![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...PENJARA BAWAH TANAH...
Alas tanah yang dingin, menembus sampai ke kaki Air. Sandalnya bahkan di lucuti oleh para prajurit Nahdara. Dia berkali-kali melontarkan umpatan kasar di batinnya.
Sayang sekali, bukti kuat ada pada pemuda itu. Ini semua karena rencana gagal tadi, dia jadi dituduh mencuri senjata Nahdara. Padahal semua itu adalah akal Hanada.
Hanada yang terpaku melihat Air dibalik jeruji jadi merasa bersalah, hatinya gelisah tak tentu arah. Apalagi karibnya, Candrasa. Pria itu nampak pucat saat melihat Air duduk disana.
Saat dirinya di tawarkan menjadi kepala prajurit, sahabatnya itu malah dituduh sebagai pencatut. Hanada menoleh ke arah Candrasa, dia mengernyitkan dahi mencari ide agar sahabatnya itu keluar dari sana.
"Ayah, kumohon lepaskan dia!" pinta Hanada pads pria tua bermahkota di depannya.
Sang penguasa Nahdara pun menoleh kebingungan, dia heran kenapa putrinya memohon untuk melepaskan pencuri dari penjara.
"Apa maksudmu? Dia jelas-jelas mencuri. Kenapa kau meminta ayah melepaskannya!" Raja itu pun mengernyitkan dahinya kebingungan.
"Ayah kumohon, dia sahabatku!" kata Hanada memperjelas.
"Pencuri ini sahabatmu? Aneh," Raja Nahda menggeleng.
"Dia bukan pencuri ayah, dia Air Mahendra anak panglima perang Doha!" seru Hanada pada ayahnya.
Raja Nahda menoleh ke arah Air, pria itu memang tidak terlihat seperti prajurit Brahma. Pria tua itu pun menoleh ke arah Candrasa. Apalagi melihat pria muda itu, dia tidak mungkin seorang sena.
"Apa dia juga bukan?" Raja Nahds menunjuk Candrasa, Hanada dengan menunduk malu mengatakannya dengan jujur.
"Bukan ayah, dia adalah.... Pangeran dari Amarata, mereka semua sahabatku." Mendengar pernyataan itu Raja Nahda membelalak.
"Untuk apa kau membantu kami?" Raja Nahda kebingungan.
"Awalnya aku memang ingin menemui Hanada Yang Mulia, tapi setelah tahu kerajaan kalian sedang di serang tekad kami semakin bulat untuk memeriksa keadaan disini." Candrasa menjabarkan dengan lugas.
Raja Nahda masih menyimak dengan raut keheranan, dia pikir, jika benar adanya seperti yang dijelaskan pria itu.
"Aku yakin ayahmu tidak mengetahui hal ini," Kata Raja Nahda.
Candrasa menggeleng, Raja itupun meminta prajurit mengeluarkan Air dari sana. Dengan cepat Air pun berjalan membungkuk keluar dari penjara dingin itu.
Hari sudah sangat larut, keduanya diminta untuk menginap di Nahdara, tak lupa mereka di antarkan makanan berat untuk disantap sebelum tidur. Apalagi, setelah bergelutan panjang yang melelahkanm sedangkan ada bagian-bagian ruangan terentu yang belum boleh di datangi karena sedang perbaikan dan pembersihan.
__ADS_1
Untuk sementara, mereka tinggal di menara ke-2 Nahdara, selama Istana utama di perbaiki.
"Sial sekali," Kata Air sambil berjalan beriringan dengan Candrasa.
"Maaf kan kami," kata Candrasa pelan.
"Hufttt, bagaimana kejadian tadi? Kenapa mereka bisa mundur secara tiba-tiba?" Air penasaran dengan apa yang terjadi di dalam istana.
"Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku merasa tidak melakukan apa-apa." Candrasa berpikir dan keheranan, dia tidak ingat satu hal pun yang dia lakukan.
Air mengernyitkan dahi, dia menatap Candrasa yang kini memiliki tanda hitam di lehernya. Tanda itu berbentuk petir.
"Kyaaa! Sejak kapan kau menyulam lehermu seperti itu?" Air menunjuk tepat ke leher pria itu.
"Apa maksudmu?" Pria dingin itu pun kebingungan mencerna apa yang dimaksud sahabatnya.
