![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...REMBULAN...
Sinar terang bulan menyorot ke halaman akademi sihir, setelah mengantar Juna ke Jaroga, Candrasa menyempatkan diri duduk di kursi dekat pohon disana. Dia mengamati cahaya bulan yang kian menerangi pupil matanya.
Apa aku akan berhasil?
Kapan aku menemukan pedang itu?
Janji pada rakyatku harus segera ku tepati.
Masih banyak kah waktu yang ku miliki?
Siapakah orang dibalik ini semua?
Candrasa membatin, dia berdiam diri dulu disana untuk beberapa waktu, biasanya Hanada lah yang sering menemaninya duduk disana. Tapi, karena Hanada belum kembali, pria itu kini duduk sendiri merenungi hal apa yang akan terjadi kedepannya.
......................
...KEDIAMAN PANGLIMA PERANG DOHA...
Pria itu melenggang masuk ke rumah panggung luas yang dia miliki, halaman disekitarnya di tumbuhi bebungaan yang sangat cantik dan menawan. Itu berkat istrinya yang pandai merawat rumah.
__ADS_1
Suara langkah kakinya terdengar, karena hari sudah larut istrinya pun tidak terlihat lagi, rupanya wanita itu sudah terlelap tidur di kamar mereka. Doha melangkahkan kakinya dengan perlahan, dia berjalan sampai ke ujung lorong yang ada di rumahnya.
Disana dia melihat ruangan yang selalu tertutup rapat itu, kemudian Ia pun mengalirkan energi ke tangannya dan meletakan telapak tangannya di pintu tadi. Tidak lama, pintu itu pun terbuka. Terpampang nyata, sebuah benda pusaka yang terkurung di dalam kotak kaca yang dimilikinya, pedang itu persis seperti pedang yang dimiliki Candrasa.
Dia mendekat ke arah kotak itu, tidak ada kunci maupun celah untuk mengambil pedang di dalamnya. Dengan mudah, pria itu memasukan tangannya seolah kaca itu adalah benda cair, dia menarik pedang tadi dengan cepat.
"Kemukus, terimakasih. Sebentar lagi tujuanku tercapai. Ayah, akan aku pastikan kerajaan mereka hancur!" Seru pria itu sambil tertawa kecil.
"Suamiku..." Doha mengerjap saat mendengar suara istrinya dari luar ruangan, dia pun segera mengembalikan pedang itu dan keluar dari sana secepat mungkin.
Pintu itu kembali menutup dengan sendirinya, sedangkan Doha langsung bergegas menemui istrinya disana. "Ya, istriku" dia berjalan menghampiri istrinya yang cantik jelita itu, wanita itu bernama Naina.
"Kau belum tidur?" Doha menghampiri istrinya sambil menyelipkan rambut panjang itu ke belakang telinganya.
"Aku sudah tertidur, tapi ... Saat mendengar suara langkah kakimu, aku jadi terbangung. Ternyata benar, suamiku telah pulang." Naina mengusap lembut pipi Doha, di balas dengan dekapan hangat ke pinggangnya.
Doha pun mengecupnya lagi dan lagi, sampai hasratnya tak lagi bisa di bendung. Pria itu membuka ikatan tali di pakaian tidur istrinya dengan lembut, dia mencumbu leher itu sampai ke tengkuk dan bahu. Perlahan Doha membuka pakaian istrinya tapi dengan sigap wanita itu menahan tangan Doha.
"Suamiku, aku takut jika ada pelayan yang melihat kita. Mari kita ke kamar," istrinya mendahului Doha pergi ke kamar.
Dia pun setuju sambil menyeringai, tapi dari sana dia kembali menatap ruangan berisikan pedang kemukus sebelum berjalan ke kamarnya.
Doha membuka pintu secara perlahan, dilihatnya sang istri sudah membuka pakaian luarnya dan terbaring di tempat tidur mereka. Doha dengan tatapan penuh hasrat menghampiri wanita itu, dia langsung berbaring di sampingnya dan mengecup lagi bibir yang terasa sangat manis tadi.
__ADS_1
Jari jemari Naina melenggang bebas ke sela rambut Doha, pria itu kini mengarahkan tangannya sampai ke bagian bawah belakang tubuh Naina.
Wanita itu sendiri mulai membuka ikatan pakaian suaminya. Doha pun mengikuti isyarat dari Naina. Dia membuka pakaiannya dan langsung menunjukan dada bidangnya. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda. Tapi tubuhnya sangat berbeda jauh dari usianya. Doha masih terlihat segar dan berkarismatik.
Doha menjalarkan cumbuannya ke tengkuk leher wanita itu dan berhasil membuatnya mengerang perlahan.
"Kau selalu menyukai hal itu," Doha menyeringai ke arah Naina.
Mereka pun melanjutkan kegiatannya dengan bersemangat dan penuh gairah. Rasanya ruangan itu kini dipenuhi hawa panas juga gemaan suara yang dibuat oleh Naina dan juga Doha.
Cucuran keringat kian membasahi tubuh mereka, perasaan rindu itu kini telah terlepas dari keduanya.
Nafas Naina berderu, dia mencoba menghirup udara dalam-dalam. Sedangkan Doha sedang menyandarkan kepalanya di dada Naina. Pria itu terengah-engah pelan, tapi makin lama semakin tenang. Dia merasakan kantuk dari matanya.
Doha pun terlelap di dada Naina, wanita itu menunduk melihat suaminya yang sudah terlelap di dadanya. Dia menghela nafas pelan, "Kau kelelahan rupanya" Naina mengelus lembut pucuk rambut Doha.
Dia mencoba untuk melepaskan diri dari pria itu secara perlahan, akhirnya diapun berhasil keluar dari jeratan hangat suaminya. Naina segera meraih pakaian yang ada di lantai dan memakainya lagi, wanita itu berjalan dari kamar.
Tuk tuk tuk
Ternyata, dia sedang menuju ruangan yang selama ini tidak pernah dia lihat dalamnya itu, dia berdiri disana memaku diri sembari menatap pintu itu dari atas ke bawah.
__ADS_1
...****************...
...****************...