CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 56 : Misi baru akademi


__ADS_3

Hanada menatap datar wajah pria yang sedang duduk serius itu, dia menaikan alisnya sembari menyerahkan kemukus di meja di hadapannya. Candrasa sontak langsung menoleh padanya.


"Kau menjatuhkannya?" Hanada mendengus pelan, lalu duduk di hadapan putra mahkota.


"Aku tidak sadar," Candrasa langsung memegang kantong koinnya, benar saja pedang kemukus terjatuh saat dia membawanya bersama buku itu.


"Kau kenal wanita tadi?" Candrasa menatap Hanada yang ada dihadapannya. Wanita itu pun mengangguk lalu meraih buku dengan ilmu sihir rahasia yang dia pelajari sendiri.


"Optimus!" mantra ajaib yang membuat elemen angin Hanada mengantarkan buku itu padanya. Candrasa membelalak.


"Kau memakainya?"


Hanada mengangguk, "tanpa sepengetahuan yang lain." Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Candrasa.


Dahulu, Hanada dan kawan asrama putri sempat di ajarkan mengenai mantra sihir oleh guru Manta, mantra itu tidak termasuk dalam ilmu hitam karena hanya digunakan untuk tindakan sehari-hari yang tidak membahayakan.


Tapi, setelahnya, penggunaan mantra apapun di hilangkan karena kekuatannya erat kaitannya dengan para pengguna ilmu sihir hitam atau Darkmagus.


Darkmagus sendiri adalah akademi sihir berada di wilayah kekuasaan milik Brahma hanya saja letaknya ada di bagian timur Madriga, ujung kerajaan itu.


Dahulu, Akademi itulah yang paling berjaya akan tetapi tidak sedikit para penjahat tercipta dari sana. Setelah Akademi Maharaja dibangun, banyak orang berbondong menitipkan anaknya ke akademi ini.


Karena, Maharaja terbilang mempelajari ilmu yang suci, tanpa ada campuran dengan ilmu hitam. Maharaja lebih memfokuskan pada energi alami yang dimiliki tubuh tetap beracuan pada elemen yang bisa di kuasai sehingga energi itu mengalir kesana.


Akademi Darkmagus seperti hilang pamor di kalangan penduduk Madriga. Bahkan muridnya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Akademi Maharaja yang awalnya dibangun untuk penangkalan wabah, sekarang menjadi pusat akademi ilmu sihir.


"Apa yang sedang kau pelajari?" Hanada mengerutkan dahinya, dia melihat Candrasa fokus menyalin sesuatu yang tidak terlihat oleh matanya.


"Ini buku ajaib, kau tidak bisa melihatnya jika tidak bersungguh-sungguh." Candrasa menyeringai pelan.


"Ah, itu buku yang terkenal itu ya? Bolehkah aku melihatnya?" Hanada berusaha mencuri pandang ke arah buku itu.


"Boleh, setelah kau sampai tingkat panca. Bukankah kau sekarang di tingkat tiga?" Candrasa mulai membahas ucapan Hanada saat dia dalsm kondisi vegetatif dulu.

__ADS_1


"Humm-mmh , heheh iya" Hanada merasa malu mengakui hal itu.


"Yasudah, lanjutkan saja. Aku harus kembali ke asrama." Hanada beranjak dari duduknya.


"Ya, sampai jumpa!" Candrasa kembali fokus pads buku tadi.


Hanada pun melenggang pergi dari buku itu.


"Teknik Sena tingkat satu," Candrasa membaca pelan buku yang kini terlihat jelas, dijelaskan di dalam sana teknik kuda-kuda pada umumnya. Yang membedakan disini, sang pengguna harus langsung mengalirkan energi pada tumpuan kaki sehingga saat menggunakan teknik secara langsung, tubuh mereka akan terasa ringan.


"Ini seperti meringankan tubuh," Pria itu mengangguk, dia lupa untuk menyalin dan lebih memilih memahami isi buku itu sebentar.


Kemudian, dia membaca sekitar lima lembar selanjutnya, "teknik sena tingkat dua : pertahanan" ujar pria itu sembari menyentuh dagunya.


