CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]

CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.


__ADS_3

Hanada mengurung diri dikamarnya, dia menangis sampai terisak. Dia merasa kesal, karena pernikahan ini tidak dengan persetujuannya.


Dia dan sepupunya memang akrab, tapi... Untuk menjadi sepasang suami istri itu hal yang mustahil bagi Hanada. Hanada menghela nafas panjang, lalu menyeka air matanya.


Ibu suri yang tidak lain adalah neneknya datang ke kamar Hanada, wanita tua ini berjalan ke depan pintu kamar yang dijaga oleh dua pengawal.


"Kalian membuatku tidak nyaman, cepat pergi!!" Neneknya menyuruh para penjaga itu pergi.


"Tuan Putri," Kata wanita tua yang badannya mulai membungkuk itu.


Hanada tahu suara siapa yang ada dibalik pintu kamarnya, dia berjalan lalu membukakan pintu itu.


"Tuan Putri menangis? Aku membawakan minuman segar kesukaanmu. Minumlah nak," Wanita itu tersenyum sambil menaruh nampan berisi semangkuk minuman segar.


Hanada tersenyum tipis, dia langsung mengangkat mangkuk itu dan meminumnya. Rasanya manis, makanan dan minuman manis memang efektif untuk membuat suasana hati membaik.


Slurrrrp


Hanada meminum nya lagi, "hmmm enak sekali nek, aku rindu sekali minuman buatan nenek ini."


Nenek itu mengelus punggung Hanada, dia menghela nafas panjang. Dia tahu betul bahwa keinginan Putri Hanada adalah menjadi seorang ksatria. Tapi peraturan kerajaan yang memberatkan Hanada tidak bisa dirubah.


"Hanada, ikutilah apa kata hatimu." Kata nenek itu sambil tersenyum.


Hanada menoleh dan melihat neneknya dengan seksama. Menurut Hanada, benar apa yang dikatakan neneknya. Ini adalah hidupnya, dia


bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


Hanada mengganti sepatunya dengan sepatu boots kain panjang yang biasa dipakai untuk bertarung. Dengan berani, Hanada akan menghadiri acara itu, dia tidak akan gentar hanya karena perjodohannya.


Neneknya yang menyaksikan Hanada, terlihat bangga pada gadis itu. Hanada menatap neneknya, dia memutarkan badannya.


Hanada meraih sebuah peti besar dibawah tempat tidurnya, itu adalah peralatan latihan memanahnya. Juga, sebuah busur peninggalan ibu Ratu.


Hanada mengeluarkan busur itu, "Sudah saatnya kau menggunakan itu Hanada. Nenek percaya kau mampu melindungi kerajaan kita." Kata neneknya.


Hanada meraih busur yang kedua ujungnya bisa dijadikan pedang.



(Gambaran busur : Kedua sisi bisa dijadikan pedang, dengan cara memutar pertengahan busur).

__ADS_1


Dia menaruhnya lagi, karena sebentar lagi para tamu akan hadir. Seorang dayang mengetuk pintu kamar Hanada tiga kali.


"Tuan Putri, Raja mengharapkanmu segera datang ke ruang jamuan kerajaaan." Kata dayang tadi dibalik pintu.


Neneknya menoleh ke arah Hanada, Hanada mendorong lagi peti itu ke bawah tempat tidurnya.


"Mari, kita ke jamuan." Kata Neneknya yang berjalan lebih dulu dari Hanada.


Hanada dengan percaya diri memakai sepatu bertarung nya. memang tertutup oleh gaun cantik yang ia kenakan.


Mereka berjalan melewati beberapa penjaga, sesampainya diruang jamuan. Dilihatnya Kerajaan Brahma sudah datang dan duduk disana.


Raja Nahda merasa tidak enak pada adik ipar sekaligus yang akan menjadi besannya itu. Sekedar informasi, Isa adalah anak kedua dari pasangan Raja Ratu Kerajaan Brahma. Anak pertamanya Rama sedang menjalani pelatihan untuk menjadi seorang Raja.


Hanada, menekuk lutut nya sedikit sambil mencubit sedikit gaunnya keatas, dia memberi hormat pada semua tamu yang hadir. Lalu duduk disamping ayahnya berhadapan dengan bibinya, Ratu Naira.


"Hanada, kau sangat cantik." Kata Ratu itu.


"Terimakasih, Ratu." Hanada tersenyum canggung.


*


*


Kerajaan Amarata....


