![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
Rakyat Amarata berjalan menuju Istana, mereka berbondong-bondong sambil berteriak mencibir Candrasa dan Raja Jira II.
Candrasa yang kondisinya belum stabil mendengar beberapa teriakan orang-orang itu secara samar. Air pun sama, sekarang dia mencoba mengintip dari jendela yang langsung mengarah keluar Istana.
Air menatap orang-orang itu dari kejauhan, terlihat satu orang yang sepertinya adalah provokator utama. Air kembali mendekat ke arah Candrasa.
"Ada apa Air?" Candrasa menatap dengan penuh ketegangan.
"Beberapa rakyat terlihat sedang protes didepan Istana," Air merasa cemas.
"Aku harus menemui ayahku dulu." Kata Air sambil berjalan ke pintu kamar.
Air dengan tergesa mencari ayahnya yang tak lain adalah seorang panglima perang kerajaan itu. Air berjalan cepat dengan pedang di pinggangnya.
Air ke ruangan khusu milik panglima perang, disaan terkihat ayahnya sedang membuka buku latihan teknik pedang. Pria itu menatap Air dengan agak terkejut.
"Kenapa nak?" tanya nya.
"Ayah, diluar Istana ada kericuhan." Tanpa basa-basi Panglima Doha meraih pedangnya lalu berjalan mendahului Air. Air yang masuh terbata-bata mengikutinya dari belakang.
Panglima Doha. Langsung meminta beberapa pasukan khusus bertahan untuk mengepung orang yang mendekat ke Istana.
"Semuanya cepat pada posisi," Panglima Doha berniat ke ruangan Raja Jira II. Tapi dengan tanpa sengaja mereka malah bertemu di lorong.
"Salam Yang Mulia," Panglima Doha memberi salam pada Raja.
"Aku sudah tahu, tahan dulu serangan, kita dengarkan dulu keluham mereka. Bagaimana pun mereka adalah rakyat ku." Kata Raja Jira II bijak.
Panglima Doha mengangguk, kemudian dia dan Raja berjalan keluar Istana. Sedangkan, Air dengan prajurit lain sudah siap menghadang orang-orang itu.
"Kita tunggu aba-aba dari Panglima," Kata Air.
Candrasa turun dsri tempat tidurnya, dia sudah mulai bisa berjalan. Dia berjalan ke arah jendela di balkon, dia melihat suasana semakin menegang ketika orang Istana sudah siap siaga menahan para pendemo itu.
"Ini salah," Ucap Candrasa sanbil menggeleng. Dia meras akesakitan dibagian perutnya, dia ingin sekali turun dan berbicara pada rakyat secara langsung.
"Aduh..." Candrasa meringis, dia kemudia berjalan sambil tertatih kembali ke ranjangnya. Dia duduk disana sebentar sambil mengatur nafasnya.
Kini orang-orang itu sudah sampai di depan Istana, tepatnya dihadapan pasukan yang siap menangkap mereka.
__ADS_1
"Hahaha... Lihatlah! Inikah yang dilakukan kerajaan tercinta kita? Hey kau!! Kami hanya ingin meminta pertanggung jawaban kalian!" ucap salah seorang yang diduga provokator utama itu.
Air menghela nafas, sudah kita ketahuo bahwa Air bukanlah orang yang suka berbelit-belit. Dia sama persis dengan Panglima Doha.
Tak lama, Panglima dan Raja Jira II datang menemui mereka semua keluar istana. Seluruh rakyat kini menatap Raja mereka.
"Rakyatku, kumohon jangan lakukan ini. Aku mengerti kalian merasa kecewa padaku, kalian merasa tersiksa dengan wabah ini. Tapi kumohon, aku sudah melakukannya dengan segala cara yang ku bisa." Raja Jira II nampak bersedih.
"Aku mohon kalian agar bisa bersabar sedikit lagi," Raja Jira II menunduk dihadapan rakyatnya. Sebagian dari mereka merasa iba dan kasihan pada Raja Jira II.
Tapi, sebagian lagi merasa sangat kesal melihat tangisan Raja itu, mereka merasa tangisannya hanyalah kepalsuan saja.
"Sudah 18 tahun kami seperti ini!!!!!!" Teriak salah seorang rakyatnya.
"Aku tahu, maka dari itu aku mencoba membangun Akademi sihir kita, agar anak-anak bisa mempelajari ilmu sihir untuk menangkal wabah ini." Raja Jira II semakin dibuat merasa bersalah.
"Kau pikir cukup????" Teriak provokator utama, dengan sigap Air mengayunkan pedangnya dengan teknik yang ciamik ke depan leher pria tadi.
