![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
...HUTAN AZURE...
...(sumber : google image)...
Kabut indah menutupi sebagian jalan hutan itu, konon kata mereka hutan dengan berbagai jenis tanaman indah dan langka itu adalah sarangnya para peri juga makhluk ajaib lainnya. Hutan yang menjadi perbatasan antara Nahdara dan Brahma itu menjadi satu-satunya hutan diwilayah mereka yang belum terjamah sepenuhnya.
Udara segar yang menyelimuti hutan itu membuat candu bagi kedua sahabat itu, entahlah tapi udara di sana bisa dirasakan dengan lidah mereka.
Rupanya, hutan Azure telah terbagi dua, tujuh puluh lima persen hutan itu di kuasai oleh Brahma dan sisanya di serahkan pada Nahdara untuk di rawat sebagai penghubung antara kerajaan mereka.
Nahdara tidak tahu menahu soal penjamahan hutan Azure yang di kuasai Brahma, tapi perjanjian mereka adalah dengan tidak memperbudak dan mengganggu makhluk-makhluk yang ada disana. Akan tetapi, saat penyerangan kemarin Raja Nahda sempat terkejut dengan kedatangan faun ke kerajaannya.
Dia tidak menyangka, Brahma menjadikan makhluk itu sebagai prajuritnya.
~
Hari itu, Candrasa dan Air kembali ke akademi sihir maharaja, keduanya melewati daerah Nahdara yang kini kian kondusif. Hanada akan kembali esok harinya bersama Sang ayah dan juga pengawal Nahdara.
"Kami pamit dulu," salam perpisahan dari Candrasa dan Air pada Raja Nahda dan juga putrinya, Hanada.
"Jika kalian pulang melewati hutan Azure maka berhati-hatilah, ada banyak makhluk tak terbayang disana. Tapi tenang saja, wilayah itu aman dari Brahma karena masih termasuk wilayah kami." Ucap Hanada menjelaskan, sedangkan Raja Nahda hanya menatap wanita itu kagum.
"Baik terimakasih," kata Air dan Candrasa.
Mereka berjalan menyusuri sungai dan beberapa pepohonan lebat yang ada di wilayah itu. Matahari mulai tepat berada di atas mereka, simbol yang menghitam di leher Candrasa kini tertutup rapat dengan kain yang melingkar.
Pria itu khawatir jika ayahnya atau orang di akademi tahu soal simbol ilmu hitam ini, dia akan terkena masalah. Karena jelas, Amarata melarang penggunaan ilmu sihir itu sendiri. Itu sangat berbahaya, bahkan bisa meracuni jiwa yang menggunakannya.
Tak tuk tak tuk... Suara kuda yang mereka tunggangi terdengar di telinga rakyat Nahdara.
Belum ada yang tahu bahwa penyelamat kerajaan itu adalah seorang putra mahkota dari kerajaan musuh. Candrasa dan Raja Nahda sepakat menutupi hal itu. Anggap saja orang yang mereka lihat adalah rakyat biasa.
Kali ini mereka tidak melewati pasar Amarata melainkan melewati pinggiran hutan batas wilayah kerajaan Brahma dan juga Nahdara. Karena jalan itu lebih dekat di tempuh untuk ke akademi maharaja.
"Apa tidak apa-apa melewati hutan ini?" tanya Air.
__ADS_1
"Kurasa tidak masalah, aku penasaran dengan makhluk aneh yang katanya hidup di hutan itu." ujar Candrasa, mereka berkuda dengan pelan.
"Kau lihat faun yang kita temui? Argh rupanya sangat menyeramkan tapi dia tidak sehebat itu hahaha." Air tertawa mengingat kejadian saat di perbatasan.
"Kurasa masih banyak lagi makhluk yang seperti itu, yang hanya terjamah oleh Brahma." Candrasa menyeringai, kini mereka mempercepat laju kudanya.
"Hya!" Candrasa memacu kudanya lebih dulu.
"Hey tunggu aku!" diikuti oleh Air di belakangnya.
Mereka memacu kuda sampai ke tengah hutan, tapi tidak ada hal lain yang mereka lihat selain bunga mawar berwarna pink. Air sangat terpesona melihatnya sehingga dia ingin sekali memetik bunga itu. Tapi, tak di sangka dia langsung mengerjap saat hendak mendekat, bunga itu langsung membuka mulut dengan ganas.