"Silahkan tuan muda," Kata dayang yang menunggu mereka di pintu kamar, dayang itupun membukakan pintu untuk Candrasa dan Air.
Mereka beristirahat disana, untunglah ada cermin besar di kamar itu, jadi Candrasa bisa memeriksa apa yang dimaksud pemuda itu.
"Kau tidak ingat? Mungkin itu gangguan sihir dari salah seorang prajurit Brahma?" Air masih mengernyitkan dahinya.
"Air, aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi padaku! Aku tidak tahu dari mana sulaman ini berasal." Candrasa tertegun memikirkan hal itu.
Setelah hal itu mereka perdebatkan, datanglah Hanada bersama pelayan membawakan makanan untuk mereka.
Tok tok tok
Suara ketukam terdengar nyaring di balik pintu, Air pun membukakan pintunya. Sedangkan Candrasa masih kebingungan dengan tanda di lehernya.
Hanada masuk ke dalam kamar itu diikuti para pelayannya yang hanya menyimpan makanan lalu keluar lagi. Hanada mendekat ke arah sahabatnya.
"Aku sangat berterimakasih banyak untuk kalian, aku minta maaf pads Air atas kejadian yang tidak menyenangkan tadi." Hanada tersenyum tipis ke arah pria di samping kirinya.
Kemudian dia menatap Candrasa yang melamun di atas tempat tidur.
"Dan, untuk Candrasa terimakasih telah membantuku mengalahkan penyihir jahat itu." Ujarnya sambil tersenyum.
Candrasa menatap Hanada datar, pria itu lalu mencoba bertanya pada Hanada soal tanda itu.
__ADS_1
"Hanada, lihatlah!" Candrasa membuka sedikit kerah yang menutupi lehernya, dengan membelalak Hanada mendekat sambil menutup mulutnya yang agak terbuka.
"Apa itu? Sejak kapan ada disana?" Hanada sama kebingungannya dengan mereka.
Candrasa menggeleng, ternyata tak ada satupun dari mereka yang tahu soal tanda itu.
"Tunggu, apa itu efek dari sihir hitam Ratu Naira?" Hanada mencoba menebak dengan asal.
"Kami tidak tahu," Air berjalan mendekat.
"Sekarang kalian makan, kita harus mencari tahu nya besok." Kata Hanada, wanita itu menunduk lalu izin pergi dari sana.
Dia meninggalkan Air dan Candrasa disana, ternyata wanita itu pergi ke Istana utama untuk masuk ke kamar Ratu Naira dsn mencari tahu apapun soal tanda itu.
Hanada melewati orang yang lalu lalang membersihkan kekacauan yang ada, "Hati-hati tuan putri" ucap salah satu dayang nya.
Hanada terus melanjutkan perjalanannya sampai ke kamar Ratu Naira. Di sana dia melihat nakas di samping tempat tidur. Wanita itu langsung membukanya dan mencari apapun yang bisa dijadikan petunjuk.
Tapi dia tidak menemukan apapun disana, sampai dia mencari kebawah tempat tidur dan merabanya. Dan...
Srek
Seperti ada benda tebal dibawah sana, Hanada langsung meraih dsn melihat isi benda itu, ternyata itu adalah buku besar bertuliskan "Simbol Ilmu Hitam" Hanada membacanya pelan.
Wanita itu bergidik melihat buku hitam tebal berakar itu, dia membukanya secara perlahan, banyak simbol yang merujuk pada kekuatan gelap.
Simbol itu menunjukan kekuatan, di carinya simbol yang sama dengan yang dimiliki Candrasa. Betapa terkejutnya wanita itu, saat menemukannya dan melihat arti simbol yang ada.
"Artinya jiwamu sudah bercampur dengan roh kegelapan." Hanada membelalak. Dia bahkan langsung menutup buku itu dan membawanya keluar dari sana.
Hanada, merasa harus memberitahu Candrasa sekarang tapi tidak elok jika seorang Putri masuk ke kamar pria itu lagi di tengah malam seperti itu. Jadi, dia memutuskan untuk datang esok hari.
Dia menyimpan buku itu dibalik bantalnya.
"Apa maksud arti simbol itu, jiwamu bercampur dengan roh kegelapan? Apa maksudnya?" Malam itu pikiran Hanada di penuhi tanda tanya.
Bagimanapun, dia sangat khawatir terhadap Putra Mahkota Amarata itu.
...****************...
...****************...
__ADS_1