![CANDRASA [MENCARI PEDANG PUSAKA]](https://asset.asean.biz.id/candrasa--mencari-pedang-pusaka-.webp)
"Kau mencari Hanada?" Tanya Guru Wija sambil tersenyum, dia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir yang sudah tersedia untuk keduanya.
"Tidak Guru." Candrasa berbohong, Gurunya tertawa kecil. Dia tahu Candrasa mengelak, tapi karena tidak ingin membuatnya canggung, Guru Wija mengalihkan pada hal lain.
"Ada apa muridku? Ada yang ingin kau tanyakan?" Guru Wija menatap Candrasa dengan seksama.
Air yang merasa mungkin percakapan mereka akan bersifat pribadi merasa tidak nyaman, dia kemudian meminta izin untuk keluar dari sana.
"Kurasa, aku harus keluar melihat keadaan murid-murid yang baru masuk ke Akademi." Air berdiri sambil tersenyum canggung.
Guru Wija mengangguk tersenyum, begitupun Candrasa.
Setelah Air keluar dari ruangan itu, Candrasa dan Guru Wija mulai mengobrol.
"Guru, Pedang Kemukus sudah tidak ada pada Raja itu." Candrasa menatap gurunya dengan wajah serius.
"Siapa Raja itu?" Guru Wija bertanya pada Candrasa, dia tahu yang Candrasa maksud.
"Raja Iblis Bayangan." Candrasa menghela nafas, dia mengumpulkan segala keberaniannya untuk menjelaskan hal itu pada Guru Wija.
Guru Wija menghela nafas sambil mengangguk-angguk, dia paham. Berarti sekarang Candrasa harus mencari pedang itu lagi. Pedang yang dia tidak tahu dimana keberadaannya.
Guru Wija meminta Candrasa untuk meminum teh yang sudah dia tuangkan, anak itu pun langsung menenggaknya. Ada beberapa hal yang Candrasa tidak sampaikan ke gurunya itu.
"Terimakasih atas teh nya guru," Candrasa mengatupkan mulutnya sambil tersenyum tipis.
Guru Wija mengangguk lagi, dia sedari tadi memperhatikan cahaya samar yang keluar dari tubuh Candrasa. Dia merasakan energi lain di tubuh pria itu.
Tapi, Guru Wija tidak akan bertanya sampai anak itulah yang berbicara padanya.
"Guru, Apakah aku boleh pergi menemui Hanada?" Candrasa terlihat gelagapan. mungkin dia sangat gugup. Guru Wija tertawa kecil, dia kemudian meminum teh didepannya lagi.
"Tentu, boleh." Kata Guru Wija sambil tersenyum.
"Apa kau yakin? Akan mencari pedang itu lagi?" Guru Wija menatap Candrasa, menunggu jawaban pria itu. Apakah benar tekadnya sudah sebulat saat pertama kali dia mencarinya?
Candrasa mengangguk, " Aku sangat yakin Guru, aku sudah berjanji pada rakyatku. Tapi sebelum itu, aku harus memulihkan tenagaku terlebih dahulu. Dan aku harus menemui Hanada untuk menggali informasi mengenai pedang kecil yang dia berikan."
Candrasa masih duduk dikursi depan Guru Wija, pria itu fokus menatap gurunya. Tidak lama, terdengar riuh orang-orang di luar. Guru Wija dan Candrasa saling bertukar tatap.
Mereka segera bergegas keluar dengan berjalan cepat, Air berlari menghampiri Guru Wija dan Candrasa, mereka berpapasan di teras panjang menuju ke Pusat Akademi.
__ADS_1
"Guru, ada pasukan iblis bayangan menyerang." Kata Air sambil ngos-ngosan.
Tanpa berkata apa-apa Guru Wija langsung berjalan ke arah dimana iblis itu menyerang. Tapi dia tetap tenang, karena dia yakin iblis itu tidak akan mampu menerobos tabir yang Candrasa perkuat.
Terlebih, Candrasa ada disana. Candrasa dan Air berjalan mengikuti Guru Wija. Sesampainya disana ada lebih 6 iblis yang sedang mencoba menerobos masuk ke Akademi.
Mereka membenturkan tubuh mereka ke tabir penghalau, Candrasa dan yang lainnya menyaksikan itu dari dalam Akademi. Saat para Iblis melihat Candrasa mereka mencoba masuk lebih keras.
Melihat Tabir itu tidak bisa hancur para iblis itu beralih mengganggu orang-orang diluar Akademi. Candrasa menunggu perintah dari Guru Wija.
"Guru? Bagaimana ini?" Tanya Candrasa dengan raut wajah yang agak panik.
Guru Wija melihat sinar ditubuh Candrasa semakin terang, kemungkinan itu ada kaitannya dengan pasukan Iblis itu.
"Hadapilah, Candrasa!" Guru Wija meminta Candrasa menghadapi para iblis bayangan itu tanpa dibantu siapapun. Dia yakin, sinar terang itu punya kekuatan besar.
"Baik Guru," Candrasa mengangguk, Air menatap Guru Wija dengan membelalak seolah mengatakan 'Candrasa belum pulih sempurna' .
"Aku akan menemaninya." Kata Air, tapi dihadang oleh Guru Wija. Guru Wija menggeleng ke arah Air. Dia meminta Air mempercayakannya pada Candrasa.