"Demi Amarata!" seru Air yang spontan karena terkejut melihat mawar-mawar ini mulai mengatupkan mulut seakan ingin menggigit mereka.
Kuda yang di tumpangi Air pun mulai bergerak tak karuan, begitupun dengan milik Candrasa.
"Wah wah woaaaah!" Candrasa nampak panik, dia memacu kudanya cept agar melewati hamparan bunga liar tersebut.
Air mengikuti Candrasa dibelakangnya. Akhirnya mereka melewati bunga ganas tadi. "fyuhh.... Bunga itu tidak secantik penampilannya." ujar Air yang masih ngos-ngosan karena tanaman tadi.
"Hanada sudah menyampaikan itu sebelumnya. Kita tidak tahu makhluk aneh apalagi yanga ada di depan sana." kata Candrasa.
Tidak lama setelah itu mereka melewati sungai kecil yang airnya sangat jernih, Candrasa tidak ingin kehilangan kesempatan dia langsung menghentikan kudanya lalu turun mengambil air itu sedikit.
"Air , rasanya manis. Cobalah!" Candrasa menoleh kebelakang dimana Air baru saja tiba. Pria itu ikut turun lalu menghampiri sahabatnya.
Dia mengambil sedikit dari tangannya dan meminum itu secara langsung, "kau benar rasanya manis, bagaimana jika kita membawa air ini untuk oleh-oleh?" Air menyeringai menahan tawanya.
Candrasa yang sedang mode serius langsung mendelik, tapi sejujurnya dia juga merasa perkataan Air itu sangatlah lucu. Gengsinya yang tinggi menahan dia untuk tertawa keras, apalagi dia seorang putra mahkota, dia harus menjaga wibawanya.
Pria itu berdiri dari posisi mencongkong, lalu menepuk pundak Air dan melewatinya.
"Mari, kita lanjutkan perjalanan!" pinta Candrasa.
Mereka pun melanjutkan lagi perjalanannya, sampai matahari melewati batas kepala mereka, akhirnya mereka sampai di perbatasan langsung menuju akademi sihir.
Disana terlihat penjaga akademi sedang mengawasi setiap jengkal mata memandang. Saat dilihatnya kedua pria penunggang kuda memakai pakaian asing, mereka pun langsung sigap menghadang.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Tanya mereka dengan tegas, sebilah pedang langsung dikeluarkan dari sarungnya oleh salah satu penjaga.
Air dan Candrasa saling bertukar tatap, karena Putra Mahkota harus menutupi simbol di lehernya akhirnya Air lah yang membuka kain yang melilit di wajahnya.
"Ini aku, Air Mahendra." ucapnya sambil menyeringai.
"Dan.. Ini Putra Mahkota kalian, Candrasa." Air menoleh ke arah pria disebelahnya.
Kedua penjaga itu membelalak, lalu memberi hormat pada Candrasa.
"Maafkan kami pangeran, silahkan masuk!" seru kedua penjaga itu.
"Terimakasih," ujar Air lalu langsung memacu kudanya kedalam mengikuti Candrasa.
Mereka menaruh kudanya terlebih dahulu di kandang khusus yang ada di sana, kemudian berjalan dan memasuki area akademi. sebelum itu mereka melewati penjaga lagi, kali ini penjaga yang bertugas di pintu masuk akademi sihir maharaja.
...(Sumber : google image Alchemy of souls drama '22)...
Karena Air sudah membuka penutup wajahnya mereka membiarkan keduanya masuk, tapi saat melewati penjaga itu Candrasa melihat ke arah simbol yang ada di punggung tangan salah satu pria itu.
Simbol itu persis miliknya, dia mengerutkan dahi. Air yang menyadari langkah kaki sahabatnya yang melamban pun menoleh ke arah pria itu.
"Ada apa?" tanya pria itu keheranan.
"Dia memiliki tanda seperti yang kumiliki, hanya saja ukurannya lebih kecil." ujar Candrasa.
Air mengerutkan dahi lalu mencoba menoleh ke arah pria yang dimaksud pemuda itu, ternyata benar salah satu penjaga itu memiliki simbol samayang dimiliki Candrasa.
"Mari kita bertanya pada guru Wija!" usul Air.
Keduanya pun berjalan ke ruangan guru mereka..
...****************...
__ADS_1
...****************...