di akademi sihir nanti, kau masih berhutang penjelasan padaku. Kenapa kau berbohong soal identitasmu?" pria itu menaikan sudut alisnya.
"Tantu saja karena aku tidak ingin di tolak dari akademi!" sahut Hanada.
"Ahh, taktikmu sungguh tidak dapat terelakan." celetuk Air sambil tertawa. Mereka semua saling bertukar canda tawa seperti biasa, hal yang sangat mereka rindukan.
...****************...
__ADS_1
...****************...