Candrasa pun berjalan keluar dari Akademi sihir yang dilindungi Tabir itu. Semua orang mendekat ke arah tabir untuk menyaksikan Candrasa dan para iblis.
Candrasa mundur selangkah, Iblis itu seperti terkejut melihat sinar yang keluar dari tubuh Candrasa semakin terang. Mereka ragu untuk menyerang pemuda itu.
(dibawah berikut adalah ilustrasi gambar).
Para Iblis mulai menyerang Candrasa, disisi lain semua orang didalam Akademi hanya memperhatikan. Bagaimana jika Raja Jira II tahu soal ini? Akanlah Raja Jira II marah? Kemungkinan besar, iya.
Candrasa belum pulih seutuhnya, tapi diantara mereka tidak ada yang berani untuk keluar melawan Iblis bayangan itu. Sedangkan, Guru Wija sedang memperhatikan sinar apa yang sebenarnya muncul dari tubuh Candrasa.
Dia dengan seksama memperhatikan setiap gerakkan Candrasa, Air dengan wajah bingung merasa tidak bisa jika dia harus berdiam diri, melihat Candrasa melawan iblis-iblis itu. Air dengan diam-diam keluar menembus tabir pelindung.
Candrasa memutar sambil mengayunkan pedangnya sekali, pedangnya semakin bersinar. Dia berhasil menebas satu tangan iblis bayangan dan iblis itu seketika menjadi abu.
Sialnya, salah satu iblis menemukan cara yang ampuh untuk membalas Candrasa dan untuk melindungi dirinya. Yaitu dengan merasuki tubuh salah seorang manusia di Akademi. Iblis itu melihat Air yang keluar secara diam-diam. Karena Air belum mencapai sihir tingkat tinggi, jiwanya masih belum sekuat Candrasa.
Suasana menjadi semakin tegang, Candrasa pun membelalak saat melihat Air berubah menjadi ganas dan menatapnya tajam. Air langsung mengayunkan pedang yang di alirkan energi ke arah Candrasa.
Candrasa pun mulai ke walahan, dia mundur beberapa langkah. Guru Wija tahu kondisi sudah semakin runyam. Candrasa tidak bisa mengayunkan pedangnya ke arah Air, tapi Air yang kerasukan iblis bayangan itu tidak segan-segan mengayunkan pedang pada Putra Mahkota.
__ADS_1
Guru Wija pun keluar dari tabir itu, dan dengan sekali ayunan tangan, Iblis yang merasuki Air pun terhempas keluar dari tubuh itu. Air pun terpelanting agak jauh karena kekuatan dalam Guru Wija.
Candrasa dengan sigap menombakan pedangnya ke arah iblis yang terhempas dan brushshh Iblis itu berubah menjadi butiran debu hitam.
Sedangkan Air terlihat tidak sadarkan diri.
"Airrrr" Kata Candrasa cemas. Tapi ke empat iblisa bayangan masih ingin menyerangnya dan Guru Wija. Dengan terpaksa mereka harus menyelesaikan pertarungan ini dahulu.
Satu pedang Candrasa menancap di tanah, dia mundur sejajar dengan Guru Wija, dengan satu pedang nya dia menatap Guru Wija. Candrasa mengalirkan energi lebih banyak ke pedangnya.
"Kau siap?" Tanya pria tua itu, Candrasa pun mengangguk dan bersiap demgan posisinya.
Guru Wija membuat sebuah bola yang diisi energi, dia melempar bola itu ke arah Candrasa. Dengan cepat Candrasa menebas Bola itu menggunakan pedangnya sehingga berhamburan terlempar ke arah 4 iblis yang tersisa.
Dan Bruhshhhh ke empat iblis yang tersisa berubah menjadi debu. Candrasa menatap Guru Wija dengan senyuman merekah di bibirnya. Begitupun Guru Wija, menepuk pundak Candrasa dengan bangga.
Candrasa yang cemas pada Air langsung berlari menghampiri nya, Air kemudian tersadar lalu memgang perutnya dengan lemas. Guru Wija pun menghampiri pria itu.
"Sudah kubilang.." Kata Guru Wija, Air tertawa kecil.
"Maafkan aku guru," Ucap Air Mahendra.
"Kau luar biasa, Candrasa." kata Guru Wija pada Candrasa yang membantu Air berdiri. Guru Wija lalu berjalan membantu mengambilkan pedang Candrasa yang tertancap di tanah.
Seperti biasa, Candrasa si Putra Mahkota menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka bertepuk tangan dengan bangga pada Candrasa. Air yang ada di sampingnya hanya menatap Candrasa datar. Dia agak iri dengan kemampuan yang dimiliki pria itu.
Tapi, itu tidak menutupi rasa bangganya pada sahabatnya, Candrasa.
*
*
KERAJAAN BRAHMA....
Ratu Naira mengumpulkan para petinggi, dengan bantuam kekuasan suaminya Raja Brahma III , Ratu Naira berencana menyerang Nahdara malam ini.
Isa yang awalnya menolak usul ibunya, tiba-tiba saja menyetujuonya dengan syarat, Hanada harus dipaksa menikah dengannya. Kalau perlu, mereka menculik Hanada dan mengurungnya.
Ratu Naira setuju, bagaimana pun Kerajaan itu sudah mempermalukan Kerajaan Brahma dan Hanada harus membayar nya mahal.
...****************...
__ADS_1
...****************...