![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Setelah percakapan guru Tera dan guru Wija, akhirnya pihak akademi mengutus beberapa murid untuk menangani masalah yang dikeluhkan oleh mereka. Tidak lupa, mereka meminta izin dari istana untuk menyetujui misi para murid.
Diantaranya yang harus ikut adalah, Juna, Air, Candrasa, Ingga. Sedangkan pada perempuan, ada Hanada, Azura, Ivana, ketiga wanita itu punya dasar ilmu alkemi. Sehingga akan memudahkan yang lain jika ada yang terluka. Mereka semua berkumpul di depan bangunan utama akademi.
Menunggu guru Wija dan Tera datang, Azura sesekali mencuri pandang pada Candrasa. Wanita itu menyeringai setelah menatap ke arahnya. Hanada yang menyadari tatapan Azura, mengikuti arah pandangan wanita itu. Dia menyadari bahwa Azura tertarik pada Candrasa, kemudian dia terfokus lagi ke depan saat guru Tera datang dengan pedangnya.
"Sudah bawa senjata kalian?" tanya gurunya itu.
"Sudah, guru!" kata semua orang.
"Baiklah, semoga berhasil!" katanya lalu meninggalkan mereka pergi.
"Dia akan membiarkan kita melawan monster itu sendiri?" Hanada mengerutkan dahi lalu menoleh ke arah dua sahabatnya yang ada di sebelah.
Air hanya menyeringai, dia menatap Hanada dengan menahan tawanya. Candrasa menyeringai kecil, terlihat Azura lagi-lagi menatap pria itu. Kemudian mereka berangkat bersama dengan menunggangi kuda masing-masing. Azura mengenakan topeng setengah wajah berbentuk kucing. Hanada menoleh ke arah wanita itu dengan kebingungan.
"Kenapa memakai itu?" tanya wanita itu penasaran.
Azura terlihat ragu menjawab pertanyaan Hanada, "tidak apa jika tidak mau menjawab." Hanada sembari menunggangi kudanya, dia mengeratkan pegangannya pada tali kendali kuda.
"Disana daerah asalku, jadi aku merasa harus menutupi identitasku," Azura tersenyum canggung ke arah Hanada, wanita itupun tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Kemudian para laki-laki sudah siap mendahului, para perempuan pun mengikuti kuda mereka dibelakang.
...(Sumber : pinterest "gambaran Azura saat itu")...
Perjalanan mereka tidak terlalu jauh, karena akademi sendiri ada di sebelah timur dekat dengan perbatasan Kerajaan Brahma dan sungai ara yang membentang membatasi wilayah Amarata juga kerajaan lain. Sungai itu terbentuk secara alami. Tidak ada jembatan khusus untuk kesana hanya ada jembatan di perbatasan Nahdara. Jadi kemungkinan besar mereka melintasi dengan menerjang sungai.
"Candrasa!" Air menunggangi kudanya agak cepat.
__ADS_1
"Ya!" Pangeran menoleh ke arah sahabatnya.
"Sepertinya kita tidak bisa melewati sungai, apalagi dengan para perempuan." Usul Air yang khawatir dengan keselamatan perempuan.
"Kau anggap kami apa? Kami tidak keberatan jika harus menerjang sungai langsung Air!" Hanada berkuda mendahului mereka, dikuti teman wanitanya yang lain. Candrasa sekilas menatap wanita bertopeng itu dan tertegun.
"Hey, ayo lanjutkan!" kata Air membuyarkan lamunan putra mahkota.
Candrasa langsung menghentakan kakinya pada kuda miliknya. Dia sembari menggambarkan teknik sena yang sudah dia baca dan belum sempat di pelajari. Ingga dan Juna sudah sampai di sungai terlebih dahulu.
Debit airnya lumayan tinggi sehingga membuat mereka berhenti sejenak. Semua orang memikirkan jalan lain, tetapi Azura terlihat turun dari kudanya dan mendekat ke arah sungai. Wanita itu memeriksa air sungai dengen mencelupkan tangannya ke air itu.
Dia rasa, aliran sungainya aman untuk mereka lewati. Candrasa menatap Azura dengan kagum, wanita berkulit seputih susu itu terlihat sedikit misterius bagi Candrasa. "Apa salah seorang dari kalian ada yang memiliki elemen air?" Azura bertanya pada semua temannya.