Candrasa masih berdiri dihadapan rakyatnya yang sedang memberi salam padanya, kemudian pria itu menoleh ke arah ayahnya dibelakang dan berjalan mendekat.


Candrasa tahu, ayahnya pasti terkejut dengan semua ucapannya. Tapi, sesuai tekadnya , dia tetap akan mencari Pedang Kemukus sampai ia dapat.


"Candrasa! Kau tidak serius kan nak?" Raja Jira II memegang kedua tangan Candrasa.


"Aku harus melakukannya ayah, demi rakyat kita." Kata Candrasa, Panglima perang Doha muncul dibelakang Candrasa.


Dia mencoba berbicara pada Raja Jira II,


"Yang Mulia, maafkan aku karena telah berbicara seperti itu. Tapi, aku yakin Pangeran Candrasa mengerti apa maksud dari yang kusampaikan."


Candrasa mengangguk lalu menoleh ka arah ayahnya,


"Benar yang dikatakan Panglima Doha ayah, hanya itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin membuat rakyat kita kecewa terhadapku." Candrasa meyakinkan Raja Jira II.

__ADS_1


Raja Jira II kecewa dengan keputusan itu, dia pergi berjalan meninggalkan Candrasa dan yang lain. Tapi panglima langsung mengikutinya dari belakang. Begitupun Air dan Candrasa.


Sedangkan, para prajurit tadi kembali ke tempat mereka berjaga masing-masing.


Raja Jira II hanya khawatir pada Candrasa, setelah apa yang terjadi pada anak itu, sekarang dia malah ingin pergi mencari Kemukus lagi.


Hanya Candrasa yang tahu bahwa Pedang itu sudah tidak ada pada Iblis bayangan, untuk saat ini Candrasa belum bisa meminta restu dari ayahnya. Melihat responnya yang negatif, Candrasa tahu bahwa ayahnya itu sangat khawatir terhadapnya.


Dia juga tidak ingin mengecewakan Raja Jira II, sekarang dia hanya akan fokus pada pemulihan dirinya, sampai dia benar-benar siap untuk mencari pedang itu lagi.


Candrasa merasakan sakit dibagian perutnya, dia agak meringis dan membungkuk. Air yang berada disampingnya dengan sigap membantu.


"ck... Kau belum pulih seutuhnya tapi sudah membuat janji seperti itu." Air agak kesal pada Candrasa, dia berharap semoga Candrasa tidak membuat keputusan dengan ceroboh lagi.


Air mengantar Candrasa ke kamarnya, pria itu melihat Air lalu berniat menceritakan semua yang dia alami pada pria itu. Sebelumnya, dia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang menguping.


Candrasa dan Air masuk ke kamar pria itu,


"Air aku ingin membicarakan sesuatu." Candrasa berjalan lebih dulu.


"Apa?" Tanya Air, sebenarnya dia sudah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya pria itu alami. Tapi Air tidak ingin bertanya sebelum sahabatnya sendiri yang menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Air duduk di kursi menghadap ke ranjang Candrasa, sedangkan Candrasa duduk dan menaikan kakinya ke atas ranjang. Serta bersandar disana.


"Air, Pedang Kemukus sudah tak ada pada iblis bayangan lagi," Candrasa menatap Air, kini pria itu membelalak sedikit tidak percaya pada omongan sahabatnya.


"Kau yakin? Dari mana kau tahu?" Tanya Air dengan penasaran.


Candrasa menghela nafasnya panjang, dia mengingat semua kejadian yang dia alami.


"Air, pada saat aku sampai di perbatasan Laut dan Hutan Terlarang. Aku berisitirahat disana sejenak. Tapi, betapa terkejutnya aku saat aku bangun disebuah Istana Megah." Candrasa dengan penuh keyakinan berbicara pada Air, dia yakin semua itu nyata dan bukan khayalan semata.


"Lalu? Dimana kau selama ini?" Air mengernyitkan dahinya.


"Aku berada di alam Ghaib, seperti yang kita tahu bahwa kerajaan iblis itu tak kasat mata. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menembus sampai kesana, aku lalu dibawa oleh tiga orang pria berbadan besar. Mereka menyeretku dan membawaku pada seorang Raja." Candrasa menatap Air.


Air yakin, sahabatnya itu tidak berbohong. Candrasa bukanlah tipikal orang yang suka berbohong. Bahkan dia adalah orang yang paling disiplin dan taat pada peraturan.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2