Cerita Inneke

Cerita Inneke
Eps.22


__ADS_3

Ilham yang berada 1 mobil dengan jenazah kedua orangtuanya itu pun masih menangis, ia belum bisa menerima semua kenyataan yang menimpa kedua orang tuanya.


Karena kesibukkannya, ia sudah hampir 1 minggu tidak menghubungi kedua orang tuanya itu, ia merasakan sangat kehilangan sosok Ayah dan Ibunya yang sudah merawat dan membesarkannya.


Air matanya masih terus mengalir begitu deras, ia tidak bisa membendung rasa kesedihannya itu. Karena rasa sedihnya itu sehingga ia lupa memberi kabar kepada adik-adiknya.


Dua jam selama diperjalanan, mobil ambulan pun tiba dirumah duka.


Ilham buru-buru menghapus air matanya, ia tidak ingin terlihat sedih.


Ilham yang berada dalam mobil itu pun segera turun.


Inneke yang kebetulan membuka pintu itu pun kaget dengan kedatangan ambulan kerumahnya karena menurutnya tidak ada anggota keluarganya yang sakit.


Ia melihat kakak sulungnya menuruni kendaraan itu.


"Assalamualaikum" ucap Ilham


"Walaikumsallam" jawab Inneke seraya mencium tangan kakaknya. "Kak, siapa yang meninggal, kok ada ambulan jenazah" tanyanya


Ilham tidak menjawab pertanyaan adik perempuan satu-satunya itu.


Diruang keluarga, Irwan dan istri beserta kedua adiknya pun menuju pintu karena mendengar suara yang sangat mereka kenali.


"Siapa neng?" tanya Ayu kakak iparnya


Ketika melihat siapa yang datang mereka kaget sama seperti Inneke dengan kedatangan Ilham beserta ambulan jenazah.


Irwan dan istri memasang wajah penuh tanya dengan kedatangan ambulan itu karena yang mereka tau beberapa waktu yang lalu ketika mereka dikabari bahwa kedua orang tua mereka hanya kecelakaan biasa.


Lalu petugas dari pihak rumah sakit datang menghampiri ilham


"Pak jenazahnya sudah siap diturunkan" ucap petugas itu


"Oh iya silahkan dibawa masuk" balas Ilham

__ADS_1


Ilham yang melihat adik-adiknya masih berdiri mematung didepan pintu, ia pun berucap


"apa kakak tidak diperbolehkan masuk?"


Mereka yang sedari tadi berdiri didepan pintu itu pun mempersilahkan sang kakak masuk dan mengekori dibelakangnya dengan pemikiran yang masih sama.


Dua jenazah pun sudah diletakan diruangan tamu dan ditutupi kain pada masing-masing jenazah itu


"Kak, ini siapa?" tanya Inneke.


Ilham sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia duduk disamping kedua jenazah itu lalu perlahan ia membuka kain penutupnya.


Betapa syok nya keempat adiknya itu yang melihat kedua jenazah itu ternyata orangtua mereka.


"Ayah... Hiks.. Hiks.. Hiks... " ucap Irwan menangis lalu memeluk tubuh Ayahnya yang sudah dingin.


Indra dan Ipan pun ikut menangis disamping tubuh ayah dan ibunya yang sudah terbujur kaku itu


"Ayah.. Ibu.. jangan tinggalkan kami. Hiks Hiks Hiks.." ucap keduanya


Ayu yang berada disampingnya itu pun sontak membantunya tapi ia tidak bisa manahan lama tubuh adik iparnya itu.


"Mas, mas tolong bantuin" ucap Ayu memegang tubuh Inneke


Ilham yang melihat itu pun seketika beranjak dan langsung membantu Inneke


Ia membopong tubuh adiknya itu keruangan keluarga. Ayu pun ikut mengekori kedua iparnya itu


"Coba cari minyak angin" perintah Ilham pada ayu


"Ini kak" ucap ayu menyerahkan minyak tangin pada Ilham.


Ilham segera mengusapkan minyak angin itu pada tubuh adiknya.


Setelah 10 menit pingsan, Inneke pun sadarkan diri. Ia mulai membuka matanya perlahan-lahan dan mendapati Ilham kakak sulungnya berada disampingnya dengan menggenggam salah satu tangannya.

__ADS_1


"Syukurlah neng sudah sadarkan diri" ucap Ilham yang terlihat cemas


"Kak apa yang terjadi?" tanya Inneke


"Neng tenang dulu ya, ini diminum dulu" balas Ilham memberikan segelas air putih


Inneke bangun dari berbaringnya dan meneguk air putih yang diberikan kakaknya itu.


Ia melihat rumahnya banyak orang yang berpakaian hitam dan terdengar suara beberapa orang yang sedang mengaji.


"Neng, disini aja ya sama kakak" ucap Ilham menahan Inneke yang hendak beranjak dari duduknya.


"Kak, apa yang sedang terjadi? Hiks.. hiks.. hiks.. " tanya Inneke mulai menangis


"Neng tenangkan diri dulu ya" ucap Ilham memeluk adiknya


Inneke menangis sejadi-jadinya dipelukan sang kakak.


Ilham dengan eratnya memeluk sang adik, ia pun ikut bersedih tapi ia harus kuat untuk memberi semangat pada adik-adiknya.


Setelah ngerasa adiknya itu sudah mulai tenang, Ilham pun mencoba menceritakan kabar duka itu.


Inneke yang masih berada dipelukan sang kakaknya itu pun menangis kembali mendengar penjelasan kakaknya.


"Neng yang sabar ya. Neng juga harus kuat" ucap Ilham mengusap puncak kepala adiknya


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan Like !


Terima kasih sudah mampir di Cerita Inneke

__ADS_1


__ADS_2