Candrasa mengacungkan tangannya, "aku" jawabnya singkat sambil turun dari kudanya dan menghampiri Azura.
Hanada menatap keduanya dengan datar, mendengus pelan.
Candrasa pun mengangguk, dia mulai menggerakan tangannya perlahan membuat air sungai mengikuti arah tangannya. Dibantu Azura yang siap dengan elemen angin untuk membekukan air yang Candrasa kendalikan.
Setelah membeku Azura memberi aba-aba pada temannya untuk segera melewati sungai itu. Karena tidak akan bertahan lama. Semuanya sudah melewati sungai dengan selamat dengan kecepatan kuda yang maksimal.
Kemudian, Candrasa menatap sungai yang membeku tadi, pria itu tidak bisa percaya. Jika dia punya elemen air dan angin, berarti dia bisa membuat bongkahan es dari ilmu sihirnya.
"Pangeran, ayo!" Azura memperingati Candrasa agar tidak terlalu lama disana.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya ke wilayah perbatasan. Sesampainya disana, suasana rumah penduduk begitu memprihatinkan. Rumah yang hanya ada beberapa itu terlihat hancur dibeberapa bagian. Candrasa pun merasa gagal melindungi rakyatnya.
Tidak lama terlihat beberapa orang dengan pakaian rapih menghampiri mereka semua, itu adalah para murid Darkmagus.
__ADS_1
"Kalian terlambat, semuanya sudah kami atasi. hahaha!" kata salah seorang pria berbaju hitam.
Tidak ada satupun murid Maharaja yang menimpali ucapannya sekalipun mereka sedang di olok.
"Hanada," imbuh seorang pria yang berdiri di tengah di antara yang lain.
"Rama?" Hanada mengerutkan dahinya. ini kali pertama wanita itu melihat sepupunya lagi. Karena selama ini, Rama terkenal sibuk dengan berbagai pelatihannya untuk mempersiapkan diri sebagai seorang Raja di Brahma.
Air menoleh ke arah Hanada, sedangkan Candrasa kini turun dari kudanya dan menghampiri murid darkmagus. Tidak lama seorang pria berkulit menyeramkan layaknya mayat hidup menyerang Candrasa secara tiba-tiba.
Semua orang langsung membelalak, para wanita menjerit terkejut karena pria itu datang secara tiba-tiba menyerang Candrasa. Secepat kedipan mata Candrasa menghindar, hampir saja dagunya tertusuk pedang monster itu. Mungkinkah, manusia ini yang di katakan oleh warga yang mengeluh ke akademi?
Murid Darkmagus hanya menatap Candrasa tanpa membantunya, mereka sudah berhasil menyingkirkan dua makhluk seperti itu sebelumnya. Sekarang mereka ingin lihat kekuatan murid dari Maharaja.
Tiba-tiba sebilah pedang melesat ke arah Candrasa, makhluk yang kehilangan kendali itu langsung menyerang Candrasa dengan bringas. Dentang pedang meriuhkan suasana yang mulai pekat dengan awan hitam yang menandakan akan turunnya hujan.
Ini sangat menguntungkan bagi Candrasa yang memiliki elemen air, sehingga dia bisa menggunakan elemen itu kapan saja. Mengingat teknik sena, Candrasa mulai mempraktikannya langsung.
Dia mempertahankan diri dengan menghindar, setelah waktunya pas Candrasa membuat sebuah perisai dari partikel udara yang ada di sekitarnya. Membuat makhluk itu membelalak dan mundur beberapa langkah karena serangannya tidak berhasil menembus perisai Candrasa .
Dengan jurus meringankan tubuh yang telah Candrasa kuasai, dia dengan mudah berpindah.
Sreet ...
Pedang Candrasa berhasil menyayat lengan kanan monster itu, terlihat darah hitam mengalir dari sana. Dengan jurus terakhirnya, Candrasa menggunakan kekuatan elemen air untuk mengumpulkan partikel air di udara lalu membentuk sebuah pedang dengan itu, sebuah pedang air yang kokoh seperti batu es yang tajam.
Candrasa menancapkan itu langsung ke jantung makhluk tak terkendali tadi, dan... Pria itupun langsung mengering layaknya batu setelah terkena serangan terakhir Candrasa.
Murid Darkmagus tertegun melihat kekuatan yang Candrasa miliki, begitupun temannya yang lain yang terlihat bangga dengannya.
__ADS_1
...****************...
...****************...