CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 53 : Berjalan di atas air


__ADS_3

Keduanya berhenti setelah panah itu melesat di antara mereka, Hanada mengambil langlah mendekat ditengah kedua pria itu. Tidak lupa dia memberi salam pada guru-gurunya yang terlihat disana.


"Salam guru," Kata Hanada sambil menunduk.


Smeua guru pun senang melihat Hanada kembali.


Candrasa menatap Hanada dengan raut wajah yang sumringah, pria ini tidak bisa melepaskan pandangannya dari sahabatnya itu. Sedangkan Air sedang memperhatikan Candrasa.


"Kalian harus berhenti sekarang, Hanada sudah datang!" Pinta guru Wija pada mereka semua.


Candrasa mengangguk, begitupun dengan Air.


Saat semuanya kembali ke ruangan dan tempat latihan masing-masing, Candrasa dan kedua sahabatnya pergi ke taman wilayah Maharaja. Raja Nahda meminta waktu guru Wija untuk menyampaikan terimakasihnya karena putrinya diizinkan untuk kembali masuk ke akademi.


Hal aneh, disaat kedua kerajaan itu bermusuhan, tetapi anaknya dibiarkan menuntut ilmu di akademi itu. Akademi Maharaja memang dibangun untuk siapapun yang bersedia menimba ilmu disana. Ilmu sihir dan bela diri, sebenarnya adalagi akademi yang baru saja dibangun di daerah Brahma.


Akademi itu mempelajari ilmu sihir dengan dominan ilmu hitam, dengan acuan buku ilmu hitam mereka mempelajari berbagai hal disana.


Sedangkan, Akademi Maharaja hanya memfokuskan pada energi yang dimiliki sejak lahir. Sihir yang mereka gunakan harus tersalurkan melewati elemen-elemen yang mereka kuasai.


Ada empat elemen yang di pelajari di Maharaja, yaitu tanah atau bumi, angin, air dan api. Untuk mengetahui jenis elemen yang mereka kuasai mereka harus mengalirkan energi ke salah satu unsur tersebut.


"Apa yang kalian lakukan di ruang pertarungan resmi?" Hanada menoleh ke arah dua sahabatnya meminta penjelasan.


"Air memulai lebih dulu," kata Candrasa menatap pria itu.


"Heyy! Ingat kau yang mengajaku bertarung secara resmi!" Jawab Air tidak terima.


"Kau yang menyerangka di Cusak!" Sahut Candrasa tidak mau kalah.


"Kalian!" Pekik Hanada, woah Candrasa dan Air terkejut, ada percikan api keluar dari bahunya sedikit.

__ADS_1


"Hanada, tadi itu apa?" Tanya Candrasa kebingungan.


Hanada menepis sisa percikan api yang ada di bahunya dengan santai, "itu elemenku, aku menguasai elemen api." Hanada menyeringai.


"Apa kalian sudah fokus mempelajari elemen? Jangan bikang kerjaan kalian hanya main-main saja. Cih" Hanada melenggang pergi meninggalkan mereka berdua, keduanya pun ikut membuntuti Hanada.


"Aku juga sudah menguasai api, dan air" ujar Candrasa di samping Hanada.


Wanita itupun menoleh ke arahnya, "tunjukan padaku!" katanya.


Candrasa oun mengalirkan energinya ke telapak tangan. Dan keluarkan api dari jari jemarinya. "Lihatlah!" kata Candrasa.


"Itu bagus, bagaimana denganmu Air?" Hanada menoleh ke arah Air.


Pria itupun menggeleng, "belum satupun" jawabnya.


Hanada kembali berjalan melewati mereka, "dasar payah!"


Air mengerutkan dahi, dia mengejar Hanada lalu mengacak rambutnya, kemudian mereka tertawa bersama. Seperti biasa, Candrasa hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Dia mendengus pelan, saat melewati ruangan guru Wija, tidak lama pria itu dan Raja Nahda pun keluar dari sana.


Kemudian Raja Nahda pun pergi dari sana, dia kini mendekat ke arah guru Wija. "Tadi itu apa?" tanya Sang Guru.


"Itu hanya kesalahpahaman diantara kami," jawab Candrasa.


"Tanda di lehermu terlihat samar," imbuh gurunya memperhatikan leher anak itu.


