CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 25 : Nahdara vs Brahma


__ADS_3

Hanada melihat tatapan tajam calon mertuanya itu,


"Hanada, katakan dengan jelas. Kau menolak perjodohan ini atau tidak?" Kata Ratu Naira masih tetap dengan tajamnya dia melihat Hanada.


"Bu, sudahlah jangan bertanya hal itu pada Hanada!" Isa tidak ingin mendengar jawaban Hanada, karena dia yakin sepupunya itu akan menolak. Sedangkan, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada wanita itu sudah sejak lama.


Hanada menghela nafas lagi, "Dengan segala Hormat, aku menolak perjodohan ini, Ratu."


Ratu makin membelalak mendengar jawaban Hanada.


"Hanada!!!!" Raja Nahda meninggikan suaranya, suasana yang tadinya tenang menjadi ricuh seketika.


Hanada menatap ayahnya dengan datar, "Aku harus memilih apa yang aku inginkan. Itu yang selalu ibu sampaikan padaku." Hanada menatap ayahnya.


"Jangan bawa ibumu dalam hal ini !!!!" Raja Nahda melotot ke arah Hanada.


Kerajaan Brahma merasa dipermalukan, Raja Brahma III pun berdiri.


"Raja Nahda, bagaimana jadinya? Putrimu dengan terang-terangan menolak anak ku Isa."


"Raja Brahma, aku yakin pikiran Hanada sedang tidak stabil dia baru saja pulang dari perjalanannya." Raja Nahda mencoba menenangkan Raja Brahma III.


"Ya, Ayah benar. Aku baru saja pulang berkelana ke hutan terlarang." Hanada menyeringai, dia tahu itu akan berhasil. Tidak ada keturunan Nahdara yang ingin melihat seorang wanita menjadi Kesatria.


Ratu Naira membelalak, Hanada melihat kesekeliling.


Kenapa udara menjadi dingin sekali?


Hanada membatin, dia merasa udara dingin mengelilinginya. Rupanya kekuatan sihir Ratu Naira lah yang membuat udara disekitar Hanada sedingin es.


Untuk waktu yang cukup lama, Hanada kini merasa tubuhnya menggigil. Lututnya pun terasa lemas tak karuan, dia hanya bisa melihat orang-orang dengan samar. Suara panggilan ayahnya pun terdengar seperti dengung saja ditelinganya.


"Hentikan Ratu Naira!!! Kau bisa membunuh putri ku!" Ucap Raja Nahda.


Setelah itu, Ratu Naira menghentikan aliran energinya. Hanada dan kursinya ambruk ke lantai. Dia terlihat pucat.


"Hanada," Isa berlari mendekati Hanada, diikuti Raja Nahda.

__ADS_1


"Kenapa Ibu melakukan itu?" Isa menatap ibunya tajam.


"Isa !!!! Kita tinggalkan Istana ini. Raja Nahda, mulai sekarang kita putuskan segala hubungan kita, darah maupun hal yang lain !!" Kata Raja Brahma III.


Kini, Raja Nahda sudah tidak peduli dengan itu, nyawa Hanada lebih penting dari itu semua. Dia tidak bisa melihat anaknya dilukai didepan matanya sendiri.


Isa bangkit dari posisinya, dia melihat Hanada agak lama sebelum benar-benar keluar dari Istana itu. Raja Nahda memerintahkan para dayang menggotong Hanada ke kamar. Neneknya menatap Ratu Naira dengan tajam, Ratu itu bahkan membalas tatapan tajam neneknya sendiri.


Kerajaan Brahma sudah pergi dari Nahdara dengan rasa kecewa dan kesal yang mendalam. Sedangkan, Hanada dibawa ke tempat tidurnya dan diistirahatkan disana.


Raja Nahda melihat putrinya dengan tatapan sedih, dia menyesal telah memaksakan kehendaknya. Tapi, dia juga tidak bisa merubah peraturan yang ada.


Malam itu, suasana di Nahdara menjadi agak ricuh. Berita mulai menyebar ke penjuru Negeri mengenai tolakan perjodohan dari Hanada, juga perjalanan Hanada ke Hutan Terlarang.


Dia jadi bahan gunjingan rakyat, bahkan para petinggi yang membencinya. Seorang wanita menjadi kesatria adalah aib bagi Nahdara. Pemikiran kolot mereka, yang belum bisa dirubah di jaman yang semakin berkembang itu membuat para wanita hanya bisa menerima nasibnya.


Tidak ada perempuan Nahdara yang menjadi Kesatria, menurut mereka hanya laki-lakilah yang pantas untuk menjadi seorang kesatria.