"JAGA UCAPANMU PADA RAJA!!!" Air memicingkan tatapannya pada pria itu, Raja dan Panglima sangat terkejut melihat tindakan Air.
Begitupun Candrasa yang kembali menyaksikan hal itu di balkon. Candrasa denga tertatih mencoba berjalan keluar istana. Dia mengatur nafasnya dengan baik, dia tidak boleh lemah dihadapan rakyat yang menaruh harapan besar padanya.
"Kurang ajar !!!!" Air mengayunkan pedangnya, namun di tahan oleh Panglima Doha.
"Air!!" katanya sambil menggeleng untuk memperingati Air.
Air menurunkan pedangnya dengan sambil mendengus, pria itu kecewa karena tidak bisa menebas pria yang sudah lancang menghina Raja dan keturunannya..
"Tenang dulu semuanya." Panglima Doha berjalan maju beberapa langkah.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Panglima.
"Kesembuhan total bagi kami!!! Tidak ada lagi wabah dan penderitaan!!" Kata salah seorang lain dari pendemo.
"Dengarkan aku, kalian pasti sudah mendengar bahwa Putra Mahkota mempertaruhkan nyawa demi mencari sebilah pedang pusaka bernama Kemukus." Panglima berjalan dari kiri ke kanan memastikan setiap rakyat mendengar ucapannya.
"Ya!!!!" jawab rakyat.
"Bukankah dia gagal??" Tanya salah satu rakyat yang membawa tas kain berisikan umbi-umbian.
__ADS_1
"Tidak, dia tidak gagal." Kata Panglima.
Candrasa yang baru sampai di bawah berdiri disebelah Raja, sedangkan Raja Jira II menatap putranya dengan cemas.
"Kau sudah membaik?" tanyanya dengan khawatir.
Candrasa mengangguk, "Sudah Ayah."
Pria itu berbohong demi terlihat baik-baik saja didepan rakyatnya. Candrasa dan Raja sedang memperhatikan Panglima mereka.
Raja yakin, Panglima akan mengurusnya dengan baik seperti sebelum-sebelumnya. Panglima Doha berjalan lagi dari arah kanan ke kiri.
"Putra Mahkota kita tidak gagal." Panglima Doha mengarahkan lengannya ke Candrasa. Agar rakyat beralih pandangan ke Putra Mahkota mereka.
"Dia pasti akan menemukan Pedang itu, benar bukan Pangeran?" Panglima Doha menatap Candrasa dan menunggu jawabannya.
Raja Jira II yang mendengar itu, menatap Candrasa lekat agar Putranya itu tidak mengiyakan omongan Panglima. Baru kali ini, panglima mengatakan hal yang tidak di setujui Raja.
Candrasa mengangguk pelan, dia berjalan mendekat ke arah rakyatnya, kini dia dikelilingi orang-orang itu.
"Panglima Doha benar! Aku pasti akan menemukan pedang itu. Dan menghilangkan wabah dari Amarata." Kata Candrasa, dia merasa energinya berputar semakin cepat.
"Aku berjanji, akan menjadikan hidup kalian lebih mudah dengan pedang itu. Walaupun harus kupertaruhkan nyawaku, aku pasti akan berusaha mendapatkan pedang itu." Candrasa nenaruh harapan besar pada rakyatnya,
Setelah ini, tidak ada lagi kata yang bisa dia tarik. Dia akan mengabdikan hidupnya demi mencari pedang itu.
Raja Jira II menunduk, dia merasa sedih. Keputusan besar yang Candrasa buat bisa saja menyakitinya seperti kemarin. Candrasa masih menatap rakyatnya.
"Aku harap kalian bisa lebih bersabar, aku adalah penerus dari kerajaan ini. Jika aku tidak memenuhi janjiku, kalian bisa melakukan apa saja padaku, Tapi untuk saat ini, berikan aku waktu agar aku bisa mempersiapkan pencarian pedang dengan matang." Kata Candrasa, matanya berkaca-kaca. Belum sembuh luka ditubuhnya, belum pulih energinya.
Dia sudah harus merencanakan pencarian pedang itu lagi, segala harap ada padanya. Semua rakyat terharu dengan ucapan Candrasa sehingga mereka bertepuk tangan.
"HIDUP PUTRA MAHKOTA !!!" Kata salah seorang rakyat yang diikuti yang lainnya.
Candrasa menunduk sambil tersenyum, dia tidak memikirkan bahaya apa lagi yang menantinya didepan sana. Yang terpenting baginya adalah kesejahteraan rakyatnya.
...****************...
...****************...
__ADS_1