Candrasa dengan spontan memegang lehernya, "ya guru, semalam aku merasa di rasuki roh kegelapan. Tapi anehnya aku masih sadar. Aku mengingat semuanya," Candrasa menatap gurunya dengan keheranan.


"Mungkin roh itu hanya mengalirkan energi miliknya padamu, dia mengendalikanmu dari jauh." kata guru Wija.


"Adakah kasus yang sama sepertiku dulu?" Tanya Candrasa pada gurunya, dia sangat penasaran mengenai simbol itu dan juga kenapa roh kegelapan bisa menempel padanya seperti parasit.

__ADS_1


Sejujurnya, dia juga tidak menganggap kakeknya parasit. Hanya saja dia tidak nyaman karena merasa dikendalikan, seolah dia hanyalah orang yang lemah. Padahal energinya sudah mencapai tingkat panca.


"Guru, apakah ini ada kaitannya dengan jiwa ku yang masih lemah?" Pemuda itu menatap gurunya dengan seksama.


Guru Wija hanya mengangguk.


"Lakukanlah pertapaan, untuk mengetes energimu!" Ujar gurunya.


"Aku harus bertapa? Berapa lama?" Candrasa mengerutkan dahinya keheranan.


"Bagaimana dengan teknik berjalan di atas air, kau sudah menguasainya?" Tanya guru Wija.


"Aku belum mencobanya lagi," jawab Candrasa.


"Baiklah mari kita coba satu kali lagi, jika kau lulus dalam teknik berjalan di atas air maka kita akan ke tahap selanjutnya. Kau harus memaksimalkan energi yang sudah kau capai itu, untuk orang biasa mereka bisa mecapai panca hingga puluhan tahun. Sedangkan kau. kau hanya butuh wakti 18 tahun untuk mencapai tingkatan itu." Guru Wija menatap Candrasa dengan serius.


"Teman-temanmu yang lain masih dalam tingkatan yang kecil, jadi kau harus menyempurnakan energi itu dengan belajar semua elemen dan Percayalah pada dirimu sendiri! Bertindak tegas sekali itu harus Candrasa, kau tidak perlu selalu berhati-hati, kau hanya perlu fokus. Di luar sana kau akan menemukan musuh yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya." Kata guru Wija, menekankan kata musuh, seolah ada musuh luar biasa yang menunggu Candrasa di luaran sana.


"Jika ilmumu belum sempurna, maka mereka akan dengan mudah menyerang jiwamu Candrasa. amaka dari itu aku ingin kau belajar menyempurnakan energi itu dan menyatukannya dengan jiwamu sehingga kau bisa menguasai semua elemen yang ada di Madriga. Hingga kau menjadi seseorang yang tak tertandingi! Potensimu sangat bagus jadi jangan pernah ragu melakukannya." Nasehat guru Wija yang panjang itu membuat hati Candrasa terketuk, dia sudah lama tertidur. Pikirannya selama ini hanya menyangkut rakyat dan Amarata saja. Padahal, di luar sana masih banyak hal yang bisa di jelajahi.


"Terimakasih guru, aku akan bersungguh-sungguh. Tolong ajarkan aku menyempurnakan energi yang sudah kumiliki ini, ada energi ibuku yang mengalir di dalam tubuh ini, juga energi kakekku. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya." Kata Candrasa pada gurunya.


Guru Wija pun tersenyum lebar, "bagus nak, itulah kenapa roh kegelapan itu mengambil alih tubuhmu. Percayalah, jika energimu lebih kuat daripadanya maka roh itu akan mempercayakan padamu seutuhnya." pria itu menepuk bahu Candrasa.


"Tentu guru," jawab Candrasa.


"Baiklah, mari tunjukan kemampuan teknik berjalan di atas airmu!" seru gurunya.


Mereka berdua pun melenggang pergi dari sana menuju kolam tempat latihan kemarin, kali ini Candrasa dengan fokus dan sabar menunggu momen yang tepat. Dia melakukan ancang-ancang. Menarik nafasnya perlahan, saat dia merasakan energinya mengalir ke telapak kaki, pria itu langsung mengambil langkah untuk berjalan di atas air.


Dan pria itupun berhasil melakukannya, Candrasa melewati ujian teknik berjalan di atas air dengan energi yang dia tumpu kan di telapak kakinya.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2