Selama ini dia selalu menggunakan cara bertahan dan fokus pada serangan terlebih dahulu alih-alih langsung menyerang. Setelah ada celah dan lawan kehilangan fokus, disanalah Candrasa menyerang. Itulah, kenapa dia sering berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Karena sikapnya yang tenang dan juga berhati-hati.


Bukan berarti, dia takut. Hanya saja sesuai nasehat ibunya sejak kecil, setiap yang Candrasa lakukan harus di dasari dengan dua hal, yaitu sabar dan fokus. Sehingga itu membuatnya tidak mudah teralihkan dan tidak gegabah. Apalagi, dia calon Raja masa depan Amarata.


Pertahanan kali ini adalah membentuk sebuah perisai dengan elemen , yaitu mengalirkan energi untuk mengumpulkan partikel unsur elemen lalu menjadikannya sebuah perisai.


"Tingkat tiga : Penyerangan" katanya sambil fokus melihat gambar-gambar yang muncul secara tiba-tiba.


Penyerangan, masih berkaitan dengan elemen dan ilmu yang di ajarkan guru Wija kemarin. Awalnya pria itu harus mempusatkan energi di atas perut kemudian mengalirkan pada benda apapun yang dijadikan senjatanya. Memilih unsur elemen terdekat dan terkuat.


Setelah elemen terpasang sempurna pada senjata itu, maka sang pengguna bisa langsung menyerang dengan senjatanya, bisa juga dengan mengumpulkan elemen menjadi sebuah bola energi dan di tebaskan langsung pada lawan.


"Ini luar biasa." ujar pria itu dengan sangat bersemangat.


Tidak lama, Guru Tera pun masuk ke dalam perpustakaan. Pria itu melihat Candrasa yang ternyata sudah berhasil membaca buku ajaib itu. Dia pun menghampirinya sembari tersenyum dengan bangga.


"Kau berhasil," ujarnya.


Candrasa pun berdiri memberi hormat.

__ADS_1


"Besok kita akan mulai pelatihan tentang teknik sena." imbuh Guru Tera pada Putra Mahkota.


"Tentu guru, saya sangat bersemangat," jawabnya.


Setelahnya, Candrasa pun keluar dari gudang baca buku bersama guru Tera. Salah seorang murid berlari seperti mencari bantuan.


"Ada apa?" Guru Tera terlihat kebingungan.


"Guru, ada beberapa warga yang terluka, dia mengeluhkan sakit karena di serang oleh iblis berwujud manusia." Kata pria itu.


"Maksudnya?"


Guru Tera dan Candrasa yang mendengar hal itu langsung menghampiri warga yang katanya terluka. Mereka terlihat cemas, disana sudah ada Guru Wija yang menangani pars warga yang terluka. Mereka di bawa ke jaroga untuk di ambil racunnya.


"Ada apa ini?" Guru Tera melenggang menghampiri mereka.


"Ka-kami di serang oleh makhluk aneh, mereka manusia, tapi wajah mereka mengerikan. Terlihat seperti iblis tapi mereka manusia yang kehilangan kendali, mereka monster!" seorang ibu paruh baya mengeluhkan kejadian itu.


"Kurasa ada kaitannya dengan iblis bayangan yang semakin banyak menganggu warga setempat!" ujar yang lain.


Candrasa tertegun, siapapun orang itu dia sedang mulai melakukan penyerangan terhadap Amarata. Orang itu pasti memiliki pusaka Sang kakek.


"Biar aku atasi, aku akan memeriksa ke wilayah sana." ujar Candrasa.


"Karena kejadian ada di perbatasan wilayah, jadi murid darkmagus sudah dikirim kesana. Mereka bergerak lebih cepat dibanding akademi ini." Kata salah seorang pria dari warga yang terluka ringan itu.


"Darkmagus? Apa hubungannya dengan mereka?" Guru Tera mengerutkan dahi, akhirnya dia berinisiatif untuk meminta izin Guru Wija dan memberikan misi yang nyata bagi para murid akademu Maharaja. Karena selama ini mereka hanya belajar di akademi tanpa praktik langsung dengan lawan yang nyata.


"Aku punya ide," kata pria itu.


Candrasa menatap guru Tera dengan kebingungan, dia mencoba membantu memulihkan luka kecil yang di alami oleh para warga yang datang ke akademi sihir.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2