*


*


Candrasa, akan dengan matang memikirkan pencarian pedang itu lagi, kali ini tanpa petunjuk apapun, dia harus mampu mendapatkannya.


Dengan bantuan Air. Candrasa yakin dia mampu mendapatkan pedang itu. Wabah yang menghantui Amarata harus segera dihilangkan.


Juga, kutukan kakeknya yang masih melekat pada pedang itu, harus segera dihancurkan.


Keesokan paginya....


Candrasa melihat sinar matahari yang mulai menyinari kamar tidurnya yang luas, dia mendekat ke arah jendela yang langsung menembus ke balkon kamarnya.


Dilihatnya para prajurit yang masih dalam kondisi berjaga, dia merasa tubuhnya jauh lebih baik. Dia baru ingat, kalau dia sudah menguasai elemen air dan api. Dia harus segera bertemu Guru Wija untuk membicarakan hal ini secara langsung.


Di Akademi Sihir Maharaja, Guru Wija menyaksikan murid yang lain berlatih ilmu bela diri. Beberapa anak baru berusia 6 tahun masih sedang dalam pengenalan pada gerakan-gerakan bela diri.


Dia menatap tabir pelindung yang semakin berkilau cahayanya, Guru Wija tersenyum. Itu artinya Candrasa sudah membaik.

__ADS_1


Guru Wija kemudian menemui Guru Manta, dia menanyakan tentang kebenaran identitas Hanada pada guru wanita itu. Guru Wija berjalan memasuki Asrama putri, dengan Rambut putih sepinggang serta janggut yang hampir menyentuh perut, pria itu berjalan sambil memegang tangannya kebelakang seperti biasa.


Dia mengetuk pintu ruangan Guru Manta, "Silahkan masuk" Kata Guru Manta dari dalam. Guru Wija melangkahkan kakinya masuk keruangan, dilihatnya wanita itu sedang fokus menulis sebuah surat. Entah surat untuk siapa, Guru Wija belum mengetahuinya.


Guru Wija mendekat, Guru Manta yang baru sadar jika yang datang adalah seorang tetua langsung berdiri dan memberi hormat.


"Salam Guru, maafkan aku yang tidak tahu kedatanganmu."


Guru Wija mengangguk dan tersenyum, "Tidak apa-apa, lanjutkan! Rupanya, kau sedang menulis surat." Guru Wija memperhatikan isi surat yang ada diatas mejanya.


Guru Manta langsung menggulung surat yang belum selesai dia buat itu dengan cepat.


"Ini untuk murid terbaikku," Kata Guru Manta.


"Hanada?" Guru Wija tersenyum lagi, rupanya tebakannya benar.


"Guru sudah mendengar kabar itu kan? Hanada adalah seorang putri Kerajaan Nahdara." Kata Guru Manta.


"Silahkan duduk Guru," Lanjut wanita itu.


Guru Wija mendekat lalu duduk di kursi didepan meja tadi, guru Manta ikut duduk ditempatnya semula. Dia mendengus pelan lalu menceritakan saat Raja Nahda datang ke Asrama Putri.


"Aku merasa khawatir saat Hanada kabur bersama Air dari Asrama, Selang beberapa hari, Raja Nahda datang menemuiku, dia mencari Hanada dan berniat membawanya pulang, disanalah aku baru tahu mengenai identitasnya." Guru Manta mengingat-ingat kejadian waktu itu.


Guru Wija mengangguk sambil mendengarkan cerita Guru Manta.


"Saat aku bilang Hanada kabur, Raja Nahda sangat marah, setelah itu Raja Nahda menyampaikan padaku agar aku mengeluarkan Hanada secara paksa dari Akademi Sihir kita. Memang sesuai peraturan yang ada, Hanada harus mendapatkan hukuman. Tapi bukan untuk dikeluarkan."


Guru Wija mengangguk, dia memperhatikan raut wajah guru Manta yang merasa menyesal telah mengeluarkan Hanada.


"Kita tidak bisa ikut campur dalam aturan Kerajaan itu, mereka memang tidak mengizinkan seorang wanita menjadi Kesatria. Tapi yang membuatku bingung, kenapa Hanada bisa berada di Akademi Sihir ini? Sedangkan, peraturan mereka mengatakan tidak akan menerima kesatria wanita?"


Guru Manta ikut berpikir alasan Hanada kesini, itulah hal yang belum terpecahkan oleh mereka. Sesaat Guru Manta berpikir bahwa Hanada ditugaskan sebagai mata-mata. Tapi dia menepis itu semua, karena selama di Akademi Sihir Maharaja, Hanada tidak pernah sekalipun terlihat ingin tahu soal politik di Amarata.


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2